By | 27 Desember 2019

Oleh : Aldi Madagi

Selamat malam, Hari ini hujan tak henti menyapa ku, Bulan Desember cenderung terkenal dengan Air yang turun dari atas awan, tak usah perdulikan jadwal musim penghujan di Negeri ini, tapi aku yakini tetesnya mulai terasa di Bulan Desember, apa lagi bulan Desember 2019 ini.

Desember 2019 Bulan yang penuh dengan hari-hari di mana kesibukan menunjukan jalannya, Ya, menurut ku bulan ini, Bulan yang sangat sibuk diantara Bulan lainnya , Mungkin kalian merasakaan saat mencari jam untuk beraktifitas karena terhalau hujan, Kesibukan mencari Ruang untuk bertemu kawan saat Libur Sekolah, Kesibukan mencari momen yang pas untuk berkarya saat Deadline tugas akhir kuliah harus terselesaikan, Kesibukan Fitting Baju pengantin, Kesibukan mencari uang kelak bisa liburan saat tahun berganti dan masih banyak kesibukan lainnya.

Memang Desember sama saja seperti bulan lainnya tetapi hirup pikuk belenggu Duniawi selalu dimulai saat Desember, menurut ku. Entah mungkin kelak untuk mempersiapkan Resolusi tahun yang akan datang atau memang hanya terbawa arus jaman , tapi penilaian ku untuk bulan Desember 2019 ini adalah bulan yang sangat menguras tenaga, Kaum pekerja mengatakan bulannya tutup buku harus kerja ekstra agar Instansi tetap berjalan ditahun berikutnya, Kaum Ibu-ibu sosialita mengatakan Bulannya Diskon besar-besaran lantaran cuci gudang akhir tahun disetiap Mall atau pusat perbelanjaan, Kaum politisi mengatakan Bulannya mencari ketenangan Pasca Pemilihan Umum (Pemilu) dan segudang candaan manisnya di meja konspirasi, Kaum Agamis mengatakan Bulannya untuk merubah kepribadian kepada yang lebih baik lagi, Ah… sudahlah tak usah perdulikan.

Tetapi apa yang harus disebut melelahkan oleh Aku seorang kaum proletariat, Ya…Proletariat yaitu kasta terrendah menurut ku, Bisnis tidak mungkin, Belanja apalagi, Liburan hanya mimpi, membuat konspirasi ? ya.. mungkin membuat konspirasi untuk ke esokan hari, agar bisa menemukan sesuap nasi.

Baca Juga:  Balada Sipemalas

Menurutku kita bisa melihat barometer Naik atau Turunnya terkait pencapaian hasil dari Resolusi yang kita buat ditahun sebelumnya saat bulan Desember, Tapi kadang manusia sering lupa, ya… contohnya seperti Aku, Walaupun Aku sudah punya Satu Unit Mobil Sedan mewah, Rumah Dua tingkat, Istri Cantik dan Keluarga yang utuh tetapi Aku masih bisa menyebut diri ku sebagai proletariat .

Tapi tunggu dulu semua itu bohong, aku hanya mengajak kalian masuk kedalam dimensi keluarga tetangga ku, yang selalu dalam suka juga tawa, ah… entahlah aku terlalu memutar segalanya, melihat dapur Ibu ngebul saja aku sudah bangga setengah mati, melihat adik bisa sekolah menggunakan sepatu perasaan damai terancam hidup di dalam hati ini dan Bapak yang tidak batuk selama satu hari aku anggap jaminan Keharmonisn sekaligus panjang umur keluarga.

Tapi aku tidak jadi mengatakan bahwa Desember tidak bermakna, Aku akan menegaskan Bahwa Desember bermakna untuk ku, karena Desember bisa merindukan aku kepada Bulan-bulan lainnya, Bulan dimana ekonomi keluarga baik sehingga ibu bisa membuat sayur lodeh di tungkunya, saat ayah tidak Batuk terus menerus dan saat adik bisa santai dipelukan Ibu karena belum cukup umur untuk mengenyam pendidikan serta saat umurku tidak menua yang mengharuskanku membuat Kartu Penduduk dengan proses sangat membosankan, tapi sudahlah itu hanya Bulan-bulan lalu, aku hanya Berdo’a semoga di tahun yang akan datang, setelah hujan, Dewi Irish memberikan Warna untuk pembeda tetapi selalu menyatu Bak pelangi yang Ia buat.

Tentang Penulis

Aldi Madagi, Baru Seumur Jagung dan Rakyat Biasa.

Bagikan: