By | 21 Februari 2020

Oleh : Sirajul Fuad Zis, S.I.Kom

Akhir-akhir ini banyak sekali berita tragedi saling membunuh di media massa dan online, fenomena yang seakan mematikan sifat kemanusiaan. Bahkan jika mengacu kepada Pancasila kedua, jauh dari jalur kamanusiaan yang adil dan beradab.

Fenomena ini sering terjadi di Indonesia, anak membunuh bapak, bapak membunuh anak, Ibu membunuh anak, ka9kak membunuh adik, adik membunuh kakak, paman membunuh kemenakan, ipar membunuh istri, istri membunuh suami, suami membunuh istri, pacar membunuh pasanganya dan nyaris ada yang sampai bunuh diri.

Puluhan orang ingin menyaksikan dengan mata telanjang keadaan korban terkini, kemudian diambil gambar persitiwa terkini. Sehingga membuat redaksi berita versi netizen diakun media sosial pribadinya. Peristiwa ini bukan peristiwa biasa, yang bisa dibawa tertawa lepas saat menyaksikan korban-korban yang dikubur secara tidak layak.

Korban-korban mereka buang di laut, sungai, tempat sampah, kamar kosan, gorong-gorong, kebun dan berbagai tempat lain yang membuat tubuh korban menjadi bangkai kemudian membusuk. Sampai sekarang, masih banyak korban yang bertumbangan karena dibunuh oleh keluarga mereka sendiri.

Peristiwa ini sangat mengkhawatirkan, karena menjadi contoh yang tidak baik dalam kehidupan sosial. Bahkan menjadi tontonan yang tidak layak bagi anak-anak, pemuda (milenial) penerus bangsa saat menyaksikan tragedi di depan rumah korban. Nyarisnya, tragedi saling bunuh tersebut adalah selisih paham sesama saudara kandung, yang seharusnya keluarga menjadi tempat mereka berlindung, tempat berbagi kenyamanan dan kehadiran sesama adalah surga dalam keluarga.

Tentu ada yang salah dalam tragedi ini, kesalahan pada stimulus (aksi) yang diberikan oleh korban dan respons (reaksi) pembunuh melihat rangsangan yang tidak sesuai dengan apa yang diinginkanya. Model tersebut menggambarkan adanya hubungan aksi-reaksi akan menimbulkan perilaku, saat memberikan asi positif maka menghasilkan reaksi positif. Sebaliknya, saat memberikan aksi negatif akan mengasilkan rekasi negatif. Keduanya saling berhubungan satu sama lain dalam komunikasi.

Komunikasi punya peran penting dalam tragedi tersebut, bagaimana komunikasi interpersonal mereka berlangsung sebelum pertumpahan darah. Semua terjadi karena kesalahan komunikasi yang tidak benar dengan melontarkan hal-hal berbau pertikaian.

Kerap cekcok, hubungan tidak harmonis, ketahuan selingkuh, karena tidak dapat membelikan smartphone, ada nada penghinaan, korban berkata kasar kepada pembunuh, merusak reputasi pembunuh di mata orang banyak, masalah harta, kesalahan membuat kalimat dalam media sosial serta segudang motif lainnya hingga pembunuhan berlangsung.

Kita tidak bisa menyalahkan kedua belah pihak, karena mereka memberikan aksi-reaksi demikian pasti ada alasan tersendiri dilatarbelakangi oleh pendidikan, kebudayaan dan karakter. Idealnya, secara sosial menjaga aksi-reaksi dalam berkomunikasi diperlukan kehati-hatian yang mendalam.

Baca Juga:  WH Jangan Melakukan Kebijakan Paradoks

Karenanya, dunia saling bunuh membunuh menjadi tontonan publik yang biasa di tonton. Menjadikan aksi kejam ini, sebagai tiruan oleh orang yang pernah melihat berita, orang yang pernah membaca kronologisnya, orang yang pernah menyaksikan secara langsung saat memiliki masalah yang sama.

Artinya harus ada ilmu yang diberikan kepada anak-anak dari orang tua untuk berperilaku sopan saat menghadapi permasalahan sejak dini. Mereka (orang yang punya permasalahan dan punya niat membunuh) harus sadar, orang yang akan mereka bunuh adalah saudara kandung dan keluarga sedarah.

Kekeliruan berpikir para pembunuh, datang saat mereka tidak terima lagi terhadap reaksi para korban. Lantas mengapa mereka mau melakukan aksi pembunuhan?, apalagi ada kesempatan besar untuk melakukan balas dendam dengan cara keji. Orang yang dahulu disayang, kini habis ditangan mereka sendiri.

Ampun-ampun jika di Indonesia masih sering tragedi saling bunuh seperti ini lima tahun mendatang, maka anak-anak bangsa akan merekam secara sadar lewat jejak media digital dan tayangan televisi, mereka juga ingin mengakhiri permasalahan yang dihadapi dengan cara membunuh atau bunuh diri.

Fenomena ini merupakan tanggungjawab kita bersama, menjadi penyejuk bagi orang-orang yang sedang depresi berat. Bukan malah menjadi bara api yang menyudutkan, mendorong, provokator yang berpotensi menghasilkan tindakan yang keliru.

Hal ini membutuhkan kecapakan berkomunikasi, baik berkomunikasi dengan diri sendiri dan berkomunikasi secara langsung dengan lawan bicara. Sebab sedikit saja ada kesalahan komunikasi, akan menimbulan tragedi saling bunuh lainnya di masa mendatang.

Pihak pemerintah punya peran untuk memberikan edukasi dalam berkomunikasi dalam keluarga, Kantor Urusan Agama (KUA) dan Tokoh Agama juga memiliki peran strategis mengantisipasi terjadinya tragedi saling bunuh.

Agar tidak terjadi kembali hal tersebut, perlu ada sinergi kita bersama menanamkan rasa kemanusiaan kepada masyarakat khususnya Warga Negara Indonesia (WNI). Mungkin kasus yang sudah berlalu, sekedar pengingat bagi kita kedepanya dalam berkomunikasi. Dengan kampanye, menghidupkan kembali rasa kemanusiaan yang sudah lama tertinggal saat kehadiran teknologi. Begitu juga menghasilkan rasa emosional antar sesama manusia dalam berkomunikasi.

Manusia yang besar, manusia yang kuat, tidak membuat negara menjadi kuat. Keluarga kuat, masyarakat kuat, maka negara akan kuat.

Bagaimana tanggapan anda kerabat patron yang budiman?

Penulis merupakan Mahasiswa Pascasarjana Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), Universitas Andalas.

Bagikan: