By | 13 Juni 2020

patron.id – Serang, Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ), Hukum Ekonomi Syariah (HES), Fakultas Syariah, Universitas Islam Negeri (UIN) Sultan Maulana Hasanuddin (SMH) Banten, menggelar aksi protes melalui dalam jaringan (Daring) yang ditunjukan kepada Rektor UIN SMH Banten terkait Uang Kuliah Tunggal (UKT) atau Biaya Kuliah Tunggal (BKT).

Pada aksi protes tersebut HMJ HES membuat poster sebaran dengan redaksi mencari Fauzul Iman selaku Rektor UIN SMH Banten.

“Dicari (foto Fauzul Iman) , Nama: Fauzul Iman, Rektor UIN SMH Banten [Katanya], Kasus: mencekik mahasiswa dengan tidak memberi cash back UKT semester genap dan tidak menggeratiskan UKT semester depan,” tertulis dalam poster yang di sebar oleh HMJ HES

Saat dikonfirmasi terkait kebenaran bahwa pencipta poster berbasis virtual tersebut adalah HMJ HES, Muhamad Rizki Nursidik selaku Ketua HMJ HES membenarkan hal tersebut, Ia menyatakan bahwa HMJ HES lah yang membuat poster tersebut.

“Untuk pembuatan itu sendiri yang menggagas saya dan dikembalikan ke forum, serta di setujui oleh forum, kemudian dilakukan langkah yang konkret dengan langsung membuatnya.” Kata Rizki (akrabnya), Pada Sabtu, (13/06/2020).

Rizki juga memaparkan alasan HMJ HES dalam memprotes Rektor, dirinya menegaskan, bahwa seluruh kebijakan kampus dimiliki oleh Rektor.

“Karena rektor yang mempunyai kebijakan mengenai semua hal, oleh karena itu rektor seharusnya bisa membuat sebuah kebijakan yang nantinya relevan dengan kondisi ekonomi di masyarakat baik itu untuk mengajukan pemberatan kepada pihak kementerian agama tentang pemotongan UKT masa pandemi ataupun rektor memberikan tunjangan chasback dari UKT yang dibayarkan.” Ungkap Rizki

Selain itu faktor tidak menikmati fasilitas juga mendorong Rizki dan HMJ HES dalam melakukan hal tersebut, kebijakan yang dianggap janggal terkait kesejahteraan seluruh mahasiswa membuat Riski menegaskan agar Rektor lebih transparan.

“Karena, kami sebagai mahasiswa tidak menikmati fasilitas yang seharusnya kami nikmati dan seharusnya pihak kampus bisa melihat kondisi ekonomi para mahasiswa yang berdomisili di daerah pelosok karena masalah jaringan dan kuota memang terbatas. Bahkan, ekonomi pun sedang tercekik dan banyak faktor yang menjadikan kampus seharusnya bisa mengerti mahasiswa. Rektor seharusnya bisa lebih transparan dan lebih akuntabel mengenai anggaran yang seharusnya bisa di akses dengan mudah oleh mahasiswa karena kampus adalah ranah publik tapi kami mahasiswa tidak tau menau anggaran UKT semester ini kemana larinya.” ucapnya

Baca Juga:  MI Insan Madani Bangun literasi, Undang Perpustakaan Keliling

Selain itu pemotongan anggaran Organisasi Mahasiswa (Ormawa) juga dirasakan oleh Riski selaku ketua HMJ HES, menurutnya tidak ada transparansi terkait pemotongan anggaran tersebut

“Terus ditambah lagi pemotongan anggaran ormawa kampus yang tidak transparan maka dari itu seharusnya pihak kampus yang di motori oleh rektor bisa lebih relavan dan lebih mengerti kondisi dan situasi yang di hadapi mahasiswa.” Lanjutnya

Ia berpesan agar pihak kampus dan Rektor dapat meringankan UKT ditengah situasi dan kondisi yang dirasakan.

“Berapa ratus mahasiswa sekarang ini yang bimbang untuk melanjutkan kuliah karena ekonomi mencekik dan UKT yang tinggi sehingga kampus yang tadi nya menjadi ajang pembelajaran bagi mahasiswa justru menjadi beban bagi mahasiswa karena kondisi seperti ini. Memang tidak bisa menyalahkan pihak manapun mengenai kondisi ini namun ada baiknya pihak kampus dan Rektor bisa menimbang lebih jauh mengenai segala aspek untuk kemaslahatan mahasiswanya.” Tegasnya

Ditindak lanjut oleh pihak kampus adalah hal yang diharapkan Rizki, tetapi ia mengatakan jika tuntutannya tidak ditindak lanjut, dirinya akan menyuarakan aspirasi yang sama yaitu terkait UKT/BKT  oleh seluruh Ormawa kampus.

“Harapan kedepannya kami sebagai mahasiswa menginginkan aspirasi dan unek-unek kami tersampaikan serta didengar oleh lembaga dan ditindak lanjuti. Meskipun tidak gratis namun adanya pemotongan UKT semester depan bisa mengurangi beban kami sebagai mahasiswa ditengah kondisi yang seperti ini. Langkah kedepannya untuk menyuarakan satu aspirasi yang sudah di bangun terkomando oleh pimpinan Ormawa kampus insyaallah ada hal yang lebih besar lagi apabila tuntutan tersebut hanya menjadi tong kosong nyaring bunyinya.” Pungkasnya [Red/Aldi]

Bagikan: