By | 11 Oktober 2019


Oleh : Ahmad Nuri, S.H.,M.Si

Peristiwa kekerasaan dan teror terus terjadi di Tanah tumpah darah Indonesia. Kemarin baru saja terjadi kekerasan dan teror terhadap Menteri Polhukam RI, Wiranto dan korban lainnya.

Peristiwa ini membuat dunia ramai mengutuk dan kaget atas tindakan kekerasan dan teror itu, bagaimana tidak setingkat pejabat negara, sebagai menteri koordinator yang membawahi politik, hukum dan keamanan bisa tembus oleh para pelaku kekerasan dan teror.

Hal Ini menunjukan bahwa mungkin pelakunya sudah nekad dan yakin akan tindakan terornya menjadi bagian dari ritualisasi kekerasan dan ladang amal bagi hidupnya, jika demikian patut diduga pelakunya dari kalangan umat yang secara prilaku dan performa fisik adalah bagian dari jaringan teroris berkedok agama.

Sungguh apapaun bentuknya ritualisasi kekerasan dan teror adalah kekerasan itu sendiri, baik kekerasan yang mengatas namakan agama (terorisme dan radikalisme) ataupun kekerasan atas nama ingin mendirikan negara (sparatisme).

Semuanya tindakan ritualisasi kekerasan adalah menjadi musuh agama, bangsa dan negara serta musuh utama bagai keberlangsungan peradaban umat manusia beragama di Bumi ini.

Dalam kontek kekerasan atas nama agama (terorisme dan radikalisme), sejatinya tidak ada kaitan antara agama dengan terorisme radikalisme. Agama mana pun di dunia ini tidak pernah ada yang mengajarakan terorisme dan radikalisme apalagi agama Islam.

Dalam Islam tidak ada satu ayatpun yang mengajarkan terorisme dan radikalisme, jika ada umat atau golongan dengan mengunakan simbol Islam melakukan terorisme dan radikalisme maka dipastikan itu bukan dari ajaran Islam tapi ajaran syetan.

Dalam melakukan kerja teror di muka bumi ini, setan memiliki tupoksi, di antaranya menggangu umat manusia dengan cara menakut-nakuti atau teror sampai manusia takut setakut takutnya dan ikut menjadi bagian dari ajaran ajar setan menjadi perwakilan dibumi untuk menjadi teroris dan menyebarkan paham radikalisme .

Baca Juga:  Tahun Baru Peremajaan

Tupoksi setan sebelum mempengaruhi manusia pada prilaku dan tindakan melakukan teror dan kekerasan, setan secara hidden melakukan infiltrasiq sifat-sifatnya pada ideologi, cara berfikir dan jiwa manusia ke arah merasa benar sendiri dan sombong. Karena sesungguhnya sifat setan adalah merasa benar dan sombong.

Jika sifat -sifat setan telah di infliltrasi, injeksi dan ditransformasikan pada nalar dan hati manusia maka dia akan merasa benar dan sombong dalam hal apapun termasuk soal beragama.

Karakter dan tipikal manusia yang sudah bersekutu dengan setan dia akan tunduk menjadi wakil setan di Bumi ini, semua itu akan terlihat pada bagaiman manusia itu selalu berfikir dialah satu-satunya pemegang kebenaran dalam beragama, padahal sejatinya cara berfikir dalam memahami, memaknai dan dalam mengimplementasikan ajaran agama seperti itu bertentangan dengan ajaran agama itu sendiri.

Tapi mereka tidak menyadari semua itu, betapa berbahayanya cara berfikir kekerasan, teroris dan radikalisme dengan ajaran-ajarah yang menghalalkan darah orang lain karena berbeda dengan dirinya, menuduh orang togut, kafir, dan harus di perangi, maka tupoksi setan di bumi telah di ambil alih oleh manusia seperti ini.

Semoga kita dijauhkan dari rayuan setan yang terkutuk untuk mengerjakan Tupoksi setan di muka bumi ini. Amin..

Penulis adalah Ketua Umum Pimpinan Wilayah Gerakan Pemuda Ansor Provinsi Banten

Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *