By | 10 Maret 2020

patron.id – Serang, Kelompok Mahasiswa dan pemuda Serang utara yang terdiri dari Ciruas, Pontang, Tirtayasa, Tanara, Lebak Wangi, Carenang, dan Binuang lakukan kajian terbuka terhadap kebijakan yang sedang dilakukan pemerintah Kabupaten Serang.

“Pengangguran di kabupaten serang yang menjadi peringkat pertama di provinsi banten, tidak sesuai dengan ratusan di kabupaten serang, masyarakat hanya mendapatkan imbasnya saja dengan adanya industri tersebut,” ujarnya pada forum kajian yang berlangsung di Kecamatan Tanara, Kabupaten Serang, pada Selasa, (10/3/2020).

Ahmad Muhazer selaku pemuda Serang Utara mengatakan, dampak pembangunan industri di wilayah Serang Timur yang dimulai sejak tahun 1991 dinilai belum memihak kepada penanggulangan masalah pengangguran di Kabupaten Serang.

“Kecamatan tanara kini sedang mengalami perubahan yang sangat drastis dengan adanya pembangunan nasional yang sekala internasional akan tetapi pertanyaan nya apa yang sudah di lakukan oleh bupati serang sampai saat ini,” lanjutnya.

Sementara itu, pendapat lain diungkapkan oleh Imron Nawawi selaku ketua umum GAMSUT yang menilai bahwa masalah sungai Cidurian dan Ciujung masih terus menjadi masalah klasik yang berlum terselesaikan dan berimbas kepada masyarakat yang bermukim di sekitar bantaran kedua sungai tersebut.

“Bupati serang dari tahun ke tahun tak pernah tegas dan tak pernah mengambil kebijakan yang menyelamatkan masyarakat di wilayah Serang Utara, karena sampai sekarang pencemaran sungai terus saja menjadi momok menakutkan bagi masyarakat di Serang Utara. Karena akibat pencemaran tersebut, masyarakat yang selalu menjadi imbas dari masalah tersebut, mulai dari segi ekonomi yang signifikan turun drastis akibat sumber daya alam nya di rusak, segi kesehatan yang selalu membelenggu masyarakat akibat dampak tersebut seprti halnya keracunan, gizi buruk dan stanting yang melanda akibat pendapatan orang tuanya semakin hari semakin turun dan tak mencukupi untuk keperluan sehari harinya, dan segi pendidikan pun sama terkena dampak akan hal itu karna akibatnya anak2 petani dan nelayan disana sampai putus sekolah karna hal tersebut,” ungkapnya.

Baca Juga:  Diantara Implikasi Covid-19 dan Patah Hati

Selain dari hal yang disebutkan, sulitnya mendapatkan pekerjaan ditanah kelahiran, menurutnya hal tersebut mendasari perekonomian wilayah Serang Utara sebagai pemasok Tenaga Kerja Indonesia (TKI) terbanyak di Kabupaten Serang.

“Selain itu faktor ekonomi juga mendasari wilayah Serang Utara menjadi pemasok Tenaga Kerja Indonesia (TKI) terbanyak di Kabupaten Serang. Di lain sisi mereka sulit mencari kerja sehingga mereka memilih untuk kerja di luar negeri untuk menghidupi kehidupan nya, apalagi sekarang-sekarang ini tiap tahun sering mengalami bencana alam seperti kebanjiran yang melanda di semua wilayah di Serang Utara bahkan kemaren yang lebih parahnya lagi sampai terjadi kekeringan yang cukup lama selama 5 bulan melanda wilayah Serang Utara,” ucapnya.

Imron juga menambahkan, selain persoalan pencemaran lingkungan di kabupaten Serang, ternyata masalah infrastruktur turut menjadi kegelisahan. Ia menuturkan, pembangunan jalan di wilayah Kabupaten Serang perlu di evaluasi.

“Sampai sekarang sebagian besar infrastruktur jalan yang menjadi kewenangan pemerintah Kabupaten Serang masih banyak yang belum tersentuh oleh pembangunan, sedangkan perda no 3 tahun 2017 tentang pecepatan pembangunan jalan di Kabupaten Serang harus perlu di evaluasi dan di kritisi karena memang yg menjadi ketentuan akan prioritas pembangunan ga tepat sasaran karena yang seharusnya menjadi prioritas pembangunan jalan ternyata tidak di jadikan prioritas,” tegasnya.

Dalam penutupnya, pada kajian tersebut, pemuda dan mahasiswa Serang Utara menyatakan sikap bahwa Bupati Serang gagal dalam menjalankan roda pemerintahan, karna belum bisa memecahkan persoalan di wilayahnya.[Red/Setiadi]

Bagikan: