By | 22 Februari 2020

Oleh : Wulan Purwati


Air langit membasahi bumi
Rerumput itu menjadi basah
Bau harum yang ditebarnya
Menyejukkan mata juga hati

Aku baru saja membuka mata
Seperti biasa ia selalu mendahului ku
Meski hanya suara derap langkah
Ia tetap tau itu adalah aku

Sebagai seorang pengagum
Yang bisa kulakukan hanya menatapnya
Entah dari depan atau dengan melihat punggungnya saja
Itu pun sudah cukup membuatku merasa berdosa

Tatap penuh kasih yang terbungkus gurat lelah
Tak pernah memudar walau sedikitpun
Lembut tutur kata yang terlontar
Tak pernah sepatahpun menyakitkan

Baca Juga:  Aku Takut Ini Ramadhan Terakhirku

Ma …..
Kekuatan apa yang dititipkan Tuhan kepadamu
Hati sebening embun kah yang punya itu
Ma . . . .
Aku malu pada Tuhan
Kala kewajibanku tak pernah ku tunaikan
Aku malu padamu
Saat hak-hakmu belum juga ku genapkan

Sedang pintaku tak berkesudahan
Dan egoku kian menyakiti perasaan
Namun engkau tak pernah menuntut balas
Justru mendekapku penuh cinta dan tanpa batas

Bagikan: