By | 1 Mei 2020

Oleh  Arif Rohman

Kerabat patron.id yang budiman pernahkah kita melihat orang beramal, kemudian dipublish? atau orang yang sedang mengaji, tadarusan, atau apa-apa yang bernilai ibadah kemudian diupdate dalam status? terlebih lagi dalam nuansa bulan suci bualan ramadhan yang pastinya banyak sekali orang-orang yang melakukan aktivitas positif bernilai ibadah.

sebutlah salah satunya yang dikenal dengan istilah “Ngaji Pasaran”, dimana pada esensinya ngaji pasaran merupakan tradisi khas Pesantren dengan ngaji kitab kuningnya di bulan suci Ramadhan tapi kemudian dipublish ke medsos? Atau kasus yang lebih sensitif lagi soal shodaqoh yang diumbar secara terbuka?

Lalu terlintas dalam fikir “Ibadah ko dipublish, dibikin status, diumbar-umbar, itu mah urusan soal hubungan vertikal antara manusia dengan Tuhan, ga perlu dipublish, cukup diri dan Tuhan aja yang tahu”, atau dengan kemasan bahasa yang lain namun konteksnya sama yaitu menanggapi aktivitas ibadah yang dipublish tersebut. Hayoo… pernah kah kita berlaku demikian?

Okey, sejatinya jika kita berfikir demikian, itu sesuatu hal yang wajar dan kamu tak bisa disalahkan karena ada benarnya juga. Namun, kita juga tidak bisa menjustifikasi orang tersebut salah atau buruk dengan sebegitu mudahnya.

Maksud penulis, ada beberapa kondisi tertentu yang perlu menjadi perhatian kita dan musti kita pahami, bahwa kadangkalanya kita juga perlu berprasangka baik loh, Kenapa? karena kita tidak tahu bagaimana niat seseorang dan apa tujuannya, tak asing juga kita pasti pernah dengar satu hadits tentang suatu amal perbuatan, bahwa “Sahnya suatu amal tergantung pada niat, dan setiap orang akan mendapatkan balasan dari apa yang ia niatkan” (HR. Bukhori).

Dari satu hadits tersebut maksudnya adalah apa-apa yang kita anggap buruk belum tentu buruk, apa yang kita anggap salah belum tentu salah, dan apa yang kita anggap baik belum tentu baik juga.

Sebab, semua itu tergantung pada niat dan tujuannya, niat itu bagai ruh dalam amal, setiap suatu perbuatan akan dicatat sebagai amal sholeh. Jadi, buruk, salah, baik, atau sia-sianya suatu amal perbuatan itu tergantung pada niat dan tujuan.Lantas, kira-kira mana yang lebih afdhol beramal secara sembunyi atau secara terbuka?

Mungkin sebagian dari kita menyatakan lebih afdhol beramal secara sembunyi-sembunyi dari pada secara terbuka. Pernyataan tersebut ga bisa di salahkan, sebab ada dasarnya juga, diantaranya pada satu hadits yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim yang artinya

“Seseorang yang mengeluarkan shodaqoh lantas disembunyikannya, sampai-sampai tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diperbuat tangan kanannya.”

Namun menurut hemat penulis berfikir, pemahaman yang seperti itu karena kaitan antara tangan kiri dengan tangan kanan ditafsirkan sebagai orang lain. Namun, bagaimana jika tafsiran tangan kirinya bukan orang lain melainkan bagian dari diri sendiri dalam satu tubuh? Atau tangan kanan kita tafsirkan sebagai kebaikan dan tangan kiri sebagai keburukan?

Jika penafsiran tangan kiri sebagai orang lain, rasa-rasanya kurang relevan. Penulis lebih relevan, jika tangan kanan diartikan sebagai amal baik yang dirangsang oleh keinginan baik, misalnya ikhlas dalam beribadah karena Allah yang biasa disebut Nafsul Muthmainnah, yakni nafsu yang baik.

Baca Juga:  Dampak Virus Corona Dalam Perspektif Bahasa dan Hipotesis Masa

Sedangkan tangan kiri diartikan sebagai suatu perbuatan yang didorong oleh keinginan buruk, misalnya pamrih, ria’, sombong, dll. Inilah yang disebut dengan Nafsul Ammarah bis Suu’, yakni nafsu yang buruk.

Jadi, intinya amal perbuatan yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi tidak menjamin akan lebih afdhol daripada amal perbuatan yang dilakukan secara terbuka, sebab baik buruknya suatu amal tergantung pada niat yang ikhlas, dan keikhlasan terletak didalam hati yang mampu menjaga kemurnian amal.

Boleh jadi, seseorang bersedekah secara sembunyi, yang menggunakan anonim “Hamba Allah”, tetapi dalam hatinya ia sangat membanggakan diri yang bisa-bisa menjerumuskan pada sifat riya’, sombong, dan sifat buruk lainnya.

Pun sebaliknya, boleh jadi seseorang bersedekah secara terbuka, yang sengaja di publish untuk diketahui orang banyak, tetapi dalam hatinya tiada rasa pamer dan pamrih sedikitpun melainkan memiliki niat tujuan agar orang lain dapat meniru perbuatan baiknya, bukan kah itu justru lebih baik dan akan lebih memberikan maslahat ketika orang yang melihatnya ternyata mengikuti amal perbuatan baiknya?

Jadi, konklusinya adalah baik beramal secara sembunyi-sembunyi maupun terbuka, baik-buruk, benar-salahnya, semua tergantung bagaimana dari niat dan tujuan kita, hiasi dengan keikhlasan ketika beramal semata-mata mengharap ridho Allah Ta’ala, yang dapat direpresentasikan pada niat yang tulus tanpa pamer, pamrih, pencitraan, popularitas, dan kepentingan ego individu lainnya.

Selain itu penting juga disampaikan, janganlah mudah menilai, memandang, dan menjustifikasi baik buruknya seseorang tanpa mencari tahu kebenarannya dulu. Seperti kutipan dari pernyataan Imam Syafi’i yang penulis kutip sebagai penutup terkait kebenaran pandangannya, bahwa “prinsip pandangan diri yang merasa benar, tetap mengandung kemungkinan salah, prinsip pandangan orang lain yang salah, tetap memiliki kemungkinan juga benar”, artinya jangan gegabah menilai, segala sesuatunya harus ditelisik dulu, karena meskipun sesosok mujtahid mutlak ini saja memiliki pandangan yang kuat, tetapi masih memberikan ruang keraguan, apalagi kita.

Artinya, apa yang kita duga belum tentu sesuai realita. Jadi, berprasangka baiklah atas amal perbuatan yang dilakukan orang lain dengan caranya, agar kita mampu mengambil sisi positifnya.

Kemudian, luruskanlah niat ikhlas mengharap ridho Allah dari setiap amal perbuatan yang kita lakukan baik secara sembunyi maupun terbuka. Selamat menunaikan ibadah puasa, semoga dapat dimaksimalkan dengan baik meski di tengah kondisi pandemik Covid-19 dengan tetap memperhatikan aturan sesuai protokol pemerintah agar pandemic lekas mudik.

Penulis merupakan Mahasiswa Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta), Serang. Program Studi Ekonomi Syariah Fakultas Ekonomi dan Bisnis, semester VI (Enam). Aktif di Organisasi Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis (BEM FEB) UNTIRTA dan Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Komisariat Untirta Rayon Ekonomi.

Bagikan: