By | 20 Agustus 2020

patron.id – Serang, Berbagai cara umat muslim di Kota Serang menyambut dan merayakan peringatan Tahun Baru Islam 1 Muharram 1442 Hijriyah, yang jatuh tepat pada hari ini Kamis (20/8/2020). Pada umumnya, umat muslim mendatangi masjid, berdoa untuk keselamatan dan kesejahteraan, dan menghabiskan waktu bersama keluarga serta orang-orang terdekat.

Namun sedikit berbeda dengan masyarakat Kampung Pancur Melati RT 01/02 RW 05 Kelurahan Pancur Kecamatan Taktakan Kota Serang, dalam merayakan Tahun Baru Islam 1 Muharram selalu diiringi dengan makna dan nilai-nilai tradisi leluhur.

Diantaranya pembacaan Manaqib Syekh Abdul Qodir Jaelani, ziarah ke makam Nyi Gumer (sesepuh Kp. Pancur Melati), arak-arakan (star masjid Jami At Taqwa dan finis kantor Kelurahan Pancur), dan makan bersama.

Tokoh masyarakat Kp. Pancur Melati RT 01/02 RW 05, Madsata, mengatakan perihal warganya yang melakukan ziarah ke makam Nyi Gumer merupakan salah satu cara memanjatkan doa agar Tuhan Yang Maha Esa memberikan keselamatan dan keberkahan sepanjang tahun bagi almarhum sesepuh dan warga Pancur Melati.

“Lebih pada memanjatkan doa kepada Allah SWT, melalui wasilahnya wali Allah, meminta keselamatan dan keberkahan sepanjang tahun. Kemudian kita sebagai masyarakat mengeluarkan sodakoh dengan meyakini bisa diberikan keberkahan dan nikmat yang lebih,” kata Madsata saat ditemui patron.id usai acara, pada Kamis (20/8/2020).

Kemudian, lanjutnya, masyarakat berbondong-bondong melakukan arak-arakan diiringi musik tradisional, dimulai dari masjid Jami At Taqwa menuju kantor Kelurahan Pancur.

Madsata, menjelaskan, arak-arakan ini memiliki makna mendalam bagi warganya yakni sebagai media bahwa hari ini Kamis (20/8) telah masuk 1 muharram. Sebab, pada zaman dahulu warga Kp. Pancur Melati didominasi petani dan jarang mempunyai kalender.

“Lewat keramaian inilah bisa memancing orang untuk keluar rumah. Ini salah satu mempertahankan tradisi sesepuh masyarakat zaman dahulu,” terang dia.

Lebih jauh lagi, sebelum memasuki tahun 90-an masyarakat Kp. Pancur Melati belum teraliri listrik, sehingga sulit untuk mengumumkan perihal peringatan Tahun Baru Islam 1 Muharram pada saat itu.

“Listrik di sini saja masuk sekitar tahun 90-an, sebelumnya boro-boro ada speaker, buat mengumumkan satu muharram telah datang, ya tidak bisa. Maka dengan ramai-ramai dengan arak-arakan ini supaya warga tahu. Kalau sekarang kan sudah enak, tinggal lihat kalender, lihat handphone, lihat media. Sementara orang dahulu kan medianya ya ini, media pemberitahuannya,” tuturnya.

Baca Juga:  Tokoh Masyarakat Serang, Berharap Pemuda Optimalkan Ibadah Ramadhan

Makan bersama hasil masakan warga Kp. Pancur Melati juga tak luput dari nilai-nilai dan tradisi leluhur warga tersebut. Sebab menurut Madsata, warga Kp. Pancur Melati didominasi petani. Hasil bumi seperi beras, jagung dan pisang pun ikut diarak bagian dari rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah melimpahkan rezeki dan keberkahan melalui hasil panen warga.

“Makan bersama di depan rumah masing-masing ini sebagai bentuk rasa kepedulian kami kepada sesama warga demi mencari keberkahan. Dahulu dikemas dengan daun, sekarang bisa pakai kertas rames dikemas lebih rapih dan modern namun tradisinya tetap terjaga yaitu berbagi makanan dan makan bersama,” ungkapnya.

Sementara, salah satu panitia acara Samsul Bahri mengatakan pihaknya sebagai pewaris budaya berhak menjaga dan melestarikan tradisi leluhur yang sudah dilakukan turun temurun oleh masyarakat Kp Pancur Melati RT 01/02 RW 05.

Selain itu, ia mengungkapkan, hal ini salah satu bentuk rasa syukur warga kepada Sang Pencipta sudah mempertemukan kembali di 1 Muharram 1442 Hijriyah ini.

“Kegiatan arak-arakan ini sudah jadi kegiatan turun temurun kami sebagai pewaris budaya mencoba sampai sekarang melestarikan dan mempertahankan budaya yang baik ini. Hal ini juga kegiatan syiar dan bentuk syukur sudah di pertemukan kembali oleh 1 Muharram setiap tahunnya,” kata Samsul, selaku Seksi Humas Acara.

Ia juga menanggapi ketika disinggung terkait penerapan protokol kesehatan bagi warga yang tidak menggunakan masker dan tidak melalukan jaga jarak selama acara peringatan 1 Muharram 1442 Hijriyah berlangsung.

“Untuk protokol kesehatan dari pihak panitia sebenarnya sudah mengintruksikan tetapi namanya juga masyarakat dan banyak orang jadi ya susah. Menggunakan masker juga sudah dihimbau, mungkin panas ya. Arak-arakan ini dari KP. Pancur Melati terus ke kantor kelurahan terus balik lagi jadi kalau pakai masker mungkin panasnya nambah,” tandasnya. [Red/LE-Roy]

Bagikan: