By | 11 Agustus 2020

patron.id – Serang, Nelayan Karangantu, Kelurahan Banten, Kecamatan Kasemen, Kota Serang, mengeluhkan pendangkalan muara Karangantu, Sebab akibat terjadi pendangkalan, akses perahu nelayan yang akan melaut jadi terhambat, sehingga hasil tangkapannya menjadi berkurang.

Keluhan ini disampaikan Ketua DPD Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Provinsi Banten Sabrawijaya saat menghadiri kunjungan (kunker) Kementerian Kelautan dan Perikanan Bersama IV DPR RI di Pelabuhan Perikanan Nusantara Karangantu, Kecamatan Kasemen, Kota Serang, pada Selasa (11/8/2020).

Ketua DPD HNSI Provinsi Banten Sabrawijaya mengatakan, pihaknya meminta muara Karangantu dikeruk agar arus perahu nelayan saat akan melaut kembali lancar.

“Kami menerima aspirasi itu dari para nelayan Karangantu beberapa waktu lalu. Mereka mengeluh karena kesulitan saat akan melaut,” ujar Sabrawijaya, dihadapan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), anggota Komisi IV DPR RI, dan Walikota Serang Syafrudin.

Salah seorang nelayan asal Karangantu Emboy juga membenarkan bahwa kondisi saat ini muara Karangantu dangkal bukan airnya surut.

“Memang saat ini kondisi muara dangkal bukan karena surut, jadi memang harus dikeruk lumpurnya, supaya perahu bisa tidak kesulitan jalannya,” ucap Emboy, kepada patron.id usai acara.

Ia menyebutkan, kondisi tersebut sudah terjadi selama berbulan-bulan.”Sudah hampir dua bulan,” katanya.

Akibat muaranya dangkal, para nelayan tak hanya kesulitan saat akan melajukan perahunya, tetapi juga berdampak pada hasil tangkapannya.

Baca Juga:  Stroke 3 Tahun, Pria di Kota Serang Ditemukan Gantung Diri

“Jadi gara-gara dangkal waktu kita untuk berangkat jadi terhambat. Kadang sampai dua sampai tiga jam. Akhirnya siang baru nyampe di lautnya. Karena berangkatnya siang hasil tangkapannya pun berkurang,” ungkap dia.

Emboy menuturkan, muara Karangantu pernah dilakukan pengerukan menggunakan perahu tongkang, namun kurang maksimal hasilnya.

“Pernah dikeruk pake kapal tongkang cuman hanya tengahnya aja. Pingirnya mah gak. Maka jalan satu-satunya harus dikeruk pake alat berat,” tutur Emboy.

Sementara itu Walikota Serang Syafrudin menanggapi perihal pendakalan yang dikeluhkan para nelayan. Ia menjelaskan secara singkat, bahwa persoalan pendakalan sebenarnya sudah diprogramkan oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan namun terbentur pandemi Covid-19 sehingga program tersebut harus ditunda.

“Soal pendakalan sebenarnya sudah diprogramkan, ada program dari kementerian, tahun ini akan dinormalisasi akan tetapi terbentur Covid-19,” kata Syafrudin kepada patron.id usai acara.

Menanggapi hal ini, Staf Ahli Menteri Bidang Ekologi dan Sumber Daya Kelautan Kementerian KKP Pamuji Lestari mengatakan, terkait pendangkalan muara Karangantu bukan kewenangannya. Meski demikian, pihaknya sudah melakukan koordinasi dengan Kementerian PUPR dan Pemprov Banten agar segera menindaklanjuti persoalan tersebut.

“Bukan kewenangan kami, tapi kami sudah berkoordinasi dengan Kementerian PUPR karena perlu alat beko untuk mengeruk muara. Kami juga sudah menyurati dinas terkait di provinsi agar mengatasi persoalan itu,” kata Pamuji.[Red/Roy]

Bagikan: