By | 31 Januari 2020

Oleh : SOKRATIS SIMERA

Bapak saya seorang petani, seorang petani di Desa dan yang kita tahu hampir semua petani di desa pasti juga pe-rokok, setiap hari bapak bangun sebelum adzan subuh lalu menyalakan tungku api, memasak air untuk menyeduh kopi hitam, dilanjutkan menyalakan rokok. rutinitas yang tak pernah bapak lewatkan.

Sepertinya, semua petani melakukan hal itu setiap pagi, segelas kopi dan rokok hasil pelinting sendiri atau rokok sudah jadi, lalu dihisapnya tampak sangat nikmat, serta penuh kebahagiaan. Aku menyaksikan hal yang sama pada kakek, juga paman-paman saya yang juga berprofesi sebagai petani.

Saat ini marak iklan yang mengatakan bahwa kandungan nikotin pada rokok itu berbaya, dzat adiktif yang mampu memicu kanker, serangan jantung, juga kematian. Pernyataan semua umat pe-rokok sama, “buktinya saya sudah tua masih sehat, kakek-nenek moyang kami dulu juga sehat-sehat saja. Tidak mati karena kanker atau penyakit-penyakit menakutkan yang disebutkan itu”.

Baiklah, saya begitu penasaran mengapa ada teori yang berlawanan dengan fakta?

Rokok mengandung NIKOTIN yang katanya “berbahaya, beracun, pemicu kanker, serangan jantung,stroke dll”. Mari saya beritahu sedikitnya tentang baiknya rokok, tapi maaf bagi yang tidak suka jangan menghujat saya, mari baca terlebih dahulu baru ambil kesimpulan, ok?. Kandungan dalam rokok beragam, tetapi saya akan membahas 2 alasan rokok itu punya sisi sehat dan baik, pertama pengaruh terhadap hormon, dan yang kedua nikotin itu jahat.

Pertama, kita membahas pengaruh hormon terhadap kesehatan. Pola pikir yang sehat menyebabkan tubuh kita sehat, hormon dopamin yang populer mampu tercipta ketika kita merasa senang akan sesuatu. Ketika me-rokok mereka merasa bahagia, hormon dopamin tercipta.

Hormon dopamin bisa berfungsi sebagai peningkat imun tubuh. Sehingga ketika imun tubuh meningkat, penyakit-pun enggan mampir. Kalau-pun penyakit atau kanker itu mampir mungkin sudah KO lebih dulu karena bantuan hormon dopamin ini. Banyak manfaat hormon dopamin, untuk meningkatkan kemampuan belajar, konsentrasi, daya ingat yang kuat, juga bahagia. Maka dari itu, kita lihat kakek-kakek kita yang katanya pe-rokok itu tidak sehat, mereka mampu mengingat kejadian dengan detail bahkan diumur yang sudah tak lagi muda, jarang sekali yang terkena penyakit pikun diumur 60an. Kecuali sudah umur 80an, itu pun biasanya karena memang sudah sangat jompo. Dibandingkan dengan fisik tubuh orang-orang milenial zaman sekarang, kakek-kakek kita jauh lebih sehat.

Bapak saya masih mengingat dengan jelas kejadian-kejadian dulu di masa mudanya, bahkan mengingat dengan jelas kitab-kitab yang dikajinya semasa mondok salafi di tahun 1974. Umur bapak saat ini 61 tahun dan masih terbilang kuat, sedikit uban, masih me-rokok, dan masih sehat. Bapak bukan perokok maniak, bapak me-rokok di pagi hari dan sore hari. Dalam sehari bapak menghabiskan 3-5 batang, tidak lebih. Mungkin efek sedikit nikotin membantu daya imun tubuh bapak menjadi lebih kuat.


Kedua, nikotin merupakan salah satu dzat adiktif yang katanya berbahaya. Hahaha.. eh, maaf saya tertawa. Ternyata banyak yang masih dibodohi kalau-kalau nikotin ini berbahaya, kenyataanya banyak sekali manfaat dari si-Nikotin ini baik untuk kesehatan maupun dunia pertanian. Nikotin mampu mengurangi dzat Parkinson, parkinson merupakan dzat pemicu stroke dimana prkinson mampu menghambat kerja saraf otak yang berfungsi mengoordinasikan gerak tubuh, sehingga parkinson adalah pemicu sulit bergerak, berbicara, dan berjalan. Nikotin juga berfungsi sebagai pemicu produksi hormon dopamin. Tidak hanya itu, masih ada lagi manfaat nikotin yaitu sebagai pembasmi bakteri Tuberculosis (TBC). Jika si’nikotin’ ini berhasil di ekstraksi dari tembakau, harga nikotin sangat mahal di dunia farmasi.

Baca Juga:  Pilkada dan Bayang Corona

Banyak sekali manfaat dari nikotin ini, jika digunakan dengan dosis yang pas. Saya mendapat sedikit informasi dari kompasiana tentang beberapa manfaat nikotin ini. Namun, sebagian dunia kesehatan lebih menonjolkan bahaya dari nikotin. sehingga penduduk bumi dihantui dengan dampak negatif dari rokok. padahal si pe-rokok hidup enjoy dengan dunia dan pe-rokok-annya.

Dari dua fakta diatas bukan berarti pengaruh buruk rokok itu salah, pengaruh buruk rokok yang disebutkan banyak peneliti juga benar. Lalu mana yang benar? Keduanya benar, dalam hal ini kita harus menggunakan dalil yang cukup familiar “segala sesuatu yang berlebihan itu tidak baik.” Jadi, selagi me-rokok dengan dosis yang tidak berlebih, dan tidak hidup untuk rokok masih banyak sisi positif. Tetapi jika hidup untuk rokok, dimanapun harus dengan rokok, saat banyak masalah merokok, semua hal bawa rokok, hal ini akan memicu akibat lain karena dosis berlebih yang berdampak dari positif menjadi negatif.

Hidup lah dengan rokok yang seperlunya, agar menjadi pe-rokok yang sehat dan baik. Orang yang mati karena kanker, stroke yang kebetulan pe-rokok merupakan bagian kecil yang mungkin mereka berlebihan dalam me-rokok. tapi mari kita kaji lagi, pemicu kanker bukan hanya dari rokok, banyak hal pemicu kanker. Hal ini membuktikan bahwa pemicu kanker akibat rokok hanya bagian kecil saja. Karena banyak penelitian yang meluruskan bahwa rokok tidak se-menyeramkan iklan diluar kemasannya. Kalau-pun berbahaya seperti pada iklan kemasan kenapa masih marak beredar di negeri tercinta ini? Mana mungkin negara ini membiarkan warganya mati lebih cepat, juga menderita karena penyakit.

Semua benda memiliki dua sisi, positif dan negatif. Semua tergantung dari bagaimana kita memperlakukan dan menggunakan benda itu. “Yang halal belum tentu toyib” kata-kata yang sangan familiar ditelinga kita. “tidak semua racun itu mematikan, dan tidak semua obat itu menyembuhkan” semua bergantung dari bagaimana kita mengaplikasikan, dan digunakan untuk kepentingan apa. Sama seperti rokok, ada sedikit sisi positif dari rokok yang tertutup oleh kabar buruk dari rokok.

“yang sehat belum tentu baik, yang racun belum tentu bahaya” itu menurut saya. Karena semua yang tercipta, akan memiliki sisi positif dan negatif dengan dibarengi ilmu pengetahuan. Jika tidak suka dengan rokok jangan mencaci, cukup dengan menghindar. Bagi yang mengkomsumsi rokok jangan berlebih, belajar untuk memberi porsi yang cukup, juga mulailah menghargai orang-orang yang tidak suka me-rokok.

Bagikan: