By | 26 Mei 2020

Oleh : Wardah Aulia

Saat ini dunia dihebohkan dengan munculnya virus yang mematikan yaitu virus corona disease (Coviovid) atau bisa disebut dengan Virus Corona.

Apa itu Covid-19 ? Covid-19 adalah penyakit yang menyebabkan gangguan pernapasan dan radang paru-paru.

Penyakit ini disebabkan oleh infeksi Severe Acute Respiratory Syndrome Corona Virus 2 (SARS-COV 2).

Virus ini menyebar dengan begitu cepat ke berbagai belahan Negara seperti Amerika, Inggris, Thailand, dan Negara kita tercinta yaitu Indonesia.

Pandemik virus mematikan ini sudah banyak memakan korban? virus yang telah menjalar ke 118 Negara itu telah menjadi perbincangan sejak akhir Desember 2019 hingga sekarang.

Penyebarannya cukup cepat hingga saat ini diketahui pandemik Covid-19 telah menyebar ke 213 Negara dan menginfeksi lebih dari 4,6 juta orang.

Pandemik ini menimbulkan banyak kegiatan masyarakat yang dihentikan seperti karyawan swasta yang diberhentikan pekerjaan nya, yang mengakibatkan goncangnya perekonomian masyarakat di seluruh dunia.

Pendidikan Sekolah dari mulai TK, SD, SMP, SMA, sampai perguruan tinggi diberhentikan bahkan kegiatan belajar mengajar diganti dengan kegiatan belajar di rumah, bahkan masih banyak lagi hal yang merugikan akibat pandemi ini.

Namun meskipun demikian, menurut antropolog interdisipliner dan ilmuan kognitif Samuel Paul Veissiere Ph.D, ketakutan yang berlebihan yang muncul terhadap pandemik ini justru merugikan.

Sebab, bisa menimbulkan resiko ekonomi dan psikologis yang bisa hadir tanpa kita sadari, Maka dari itu janganlah terlalu panik atau cemas lebih baik kita mencegahnya yaitu salah satunya dengan cara Behaviour Social, untuk menggurangi korban akibat Covid-19.

Namun dibalik pandemik dan perasaan panik, ada hikmah atau sisi positif yang dapat kita petik, yaitu :

Lebih banyak Quality Time bersama keluarga, Dengan adanya Pamdemik ini, banyak orang yang lebih memilih di rumah dan melakukan kegiatan di rumah ketimbang melakukan kegiatan di luar rumah.

Dengan demikian banyak waktu yang di lakukan bersama keluarga seperti bermain, berkumpul dll, kita juga jadi lebih dekat dengan keluarga dan lebih peduli dengan kesehatan.

Pemberitaan mengenai wabah virus Covid-19 memang membuat panik di sejumlah Negara, namun, dibalik itu kerena wabah tersebut kita sekarang lebih memperhatikan kesehatan dan lebih menjaga kebersihan.

Baca Juga:  Tantangan Demokrasi di Saat Pandemi

Kita juga jadi mengingat untuk peduli dengan sesama dan memaksa diri untuk bisa bekerja sama secara global dengan kompak melakukan Social Distancing juga isolasi mandiri.

Dengan mengingat bahwa hidup manusisa secara tidak langsung saling terhubung, kita diingatkan betapa berharganya kita satu sama lain.

Seluruh dunia bekerjasama dunia seakan bersatu padu untuk mengalahkan musuh bersama yakni virus corona-19.

Kerjasama dalam sekala global belum pernah terjadi, Sebelum kepanikan mengenai Covid-19, karena menyita perhatian, setiap orang menghadapi masalah masing-masing.

Seperti kecemasan, kesepian, penyakit mental, dan meningkatnya ketidak pastian tentang masa depan.

Dari isu politik hingga perubahan iklim, kasus bunuh diri karena keputusasaan dan bullying di media sosial yang rentan merusak mental kita.

Segala masalah yang terjadi menjadi gejala individualisme yang merajalela.

Namun kasus pandemi Covid-19 telah membuat semua orang fokus pada hal yang sama dan pentingnya koordinasi.

Pemerintah dunia saat ini mengkoordinasikan tindakan pencegahan dengan kerja sama yang belum pernah terlihat sebelumnya.

Manusia saling membantu Bencana alam biasanya menyatukan orang dan memicu tindakan solidaritas di antara sesama.

Sementara ancaman pandemik bagaimanapun telah menyatukan seluruh umat manusia melawan ancaman nyata, manusia saling membantu tanpa melihat suku, ras atau kepercyaan.

Kualitas udara membaik Kesehatan mental yang buruk hingga menimbulkan polusi yang meningkat, seakan menjadi bukti bahwa masyarakat terlalu sibuk bekerja, konsumsi berlebihan, dan terlalu individualisme.

Ketika Social Distancing sedang dilaksanakan di seluruh dunia, kualitas udara menjadi membaik sepertiti berkurangnya orang berkendara sehingga berkurangnya polusi udara setiap harinya.

Hobi tertunda bisa terlaksana saat isolasi mandiri, Awalnya mungkin sulit untuk melakukan segala kativitas hanya dari rumah, tapi hal itu perlu di lakukan untuk menyelamatkan kesehatan pribadi dan saling menjaga satu sama lain.

Kebijakan isolasi mandiri juga memberi kita kesempatan untuk bekerja lebih sedikit, lebih banyak menghabiskan waktu bersama orang-orang tersayang, dan menemukan waktu untuk mengobrol, memainkan musik, memasak, dan segala hal yang terlibat dalam kesenangan.

Bagaimana tanggapan anda kerabat patron.id yang budiman?

Conveyor Of Public Opinion merupakan Mahasiswa Aktif Universitas Islam Sultan Maulana Hasanuddin (UIN SMH) Banten.

Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *