By | 15 Mei 2019

patron.id – Serang, Ali Muhtarom dan Masykur Wahid berbagi pengetahuan dalam kegiatan Pelantikan, Raker dan Tausyiah kebangsaan yang diselenggarakan oleh Pengurus Komisariat Mahasiswa Islam Indonesia (PK PMII) Universitas Islam Negeri Sultan Maulana Hasanudin (UIN SMH) Banten, membesut tema Konstruktivitas Gerakan PMII UIN SMH Banten Melalui Keteguhan, Komitmen dan Profesionalitas. Acara tersebut berlangsung di Gedung PW NU Banten, Rabu (15/5/2019).

Sesi Foto Bersama PK PMII UIN SMH Banten (2019-2020). [patron.id]

Akademisi UIN SMH Banten Ali Muhtarom mengatakan, dalam merawat nilai-nilai kebangsaan telah mengalami kekhawatiran yang dahsyat ketika terjadi narasi-narasi diluar sewajarnya.

“Narasi kebangsaan kita sedang diuji oleh gerakan ke islaman yang ada di Indonesia mengarah kepada kontra pancasila dan NKRI karena lemahnya pemahaman keagamaan. Hal ini terjadi dipengaruhi oleh gerakan-gerakan islam politik. Sementara itu kita menyadari bahwa sebagai bangsa yang besar tentunya kita memiliki kesamaan dalam menciptakan perdamaian,” kata Ali Muhtarom

Baca Juga:  Menyoal Pendidikan di Indonesia

Ia menambahkan agar kader PMII sepatutnya menjaga tiga hal yang mendasar, yakni mampu berkontemplasi, jujur dan menambah jaringan seluas-luasnya.

“Dalam ber PMII itu ada 3 hal yang harus diterapkan pada diri kita yang pertama yaitu bagaimana kita mampu berkompetensi, yang kedua yaitu kejujuran  karena era sekarang  karakter kejujuran harus diterapkan dan mengakui kekurangan tidak curang, yang ketiga yaitu menambah jaringan karena salah satu keunggulan aktivis yaitu jaringan bagaimana kita berkomunikasi dengan baik dan melobi secara benar,” tambahnya.

Masih dalam forum yang sama Masykur Wahid menuturkan, bicara soal kebangsaan yaitu tentang bagaimana cara memperkuat kebangsaan itu sendiri.

“Mengenai memperkuat Tali Kebangsaan artinya kita menyadari adanya gerakan yang coba membisukan demokrasi kita, dengan berbagai cara, dan harus kita lawan karena suka atau tidak kita harus kembali kepada falsafah Gusdur, dimana gaya Kepemimpinan yang diterapkan adalah gaya kepemimpin yang karismatik dengan demikian akan mudah dalam  merajut satu kesatuan politik,” pungkasnya. [Red/Baihaki]

Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *