By | 27 Maret 2020

Oleh : Agung Setia Budi

Pada 23 september 2020 Indonesia akan melakukan pesta demokrasi yakni Pemilihan Kepala Daerah (PILKADA) di 271 daerah, yakni 9 provinsi, 224 kabupaten dan 37 kota.

Pemilihan Kepala Daerah merupakan demokrasi yang harus dilakukan karena untuk mentranformasikan generasi pemimpin, Dalam hal ini masyarakat penting sekali untuk menentukan pilihan dalam pemilihan tersebut, karena satu suara sangat berpengaruh.

Pada momentum Pilkada ini tentunya upaya untuk meraih suara masyarakat sangatlah penting bagi keberlangsungan demokrasi, berbagai tim kemenangan tentunya berlomba-lomba untuk merebut suara.

kita juga akan menghadapi masa kampanye dimana setiap masa kampanye PILKADA para calon wakil rakyat akan menebar janji agar bisa dipercayai oleh rakyat sehingga rakyat akan memilih pada pemilihan nanti,

misalnya sebut saja janji yang dilontarkan oleh calon wakil rakyat mengenai pemberantasan Korupsi Kolisi dan Nepotisme (KKN), Pembangunan insfrastruktur, serta berbagai program yang mensejahterakan rakyat.

Selain itu para calon wakil rakyat pun mendekati rakyat entah dengan metode mengumpulkan masyarakat di tempat yang telah disediakan oleh calon wakil rakyat, ataupun secara belusukan untuk memberikan santunan, pelayanan, bakti sosial yang tujuannya untuk cari simpatik masyarakat agar memilihnya.

Cara cara tersebut sebetulnya sudah tak asing lagi dalam pesta demokrasi. Terlepas siapapun yang nantinya akan memenangkan PILKADA ini, tentunya harus kita catat bahwa seberapa banyak janji-janji yang telah dilontarkan oleh para wakil rakyat yang bersaing dan kita harus mengawal sampai dengan satu periode ke depan, dan berhak untuk menanyakan janji tersebut kepada calon wakil rakyat yang terpilih.

Baca Juga:  Papua dan Kita Semua Sama-Sama Binatang

Dalam perjalanan masa kepimimpinan mungkin akan membuat sebagian rakyat lupa akan janji politisi yang mereka pilih, justru calon wakil rakyat itulah yang lebih ingat dan tahu pada janji-janji yang pernah disampaikan kepada rakyat.

Bila sejak awal orang berjanji demi kepentingan pribadinya maka janji yang disampaikan selama kampanye pemilu adalah sekedar permainan kata-kata atau pengolahan kesan untuk sekedar menarik simpati orang banyak, tanpa benar benar dilandasi dengan niat yang tulus untuk mewujudkan janji janji tersebut (dedy : 2013)

Jika janji seorang politisi hanya sekedar bersandiwara ketika masa kampanye nya, maka pasti akan sulit untuk mewujudkan janji-janjinya, dan bahkan kemungkinan ia akan berdalih ketika melakukan kesalahan dalam perjanjian,

oleh karena itu kita sebagai masyarakat yang nantinya akan mendengarkan janji calon wakil rakyat harus bisa mencerna serta menelaah terhadap janji yang telah disampaikan, dan sebetulnya rakyat tidak butuh yang namanya janji, yang dibutuhkan itu amanah ketika seorang terpilih menjadi wakil rakyat dan bisa berjuang untuk kemajuan daerahnya bukan janji yang diobral.

Dan akhirnya penulis berharap kepada para calon wakil rakyat semoga bisa memenuhi janji janjinya dan bisa menjalankan amanahnya dengan baik.

Bagaimana tanggapan anda kerabat patron yang budiman?

Penulis merupakan Pemuda Kampung Limus Bueuk, Desa Suka Indah Kecamatan Baros, Kabupaten Serang, Provinsi Banten, Saat ini sedang melanjutkan pendidikan pasca sarjana.

Bagikan: