By | 7 April 2020

Oleh : Ibnu Mas’ud

Meningkatnya jumlah korban corona virus disease (Covid-19), khususnya di Provinsi Banten, sebagai rakyat kecil saya coba untuk menakar beberapa hal yang sudah dilakukan pemerintah daerah lainnya.

Ada yang melakukan ada yang melakukan Rapid Test dalam skala satu Provinsi, lalu ada yang melakukan Lockdown secara luas di Kabupaten/Kota. Kemudian juga ada yang melakukan Lockdown secara sempit oleh beberapa kampung/desa, hingga RT/RW.

Saya Mencoba melihat sebagai masyarakat kecil yang hari ini dibenturkan dalam keadaan serba terhimpit oleh Pandemi, Kemudian saya bertanya-tanya sebagai rakyat kecil “Kemana Pemimpin saya? Lalu apa yang telah beliau lakukan dalam menghadapi pandemic ini?

Kembali pada pertanyaan sebelumnya. Apa yang sudah dilakukan Wahidin Halim dalam Keadaan Luar Biasa Pandemi Covid-19 di Banten. Beberapa minggu yang lalu saya lihat WH sedang mengumumkan valid nya warga Banten terinfeksi virus Corona melalui akun Instagram miliknya yang seharusnya dilakukan oleh pemerintah pusat melalui tim gugus tugas Covid-19 yang dilakukan setiap hari di televisi.

Apakah itu merupakan kepanikan seorang Gubernur Banten?

Saya rasa itu bukan, akan tetapi yang telah dilakukan oleh Gubernur Banten jauh dari kata panik namun bersifat Paradoks sehingga WH melakukan kesalahan yang dilakukannya secara sadar.

Saya sebagai rakyat yang sudah pusing karena melihat tidak adanya kejelasan terkait bagaimana mencegah bertambahnya warga Banten yang terinfeksi, WH seharusnya tidak terjebak dalam hal-hal yang kontradiksi, semisalnya WH terus menambah jumlah Rumah Sakit Rujukan dan melakukan penyemprotan disinfektan namun tidak melakukan Rapid Test atau tes massal agar dapat melacak penyebaran virus dan menekan angka masyarakat yang terinfeksi.
 
Apa mungkin Pemimpin di Banten ini lupa jikalau virus tersebut juga bisa menyebar dari satu manusia kepada manusia lainnya. Semoga tidak. Kemudian WH juga bisa melakukan adopsi kebijakan yang telah dilakukan oleh beberapa pemerintah daerah lainnya yang sudah melakukan tindakan yg jelas dalam menangkal penyebaran virus Covid-19 ini.

Baca Juga:  Jangan Remehkan Virus Corona !

Karena mencengangkan bisa saya katakan, pada tanggal 1 April 2020 lalu, Provinsi Banten memiliki Pasien Dalam Pengawasan (PDP) sebanyak 384 orang dan korban meninggal sebanyak 20 orang dari total data PDP yang diumumkan melalui laman resmi info corona Provinsi Banten tersebut tak hanya cukup sampai disitu.

Melihat letak provinsi Banten berdampingan dengan DKI Jakarta yang memiliki korban terbesar di Indonesia, dan tidak bisa dipungkiri hal tersebut  memungkinkan akan asa jumlah lonjakan yang besar jika orang nomor satu di Banten terjebak dalam kebijakan yang Paradoks secara terus menerus

Bagaimana tanggapan anda kerabat patron yang budiman?

Penulis adalah mahasiswa aktif universitas sultan ageng tirtayasa saat ini menjabat sebagai ketua Badan Eksekutif Mahasiswa atau lebih familiar disebut presiden mahasiswa.

Bagikan: