By | 21 April 2020

Oleh A.Solahuddin

“Satu-satunya hal yang harus kita takuti adalah ketakutan itu sendiri”, ungkap Roosevelt, di hari pelantikannya sebagai presiden Amerika pada 4 Maret 1933 silam.

Roosevelt menebarkan optimisme bisa bangkit dari depresi ekonomi yang mulai terjadi tahun 1929 hingga masa sebelum perang dunia II. Ekonom dan pelaku sejarah menyebut depresi tersebut sebagai kejatuhan ekonomi terbesar dan terpanjang dalam sejarah era industri.

Mengutip dari berbagai rilis media sosial, banyak yang menganggap depresi yang terjadi sebagai bencana ekonomi paling dahsyat pada abad ke-20.

Wabah pandemi covid 19 yang telah menyebar di berbagai belahan dunia, menebar ketakutan global akan terjadinya  resesi ekonomi. Bahkan, Dana Moneter Internasional atau IMF memperingatkan situasinya bakal lebih buruk dari depresi besar (Great Depression) yang terjadi pada 1930-an itu.

The Economist Intelligence Unit (EIU) memprediksi Negara-negara maju dan berkembang yang tergabung dalam G20 akan mengalami resesi pada 2020.

Menurutnya, negara-negara di Eropa termasuk menjadi wilayah yang paling terdampak Covid 19. Jerman (-5%), Prancis (-5%), dan Italia (-7%) akan mengalami resesi sepanjang tahun ini.

Indonesia, menurut Sri Mulyani, cukup terhantam keras dengan penyebaran virus corona. Mengutip dari keterangan persnya pada 01 April 2020, Mentri keuangan itu menjelaskan tidak hanya kesehatan manusia yang terganggu, virus ini juga mengganggu kesehatan ekonomi di seluruh dunia.

Komite Stabilitas Sektor Keuangan (KSSK), kata Sri Mulyani, memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia dalam skenario terburuk bisa minus 0,4 persen.

“Pertumbuhan ekonomi kita berdasarkan assessment yang tadi kita lihat, BI, OJK, LPS, dan kami memperkirakan bahwa pertumbuhan ekonomi akan turun ke 2, 3 persen, bahkan dalam skenarionya yang lebih buruk, bisa mencapai negatif 0,4 persen,” jelas mantan direktur pelaksana Bank Dunia itu.

Saat ini memang tengah dihadapi kenyataan bahwa aktivitas ekonomi mengalami kelumpuhan di berbagai sektor, mulai dari industri tekstil, manufaktur, penerbangan, pariwisata hingga ritel.

Di banyak negara sudah terjadi PHK dalam skala besar akibat anjloknya sektor-sektor strategis dunia kerja dan usaha, tak terkecuali di Indonesia.

Keterangan yang dirilis CNBC Indonesia (17/04), Hingga awal pekan ini, Kementerian Ketenagakerjaan mencatat sudah 2,8 juta pekerja yang dirumahkan dan divonis PHK. Direktur Jenderal Pembinaan Pelatihan dan Produktivitas Kementerian Ketenagakerjaan, Bambang Satrio Lelono, mengatakan jumlah ini akan terus bertambah.

di Banten sendiri jumlah pekerja yang sudah dirumahkan dan di PHK angkanya sudah fantastis.

Gubernur Banten, Wahidin Halim, menuturkan sebanyak 9.500 pekerja di wilayah Banten dirumahkan dan terkena pemutusan hubungan kerja (PHK) karena pandemik virus Corona.

Baca Juga:  Surat Cinta Dari Aku Teruntuk Stigma Melawan Si Covid-19

Seluruh pekerja itu berasal dari sekitar 950 perusahaan yang beroperasi di Banten.

“Yang saya rekam dari Disnaker, sudah ada 950an industri yang merumahkan dan melakukan PHK”, ungkap orang nomor satu di Banten itu dalam keterangan persnya di CNN.

Anjloknya persoalan ekonomi secara makro, menuntut kita untuk meningkatkan aktivitas ekonomi mikro. Dalam kenyataan lumpuhnya aktivitas ekonomi berbagai sektor, ada juga peluang yang bisa dilakukan.

Menurut Honorary Founder of IMA Hermawan Kartajaya, tidak semua sektor bisnis anjlok.

Ada sektor-sektor relevan yang justru bisnisnya membaik. Sebut saja sektor medis dan kesehatan, perdagangan online atau e-commerce, sampai fast moving consumer goods (FMGC) seperti obat-obatan, barang elektronik, produk makanan dan minuman kemasan.

Apalagi produk FMCG yang sangat kuat di offline kini harus beralih distribusinya secara online.

Beberapa produk mulai beradaptasi dengan penjualan via e-commerce, yang ternyata lonjakannya signifikan.

Sejalan dengan hal tersebut, pemerintah provinsi Banten melalui dinas koperasi dan UMKM, sebelum covid 19 melanda di Indonesia kabarnya mendorong Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) untuk meningkatkan promosi produknya melalui pemanfaatan internet atau e-commerce agar lebih dikenal masyarakat luas.

Menurut Tabrani, kepala Dinas Koperasi dan UMKM provinsi Banten, dikutip dari pemberitaan antaranews.com 11 Februari 2020 lalu. Sebanyak 572 UMKM di Provinsi Banten sudah mengikuti pelatihan jualan di toko online atau e-commerce.

Sejauh yang sudah ada, dalam data BPS Provinsi Banten, jumlah usaha mikro yang beromset sampai Rp300 juta pertahun mencapai 823.496 usaha dan mampu menyerap 1.646.992 tenaga kerja.

Sedangkan usaha kecil yang beromset Rp300 juta hingga Rp2,5 miliar per tahun mencapai 153.313 usaha dan mampu menyerap 459.939 tenaga kerja. Sementara usaha menengah yang memiliki omset Rp2,5 miliar hingga Rp5 miliar mencapai 7.309 usaha dan mampu menyerap 43.854 tenaga kerja.

Pada situasi seperti sekarang ini memang pemerintah harus lebih memastikan kegiatan UMKM di Banten tetap stabil dan semakin tumbuh, menciptakan pelaku-pelaku UMKM yang baru melalui afirmasi kebijakan. 

Ditengah peliknya urusan BLT bagi masyarakat terdampak, optimalisasi penggunaan anggaran covid 19 harus juga menyasar pada kegiatan produktifitas masyarakat dan transisi ekonomi pasca corona.  peningkatan UMKM dapat menjadi solusi kekhawatiran kita bersama agar kita bisa mandiri dengan memaksimalkan semua potensi yang ada. Dengan begitu, spirit produktifitas lebih menonjol ketimbang konsumtifitas yang ada.

Berbagi ikan memang penting, tapi lebih penting memberikan kailnya bukan?

Penulis adalah ketua PKC PMII Provinsi Banten

Bagikan: