By | 19 Mei 2020

Oleh : Dinda Muzdalifah

Kerabat patron.id yang budiman, penulis kira sudah menjadi rahasia umum bagi mahasiswa tingkat akhir sering terjadi merasa pusing, ruwet, lelah, dan bahkan putus asa untuk mengerjakan skripsi.

Kerap kali memaksakan mengerjakan juga berujung mentok atau tidak tau caranya untuk berfikir lebih.

Namun, jadi beban tersendiri jika tidak dilanjutkan pasalnya akan selalu merasa dihantui oleh pertanyaan khalayak umum Kapan lulus? Sidang? Wisuda? Sudah kerja dimana? Bahkan rentetan pertanyaan yang sungguh membebani.

Suka tidak suka baik disengaja atau tidak, kita masih memiliki budaya yang cukup kental dengan bercerita pada sang ahli agama sebutlah Ulama ketika berhadapan dengan persoalan yang dinilai pelik dengan tujuan untuk mendapat do’a darinya, atau mendapatkan tips berdzikir untuk memperlancar jalan menyusun skripsi.

Barangkali masih banyak orang merasa praktik tersebut dinilai irasional, bahkan bertanya tanya “Apa hubungannya dzikir dengan mentok nya menyusun skripsi?”, lalu penolakan selanjutnya dengan berdalih “percuma berdo’a komat kamit kalau tidak ada usaha, dzikir pun menjadi sia-sia”

Sementara itu bila kita urai bahwa berdzikir adalah merupakan ibadah umat muslim untuk mengingat  dan memuji Allah dengan bacaan paling utama “laa ilaha illallah” atau menyebut keagungan Allah yang bertujuan demikian.

Seperti yang kita tahu, para ahli agama selalu berdzikir bahkan tidak mengenal tempat.

Para ahli agama pekerjaannya  bukan hanya komat-kamit berdzikir, ada yang berprofesi sebagai penulis, petani, pengusaha, pendidik (memiliki yayasan), terjun di dunia politik, dan lain – lain.

Namun hal tersebut sepertinya tidak berlaku dalam profesi kemaksiatan, jika ada berarti bukah ahli agama namanya. Disini kita bisa melihat kekebalan tubuh para ulama atau kiyai lebih sehat dan lebih kuat.

Para Ulama atau kiyai juga memiliki umur yang panjang, dengan wajah yang berseri dan bersahaja, Sungguh sebuah keberkahan, bagi kita semua.

Ternyata, Irasional bagi kita adalah ketidak tahuan kita, Dzikir sangat dianjurkan, agar kita selalu mengingat Allah SWT.

Memang betul, ketika mentok mengerjakan skripsi, atau putus asa ketika berusaha, dzikir tidak langsung membereskan skripsi atau tiba-tiba semangat berusaha.

Tapi harus dibarengi dengan usaha kita mngerjakanya, juga mencari jalan keluar, serta dalam keadaan tubuh bugar, dan otak segar.

Teknik dzikir dibahas dalam kitab Minahus Saniyah, dalam kitab ini dijelaskan bahwa teknik dzikir ada dua.

Pertama dzikir secara Jahr (terucap keras), dzikir Jahr bertujuan untuk pemula agar lamunan-lamunan menjadi terfokuskan pada suara yang terucap oleh dirinya sendiri.

Kedua dzikir Sir (dalam hati), dzikir ini akan mudah dijalani ketika dzikir Jahr  sudah melekat dialam bawah sadar, dan menjadi terfokus pada satu (sang khalik).

Sehingga dzikir Sir akan terus terucap dalam hati, menjadikan diri manusia meleburkan diri hanya pada satu (sang khalik).

Namun ternyata dzikir secara Rasionalitas sains, hal tersebut sama dengan meditasi.

Meditasi adalah proses relaksasi untuk mengosongkan pikiran, atau meringankan beban stres dan cemas.

Dzikir bisa dikatakan sama dengan meditasi konsentratif dan nondirective.

Meditasi konsentratif ini bertujuan untuk fokus pada pernapasan atau pemikiran tertentu dan memblokir pikiran lainnya, sehingga otak ketika diuji (MRI/pemeriksaan menggunakan gelombang radio) nampak sedang istirahat dan tenang.

Sedangkan Meditasi nondirective, adalah fokus terhadap pernapasan dan suara meditasi namun pikiran boleh berkelana kemanapun.

Baca Juga:  UMKM Bisa Jadi Solusi Kemerosotan Ekonomi di Banten Akibat Corona

Dari kedua meditasi ini sangat mirip bahkan bisa dikatakan sama dengan cara umat muslim berdzikir, dimana suara dan nafas teratur yang terdengar seirama dengan pikiran. Dimana boleh fokus pada satu hal pikiran, atau mengembara.

Pada saat merasa rileks dan pikiran sudah mulai fokus, tubuh secara spontan akan meningkatkan sistem syaraf parasimpatis yang mengatur kerja jantung, pernapasan, dan fungsi-fungsi kerja motorik, serta mengurangi aktivitas sistem syaraf simpatis, sehingga membangkitkan tubuh untuk bertenaga dalam kegiatan (semangat).

Hal ini akan mengurangi ketenggangan, dan meningkatkan relaksasi. Ingat relaksasi bukan magerisasi yah, jelas sangat berbeda.

Pada saat dzikir, kemudian dicapainya rileksasi pada otak maka akan menghasilkan hormon endorfin.

Hormon ini berfungsi sebagai penghilang rasa sakit, hormon endorfin sama seperti morfin.

Morfin adalah obat buatan yang berfungsi sebagai penghilang sakit mulai dari sedang hingga parah, salah satunya sebagai obat penghilang sakit kanker.

Jadi, ketika mendatangi kiyai atau syech yang pertama dianjurkan adalah berdzikir dengan khusyuk. Untuk mendapatkan ilmu, ide, gagasan diperlukan tubuh yang bugar, juga otak yang fresh dan jernih.

Karena tanpa memiliki hal tersebut tidak mampu menerima informasi untuk berfikir baik.

Bahkan menurut NHS (National Health Service) menganjurkan meditasi dilakukan secara rutin, dan dalam Islam juga selalu dianjurkan untuk berdzikir. Jadi, bukan semata-mata hanya komat-kamit, tapi banyak reaksi biokimia yang terjadi didalam micro cosmos tubuh ini ketika komat-kamit kita menjadikan fokus dan tenang.

Mencari uang itu mudah, mencari pengetahuan itu mudah, jika dalam keadaan tubuh bugar dan otak segar.

Rilekasasi otak adalah kunci kesuksesan, 24 jam dalam sehari, mungkin meluangkan waktu 30 menit sehari untuk brdzikir/meditasi seharusnya bukan hal yang sulit, Karena kalau kita renungi, berapa banyak waktu yang sia-sia? Jika dibandingkan dengan bermain game, menonton tiktok atau menjadi stalker di sosial media.

Jika dzikir dianggap sulit, setidaknya sekarang kita bisa memulai dengan bungkam dan berfikir “mengapa begitu sulit untuk mengingat-Nya?” padahal kita selalu menyadari alam semesta dan seluruh isinya ini milik-Nya.

Tenangkan hati, dalam tenang akan ditemui segala macam isi dunia dan bukan dunia, Jangan memaksakan berfikir ketika otak merasakan gelap, ibaratnya “Ingin melihat terumbu karang dan ikan yang indah dilautan dengan keadaan air bercampur pasir.

Lalu dengan memaksa kau masuk menceburkan diri, dan membuat air lebih keruh lagi.

Sampai kapanpun kau tak akan pernah melihat keindahan yang kau impikan.

Caranya, kau hanya perlu diam, membiarkan air itu kembali jernih dan kau akan melihat keindahan isinya”.

Maka, itulah peran dzikir dalam segala kegiatan kehidupan dunia ini.
Jadi, ketika otak kita tak mampu lagi untuk berpikir hentikan sejenak aktivitas tersebut.

Refresh otak kita dengan berdzikir/meditasi sejenak, layaknya komputer atau laptop yang sudah panas dan nge-hang, maka bukan solusi memaksanya untuk terus dipaksa digunakan.

Solusinya adalah mematikan dari segala aktivitasnya, dan meng-istirahatkannya sejenak bukan? Sama halnya dengan diri manusia, berikan waktu untuk istirahat yang baik dan berkualitas dengan cara berdzikir.

Bagaimana tanggapan anda kerabat patron.id yang budiman?

Conveyor Of Public Opinion merupakan
Mahasiswa Aktif Universitas Sultan Ageng Tirtayas (Untirta).

Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *