By | 24 April 2020

Oleh Robiatul Adawiyah

Salam hangat kerabat patron yang budiman, kali ini penulis ingin berupaya membahas soal kaderisasi organisasi Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) di tengah pandemic covid-19 secara daring atau online.

Kabarnya memilih kaderisasi sama halnya dengan memilih untuk tetap bernafas? Ada benarnya, Sebab kaderisasi adalah ruh bagi jalannya kehidupan organisasi, bagi organisasi pengkaderan atau rekrutmen anggota baru adalah oksigen, kaderisasi yang dimaksud penulis adalah kaderisasi yang dilakukan secara berkesinambungan meliputi anggota, kader, pengurus di struktural maupun alumni.

Dalam proses perjalanan kaderisasi, secara mendasar hal-hal yang dianggap sederhana seringkali menjadi hambatan dan juga keterbatasan bagi para penggerak kaderisasi di setiap tingkatan jenjang, mulai dari keterbatasan biaya, sempitnya akses hingga sentimen dan ketidaksolidan antar pengurus kerap terjadi, Namun meskipun demikian biasanya aktivis acap kali menemukan langkah jalan keluar dari persoalan tersebut dengan mengelola konflik atau masalah sebagai kekuatan.

Masih hangat dalam ingatan beberapa pekan yang lalu jagat sosial media dipenuhi dengan terobosan baru yang dikemukakan oleh Pelayannya para pelayan kader; Sahabat Dwi Winarno tentang ‘kaderisasi online’.

Kaderisasi online yang dimaksudkan sebagai alternatif dari segala bentuk hambatan yang saat ini sedang terjadi namun tidak mengurangi esensi dari point-point kaderisasi itu sendiri.

Kondisi saat ini memaksa kita untuk tidak melakukan proses kaderisasi secara langsung karena melanggar permen kemenkes dan kemendibud, Sementara itu proses penerimaan mahasiswa baru di pergurauan tinggi yang menjadi sumber daya utama bagi proses perekrutan kaderisasi sedang dan sudah berjalan.

Hal ini menjadi pokok Fikiran bagi pengurus struktural di tingkat paling bawah yaitu pengurus Rayon dan Komisariat, terlebih sejauh ini belum ada obat yang paling berkhasiat atau telah mengalami uji klinis dan diproduksi secara massal juga dengan vaksin yang secara umum membutuhkan waktu 12-18 bulan untuk bisa diproduksi secara massal. Lalu bagaimana dengan nasib kaderisasi formal yang sudah termaktub dalam ad/art PMII?

Baca Juga:  Indonesia Melangkah di Tengah Pandemi Wabah

Dilematis bukan?

Belum lagi saat ini kebijakan yang telah dikeluarkan oleh kementerian terkait, tentang proses pendidikan di tingkat sekolah dasar hingga menengah menggunakan siaran di televisi untuk memudahkan siswa dan siswi mencari akses alternatif di tengah sarana yang terbatas.

Begitupun dengan sistem perkuliahan di Perguruan tinggi yang bahkan proses belajar mengajar hingga sidang skripsi dilakukan berbasis online dengan memenuhi standar yang ada juga diterima dalam waktu yang singkat, Lalu mengapa hal ini tidak bisa dilakukan untuk kaderisasi formal?

Hal ini perlu dibedah dan dijawab oleh kader penggerak kaderisasi yang mempunyai otoritas dan pemegang regulasi.

Adapun mengenai teknis dan komponen yang akan meliputi proses kaderisasi online bisa didiskusikan kembali, bila kita semua sudah bisa satu frekuensi.

Meskipun jika kaderisasi online sudah bisa digelar jangan sampai kaderisasi hanya memenuhi data statistik (kuantitas) di tubuh organisasi kita, Sebab hal tersebut tidak akan ada bedanya dengan partai yang hanya mengeksploitasi. karena bagi Penulis Kaderisasi harus mempunyai kesadaran nilai, sehingga calon anggota Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia nantinya kuat secara ideologi dan kualitas, bagaimna tanggapan anda kerabat patron yang budiman?

Bagikan: