By | 26 April 2020

Oleh: Sri Fachmi Haqiqi
Drap drap.
Langkah kecil kian melangkah dengan pasti
Menelusuri jalanan tangga menuju bangku –bangku mimpi.
Dengan segala keterbatasan,
Senyum cerianya tak sedetikpun terpudarkan.
“rukun iman ada enam”
Seorang guru menerangkan.
Gemulai tangan kecilnya menari di atas kertas,
mengikuti liuk huruf-huruf itu.

Seonggok buku cerita disuguhkan
Dengan judul yang amat menggiurkan.
”kau tahu, ini dibaca apa?”
Tidak, jawabnya lemah.
Kelas lima ia kala itu,
Namun jendela dunianya masih belum terbuka penuh.

Salahkah ia terlahir seperti itu?
Di tengah pikuk kehidupan pasar dan batas-batas budaya.
Lalu lalang teman sebayanya mengangkut bahan penjualan
Dengan tak ada kerja, tak ada makan.

Baca Juga:  Proses Rindu

Hei kau yang sibuk dengan mahkota penghargaan!
Lihatlah adikmu di ujung tombak kesengsaraan!
Ia belajar, namun ia kebingungan.
Ia sekolah, namun ia tak mengerti.
Sebab uluran tangan halusmu yang masih belum ia jumpai.

Persetan segala bentuk penghargaan!
Persetan segala mahkota kemilauan!
Bila pidatomu saja tak mampu membuat ia hilangkan kebodohan.
Bila lenggokmu saja tak mampu janjikan ia mimpi masa depan.

Ku mohon perhatikan,
Adikmu, di ujung tombak kesengsaraan.

{Pembuka, 2020.}

Bagikan: