By | 25 April 2020

Oleh: Sri Fachmi Haqiqi
Mari pulang dulu.
Regangkan kemelut syarafmu itu.
Lunakkan tegangnya ototmu itu.

Lihat,
Di sana terbentang sebuah peluk hangat,
Menunggumu untuk berlari mendekat.

Mari pulang dulu.
Sudah banyak seruan yang tak kau dengarkan.
Sudah banyak wejangan yang kau tinggalkan.
Tanpa kau tahu,
Ia selalu menunggumu, dari kejauhan.

Mari pulang dulu.
Segelas coklat hangat, bisa jadi teman usai kau berlutut tobat.
Mari pulang dulu.
Dia selalu menunggumu tanpa kau tahu.
..

Bagikan:
Baca Juga:  Takdirku Hanya Temu