By | 29 Desember 2018

patron.id –  Pandeglang, Laelatul Qodariah (24), salah satu relawan, menceritakan pengalaman pribadinya pada saat hendak memberikan bantuan logistik di Kecamatan Sumur, Pandeglang, Banten. Ia tidak sendiri. Bersama Komunitas Nalar Pandeglang, ia menuju Kecamatan Sumur Senin malam sekitar pukul 21.00 WIB. Gelap dan sempat tersendat lantaran beberapa titik akses jalan menuju lokasi tertutup pohon dan tanah akibat tsunami. Mereka menjadi orang pertama yang mampu menerobos jalur tersebut setelah pihak TNI membuka akses jalan yang tertutup.

“Kami termasuk yang pertama masuk sampai ke ujung setelah TNI membuka akses menuju Ujung Kulon. Dalam perjalanan pun, kami dibantu mereka untuk mengangkut logistik sampai ke bukit.” kata Ela, panggilan akrabnya, membuka percakapan.

Saat turun langsung ke warga Terdampak tsunami selat Sunda

Sampai di Kecamatan Sumur pukul 02.00 WIB, sementara bantuan logistik baru bisa diserahkan pukul 06.00 WIB. Ia mengatakan bahwa bantuan logistik diserahkan langsung kepada setiap kepala keluarga (KK). Terdapat 38 KK kehilangan rumah di RT 02/07 Kampung Paniis Kecamatan Taman Jaya.

Kemudian ia bertolak balik ke arah pusat Kecamatan pukul 14.00 WIB hendak mengirim bantuan logistik ke titik lainnya, namun jalur dari Sumber Jaya sampai ke Kantor Kecamatan Cimanggu terjadi kemacetan sepanjang 10 km.

“Semua kendaraan yang sedianya akan ke Tanjung Lesung diarahkan ke Sumur karena akses ditutup saat air laut naik.” tuturnya.

Meski demikian, bantuan logistik berhasil disalurkan ke beberapa titik yaitu di Posko Desa Ujung Jaya, Posko Desa Taman Jaya, Posko Panwaslu di Desa Sumber Jaya Kecamatan Sumur, Posko Pengungsian Kampung Cikayas Desa Cikayas Kecamatan Angsana, Posko Desa Cigorondong Kecamatan Sumur.

“Warga sangat senang ketika mendapatkan bantuan seperti beras, kecap dan garam. Tapi ada seorang ibu menolak diberi mi instan, karena menurut dia setiap hari sudah makan mi instan.” ujar perempuan kelahiran 25 Januari 1994 ini menahan senang campur sedih.

Ia menilai penolakan itu belum seberapa ketika anak-anak korban tsunami kehilangan seragam dan peralatan sekolah lainnya. Tentu mereka sangat membutuhkan seragam dan peralatan sekolah lainnya. Bahkan ia mengatakan beberapa warga sempat turun ke area rumah yang hancur untuk mengumpulkan barang yang masih bisa berfungsi.

Oleh karena itu, kepada para donator yang hendak memberikan bantuan logsitik kepada korban tsunami khususnya di wilayah Kabupaten Pandelang, ia merekomendasikan beberapa kebutuhan yang dibutuhkan yakni tenda, terpal, kasur, penerangan, korek gas, lilin, genset, beras, minyak goreng, kecap, garam, gula, kopi, the, jahe sachet (penghangat tubuh), vitamin/suplemen.

Baca Juga:  TARHIB RAMADHAN JILID III KORIB, Berbagi Takjil di Tengah Pandemi korosi Covid-19

Kemudian perlengkapan bayi dan anak seperti susu, pampers, pakaian hangat, selimut, obat-obatan, slendang bayi, sabun bayi, minyak telon, dot, termos air panas, popok, handuk, tisu, sarung tangan dan kaki, topi. Perlengkapan perempuan seperti pakaian dalam (bra dan celana dalam), pembalut, pakaian, bedak kulit antiseptic, kolor, sisir. Pakaian laki-laki; sarung, celana dalam, celana kolor, celana panjang, sarung, kaos, topi. Perlengkapan belajar anak; baju seragam, sepatu, alat tulis. Kebutuhan lainnya yaitu alat kesehatan pribadi; sabun mandi antiseptik, shampo, sikat gigi, pasta gigi, handuk, minyak gosok/balsam, obat batuk pilek, antangin, jas hujan, alat penutup luka, topi, sarung tangan karet, sepatu bot karet, pembunuh kuman untuk air mandi.

Selain itu, Ela juga menyarankan kepada pihak yang berwenang terkait strategi penanggulangan bencana yaitu ;

  1. Pemerataan distribusi sebaiknya dikelola secara terpusat namun sekaligus memastikan keamanan prosesnya. Hal itu dikarenakan tingginya mobilisasi relawan baik dari kalangan masyarakat maupun organisasi kemasyarakatan. Mengingat jalur darat yang tersedia untuk menjangkau titik terjauh masih menggunakan jalan di sepanjang pantai. Keamanan relawan dari bahaya susulan tsunami maupun erupsi Gunung Anak Krakatau juga sebaiknya segera dimitigasi.
  2. Relokasi pengungsi ke titik jauh dari garis pantai maupun Gunung Anak Krakatau, sebaiknya segera dilakukan untuk mengurangi resiko pasca tsunami dan kemungkinan bencana susulan.
  3. Trauma healing dan pendampingan bagi anak dan perempuan sebaiknya segera dilakukan.
  4. Fasilitas pengungsian sebaiknya segera memperhatikan kebutuhan khusus berdasarkan usia dan jenis kelamin. Terutama untuk anak dan perempuan, lansia dan difabel.
  5. Sistem komunikasi dan koordinasi antara BNPB, BNPD dan otoritas sebaiknya memaksimalkan jaringan komunikasi yang sudah tersedia (forum-forum warga).
  6. Kritisi infrastruktur jalan di Kecamatan Sumur. Beberapa bulan yang lalu, sebelum terjadi tsunami, masyarakat Kecamatan Sumur sempat melakukan aksi unjuk rasa di kantor Bupati Pandeglang terkait jalan rusak yang tidak pernah diperbaiki. Status jalan adalah jalan negara, provinsi dan kabupaten. Namun Bupati menyatakan bahwa proses lelang selalu gagal. Sebaiknya segera didorong untuk melakukan perbaikan, dengan teknik terbaik. Setidaknya ini akan mengurangi resiko jatuhnya korban jiwa, apabila infrastruktur jalan mendukung untuk proses evakuasi dan lainnya.

Penulis: Laelatul Qodariah
Editor : Royadi

Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *