By | 11 Juni 2020

patron.id – Serang, Komentar Anggota DPRD Lebak Musa Weliasnyah terkait dengan Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) atau Bantuan Sosial (Bansos) di media sosial dinilai merupakan komunikasi politik yang buruk.

Seperti yang diungkapkan oleh Penulis Tetralogi Politik: Politik Gender, Politik Identitas, Politik Era Digital, Filsafat Politik Agus Hiplunudin kepada awak media, pada Kamis (11/6/2020).

“Saya fikir fenomena Musa terkait Apdesi bermula dari komunikasi politik yang kurang elegan, sebagai pejabat Publik dirasakan kurang bekomentar melalui media sosial sehingga menimbulkan ketersinggungan kelompok tertentu,” ujarnya.

Menurut Agus, komunikasi politik Musa kembali blunder ketika menyikapi pandangan aktivis sekaligus pegiat media sosial Nurjaya dengan melakukan tindakan pelaporan ke Polda Banten. 

“Lagi-lagi hal ini seakan tidak dipertimbangkan secara matang, sehingga masalah ini terus bergulir. Yang saya amati berdampak buruk terhadap Saudara Musa itu sendiri,” ungkapnya.

Dirinya mengamati dan menyoroti polemik antara Musa dan Nurjaya yang terus mencuat. Terbukti dari informasi media yang beredar dan desas desus ditengah masyarakat, menurutnya hal ini harus segera terurai demi mengakhiri simpang-siur informasi dikalangan masyarakat.

Baca Juga:  Diduga Dendam Politik, Jalan Raya di Lebak Tak Kunjung di Perbaiki

“Salah satu solusinya, saudara Musa haruslah melakukan verifikasi secara terbuka kepada masyarakat adapun isi pesannya untuk menjelaskan kekeliruan selama ini, Saya pikir mengakui kekeliruan bukanlah aib melainkan sesuatu yang terhormat. Jika kita berkaca pada komunikasi politik masyarakat Jepang mereka menganggap mengakui kekeliruan bagian dari hagra diri itu sendiri,” lanjutnya.

Kendati demikian, Agus juga mengatakan, masyarakat Lebak yang menyukai keterbukaan informasi tanpa adanya informasi yang disembunyikan akan lebih elok diterima jika anggota DPRD Lebak tersebut menggunakan komunikasi politik yang elegan.

“Menurut saya komunikasi togmol inilah yang harus ditempuh oleh  Musa yang kemudian dapat diistilahkan sebagai verifikasi publik melalui saluran-saluran komunikasi yang ada. Tentunya hal ini haruslah memakai gaya komunikasi yang elegan,” pungkas Agus, pria yang juga seorang novelis.[Red/Aswari]

Bagikan: