By | 31 Desember 2019

Oleh : Iqbal Laduni

Milenial adalah Kita, Lonceng berdenting di sudut kamar menandakan waktu kembali petang sahutan anak-anak indie bergema di ujung jalan Menyambut hari begitu senang sambil berdendang dan meledek antar sahabat.

Kelender tertera di sudut kamar Aah, ini sudah kembali di ujung tahun 2019, bingkai foto di meja itu semakin memudar
Ku lihat kembali catatan milenial, sekiranya nanti ada refrensi yang bisa ku bawa di awal tahun 2020, Ku buka lagi lembaran demi lembaran catatan milenial Melonggok jejak milenial di panggung-panggung politik yang kemarin telah usai disajikan.

Sebenarnya agak terlambat sih untuk berbincang-bincang mengenai milenial ini. Apalagi jika mengacu pada kategorisasi usia atau tahun kelahiran, sebagaimana sering diklasifikasi oleh banyak kalangan, kalau melihat pemilu beberapa tahun yang lalu sebenarnya milenial telah menjadi pemilih pertama kali begitu Orde Baru runtuh. Kemunculan bahasan soal itu kali ini mungkin didorong oleh jumlahnya yang semakin besar serta makin terasanya budaya dari generasi sebelum maupun sesudahnya.

Tapi ada yang unik menyoal tentang Konsep milenial, sebenarnya konsep itu merupakan bagian dari upaya pakar-pakar marketing untuk menemukan metode yang lebih baik dalam melahirkan desain produksi maupun penjualan. Maka, tidak heran jika kemudian nuansa marketing-nya menjadi sangat terasa

Namun, biar bagaimanapun milenial adalah kita. Separuh manusia di bumi indonesia yang pernah merasakan runtuhnya orde baru dan kemajuan reformasi, tapi bukan arus baru dengan hesteg #reformasidikorupsi juga, karna itu hanya sebagian gerakan saja, issu yang terlahir pasca pemilu usai menjelang pelantikan presiden dengan grand desain KPK sebagai korban. Ah nanti saja kita bahas itu, Sangat rumit.

Sebentar, ku ingin hirup lagi aroma kopi hitam yang semakin menyengat ini. Jadi bahasan mengenai milenial sebagai subjek ini sangat kurang dalam pembicaraan-pembicaraan kita. Ini memberikan isyarat bahwa seolah-olah kita adalah generasi di luar dari generasi milenial itu. Ini akan berimplikasi pada sikap kita dalam mengarahkan sumber daya milenial dalam politik kita.

Kategorisasi Generasi

Milenial sendiri mengacu pada kategorisasi yang berbeda-beda. Misalnya, dari segi usia dan tahun kelahirannya. Ada yang memberikan label milenial kepada para individu yang lahir antara 1980-1990. Ada juga yang beranggapan kelompok milenial lahir antara 1990-1999. Lalu bagaimana dengan generasi yang lahir di tahun 1999-2019 saat ini, misal kita sebut dia generasi Z. Aku sebut saja generasi yang seneng kalau akun IG nya di follow, akun Twitternya di tweet dsb. Atau mereka yang seneng update photo senja menggunakan quotes so bijak atau so romantis, bebaslah.

Baca Juga:  Solusi IMIKI Banten untuk Indonesia

Namun, pada intinya soal kelompok generasi tadi, terdapat karakter-karakter khusus dari kelompok-kelompok tersebut. Karakter khusus itu dipengaruhi oleh kemajuan teknologi yang memang dimulai sejak tahun 1980-an. Globalisasi yang didorong oleh kemajuan teknologi informasi dan komunikasi mempunyai implikasi pada berubahnya pola-pola hubungan sosial seluruh masyarakat di dunia. Keterhubungan ini membuat generasi milenial menjadi lebih canggih dan modern, baik dalam segi fisik maupun dari segi nilai dan pemikiran.

Selain kemajuan teknologi, meluasnya demokrasi dan mulai runtuhnya komunisme membuat perbedaan besar antara milenial dengan generasi sebelumnya. Demokrasi berarti masyarakat makin mempunyai nilai keterbukaan dan kesetaraan. Ini berbeda dengan generasi X yang hidup pada era perubahan, di mana terjadi lonjakan pemikiran kritis. Era yang demokratis mungkin merupakan kelanjutan dari periode kritis. Namun pada saat yang sama juga menimbulkan adanya suatu independensi yang lebih individualistis, di mana milenial mempunyai nilai kemandirian dan keunikan tersendiri.

Kekhasan Politik Milenial

Sebagai “subjek” politik, lalu apa yang membedakan millenial dengan generasi sebelumnya, yaitu generasi “baby boomer” dan generasi X? Sepertinya ada kekhawatiran bahwa kenyataannya untuk konteks Indonesia tidak ada perbedaan yang berarti.

Ada pihak yang beranggapan bahwa para politisi generasi sebelum milenial sering disebut ketinggalan zaman dan tidak mampu membentuk negara yang kuat. Banyak kebijakan yang tidak efektif; juga tidak ada keberlanjutan dalam pembangunan, mengakibatkan pembangunan kita lebih pada nuansa tambal sulam daripada sebuah pembangunan berjangka panjang.

Namun, sampai saat ini juga belum ada nuansa khusus yang dibawa oleh politisi generasi milenial. Mungkin nuansa khususnya terletak pada upaya-upaya marketing politik, tetapi pada aspek politik kebijakan masih kurang.

Milenial yang sering mengkritik generasi sebelumnya sebagai generasi yang cerewet, korup dan tak efektif, ternyata belum mampu mewarnai politik Indonesia dengan nuansa yang baru.

Harapannya ke depan bahwa generasi milenial ini, mampun mewarnai kancah perpolitikan di indonesia bukan lagi hanya sebagai objek tapi harus menjadi subjek perubahan demi mendorong cita-cita bangsa di era kemajuan teknologi.

Bagikan: