By | 31 Desember 2019

Oleh : Ray Ammanda

Tak terasa sebentar lagi fajar pengharapan 2020 menyingsing, Alhamdulillah kita bisa sama-sama menikmatinya

Setelah saya iseng-iseng mikir, sebenarnya seseorang yang bangun tidur pun tak jauh berbeda dengan momen pergantian tahun, yakni sama-sama memberi gairah kesegaran. Dimana segenap energi telah kembali di kumpulkan. Setelah tertidur pulas, apalagi dengan nada “ngorok” serampangan.

Tapi bedanya, tahun baru mengingatkan pesan agar kita semua merefresh kembali ingatan, mengakui sekaligus membenahi segala peristiwa masa lalu yang akumulasi sifatnya “tahunan”, bukan lagi “harian”. Kendati, tahun baru harus di maknai sebagai momen refleksi, sekaligus rileksasi.

Tiba-tiba tiga hari sebelum malam tahun baru berganti, tepatnya ba’da maghrib. Saya ketiduran yang kemudian hanyut bermimpi. Dalam mimpi tersebut, saya bertemu bahkan sempat berdiskusi agak serius dengan seseorang. Sebut saja si Udin.

Kurang lebih pembahasan diskusinya begini, “Emang nilai apa yang bisa kita petik dari pada kita bisa bangun tidur? Jangan berlebihan dong!”. celetuk Saya

“Bukan maksud berlebihan Gus, lagi pula sayangkan sesuatu yang berlebihan itu. Mubazir kalau kata kiai kampung mah..” respon Udin yang berlagak cerdas.

Ia melanjutkan “Betapa sangat beruntung kita semua ini, masih bisa terbangun setelah tidur. Bahkan sempat-sempatnya buang air kecil terus lanjut tidur lagi. Coba kalau tidak, artinya ya selesai. Kita meninggal.

Akan tetapi, lebih beruntung lagi bagi mereka yang bangun—di waktu tertentu yang istimewa, sebab kelimpahan rezekinya bisa berlebih dari pada mereka yang bangun tak tau kondisi dan cuaca. Alhasil, rezekinya di patok ayam duluan”

“Anak SD juga tau kalo sekadar itu. din, Udin..” keluh Saya

“Kemudian selain bagus untuk kesehatan, ternyata bangun tidur—pagi hari misalnya–juga dapat membuat seseorang lebih bahagia. Ini menurut referensi tulisan yang pernah gue baca Gus. Gue pun merasakan sendiri, meskipun banyaknya ya bangun kesiangan sih”. tegas Udin sekaligus meyakinkan.

Diskusi semakin membuat penasaran sekaligus membingungkan.

“Terus apa hubungannya bangun tidur dengan pergantian tahun din?” Saya agak heran bercampur emosi

“Jadi, seharusnya ada kesamaan substansi gairah dong di antara kedua peristiwa tersebut. Apabila bangun tidur dapat menyegarkan tubuh, pergantian tahun pun harus pula menumbuhkan kesegaran harapan. Bukan sekadar di maknai seremonial belaka. Tetapi, jangan sampai berhura-hura juga secara berlebihan.

Baca Juga:  Reinterpretasi Amal Ibadah, Secara Sembunyi Atau Terbuka ?

Maksudnya, menyegarkan mengandung arti reflektif guna memperbanyak rasa syukur kita atas setiap kesempatan yang telah di berikan tuhan, dapat memicu kembali semangat dalam menggapai setiap harapan yang belum terwujudkan serta belajar membiasakan diri menerima apapun bentuk hasil dari setiap ikhtiar”.

“Aduh din.. pembahasannya berat” Saya memantik ketajaman analisis Udin

“Sederhananya, kita semua yang masih bisa bangun setelah tidur dan atau masih ketemu lagi sama namanya pergantian tahun semestinya patut bersyukur serta berbahagia. Tandanya kita masih di berikan kesempatan untuk terus menjalani hidup maupun kehidupan. Masih bisa ketemu orang tua, saudara dan juga mantan calon pacar tentunya”

“Terus bagaimana din contoh dari perwujudan syukur itu sendiri?” Saya mengejar

“Sehubungan usia gue sekarang sudah 21 tahun, menghindari hal-hal tidak penting seperti melakoni drama perbucinan (budak cinta) pun bagian dari bentuk syukur bukan? Sehingga gue bisa tetap istiqamah belajar menekuni bidang yang gue sukai. Sebagai bekal hidup ke depan” Udin menampakkan muka serius.

“Bener juga ya din, pantesan kok saya gini-gini aja”

“Makanya dalam setiap momen pergantian tahun biasanya orang-orang ramai menyinggung soal resolusi harapan guna menumbuhkan energi optimisme menjalani tahun depan yang baru”

Akan tetapi di tengah keasyikan bermimpi, akhirnya saya terbangun akibat berisiknya dering telpon masuk dari teman main sekampung. Dengan mata yang masih berat untuk membuka, kemudian saya angkat. “Ditelpon beberapa kali kenapa baru diangkat? Lagi di mana sekarang?” tegas Totet

“Maaf, tadi saya lelap ketiduran. Lagi di rumah nih. Ada apa emang Tet?” dengan suara laiknya orang ngantuk

“Yuk keluar, kita bacakan (makan besar bersama-red) di tempat tongkrongan biasa” ajaknya

Lantas saya langsung terkesiap, ternyata percakapan dengan salah seorang tersebut hanyalah sebatas mimpi. Tetapi analisis ketajaman pemikirannya sungguh saya cermati, di ingat serta coba saya implementasikan. Supaya bisa mewujud menjadi kenyataan.

Kemudian saya tutup telponnya dengan kalimat, “Oke, otw..”

Bagikan: