By | 3 Agustus 2018

patron.id – serang, Selebaran berisi celaan terhadap Islam Nusantara tersebar di masjid Miftahus Sudur, Serang, Jumat (3/8) siang. Selebaran atas nama Buletin Dakwah Kaffah tersebar saat menjelang sholat Jum’at.

Di dalam buletin tersebut, tepatnya halaman 4, memuat cover gambar bertuliskan Islam Nusantara Bukan Islam yang Sebenarnya’. Kemudian di sampingnya cover gambar bertulisan Freeport : Bohong Besar Rezim Jokowi, dimuat di halaman yang sama. Sedangkan di halaman berikutnya, buletin edisi 050/ 21 Dzuqo’dah 1439 H/3 Agustus 2018 tersebut memuat tulisan dengan judul Kepemimpinan Syar’i berisi tentang pengusungan Prabowo Subianto sebagai Calon Presiden (capres) 2019.

Hal ini tentu tidak dibenarkan karena sudah memprovokasi masyarakat lewat tulisan yang disebarkan saat solat Jum’at. Aktivis Banten Rojak mengatakan, hal tersebut jangan sampai kembali terjadi di masyarakat, karena sudah jelas tulisan itu bersifat memprovokasi. Bahkan Rozak, panggilan akrabnya, mengkhawatirkan selebaran tersebut nantinya bisa menimbulkan hal yang tidak diinginkan.

“Jangan sampai negara kita yang sudah final ini dipecah belah oleh sekelompok manusia yang ingin berambisi dengan kekuasaan. Sering sekali persolalan agama islam dikaitkan dengan kepentingan politik, tentu saya khawatir masyarakat yang tidak paham tentang hal ini diperalat oleh mereka,” katanya saat diwawancarai seusai solat Jum’at.

Kapolres Serang Kota AKBP Komarudin turut memberikan komentar terkait selebaran berisi provokasi tersebut. Ia mengatakan hal itu upaya dari orang-orang yang ingin membuat umat lslam resah, sehingga beliau menghimbau untuk tidak disebarkan lagi.

Baca Juga:  Alumni Akpol Angkatan 91 Batalyon Bhara Daksa Gelar Bakti Sosial

“Kalau bisa serahkan ke kita, biar kita cari tau yang menyebarkan siapa,” kata Komarudin saat dikonfirmasi lewat pesan Whatsup.

Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Serang Kiyai Matin Syarkowi saat diminta keterangan terkait selebaran berisi provokasi tersebut mengatakan menyebarkan buletin pada saat jamaah mau melaksanakan Shalat Jum’at bukanlah perbuatan terpuji karena dapat mengganggu kekhusu’an jamaah.

“Menyangkut isi buletin tersebut yang di dalamnya memuat soal Islam nusantara bukan Islam yang sebenarnya adalah provokatif. Ini semua dapat dikatakan, bahwa penyebaran buletin tersebut berindikasi kuat untuk memprovokasi jamaah ke arah perpecahan ummat,” ujarnya.

Kita ketahui bersama, bahwa istilah Islam nusantara digulirkan oleh NU sebagai organisasi kemasyarakatan terbesar di Indonesia.

“Kemudian disisi lain dari buletin itu kan ada foto tokoh politik nasional yang diperkirakan bakal menjadi Capres. Karena itu, semakin memperjelas bahwa buletin itu sengaja disebarkan untuk memprovokasi masyarakat dengan cara menyerang pemikiran Islam Nusantara. Dan di sisi lain buletin itu terindikasi untuk kampanye capres tertentu, saya fikir DKM masjid harus bertanggungjawab atas kejadian itu,” pungkasnya.

Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *