By | 7 Februari 2020

Oleh : Dhimas Maulana Hadi

“Sampai saat tanah moyangku tersentuh sebuah rencara dari serakahnya kota terlihat murung wajah pribumi, terdengar langkah hewan bernyanyi” Sepenggal lirik lagu Iwan fals yang berjudul ujung aspal pondok gede di atas mewakili perasaan masyarakat kopo saat ini.

Tentu bukan tanpa alasan kenapa bisa demikian?

lagu iwan fals yang tidak asing di masyarakat itu, seirama dengan apa yang kita lihat, sawah-sawah mulai berganti wajah menjadi bangunan seperti Pabrik, Perumahan dan berbagai macam pemukiman baru sehingga membunuh pepohonan yang akan tumbuh, serta padi yang akan beregenerasi.

Bangunan yang sudah berdiri di atas lahan tersebut memiki potensi untuk mencemari lingkungan dan menimbulkan berbagai macam kerusakan ekosistem, terlebih keberadaan perumahan-perumahan yang berdiri ditengah-tengah masyarakat kopo ini kemungkinan lima sampai 10 tahun kedepan akan menimbulkan potensi konflik sosial antara warga lokal dengan pendatang.

Terutama perihal perebutan mata pencaharian, perebutan lahan, dan akan terjadi akulturasi budaya pendatang yang bertentangan dengan warga lokal kopo, seperti budaya kehidupan liberal yang sudah dimiliki oleh masyarakat kota yang dibawa oleh pendatang bertentangan dengan masyarakat kopo yang memegang teguh nilai-nilai agamis dan tradisional.

Yang dijelaskan di atas merupakan realitas yang sedang terjadi di Kopo saat ini, tentu jika situasi membahayakan ini terus dibiarkan akan berdampak negatif bagi masa depan masyarakat kopo, maka perlu ada solusi yang efektif dan responsif dari pihak pemerintah terutama pihak kecamatan kopo.

Perasaan Resah dan kekhawatiran penulis, diperparah ketika membaca peraturan daaerah kabupaten Serang yang tidak berpihak terhadap khalayak umum, penduduk setempat, Peraturan Daerah (Perda) Nomor 10 Tahun 2011 Tentang Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Serang Tahun 2011-2031. Bahwa ada beberapa poin dalam draf RTWR tersebut diantaranya, kecamatan kopo sebagai wilayah pertambangan, pemukiman perkotaan, dan akan dibangun terminal.

Dari RTRW tersebut kita bisa membayangkan Kecamatan Kopo di masa depan akan berada pada arus pembangunan yang begitu pesat, jika secara fisik Kecamatan kopo akan terlihat lebih cantik, tapi pertanyaan dalam lubuk hati yang paling dalam yang sudah membara untuk segera dilontarkan permasalahannya kepada semua pihak stakeholder yang ada dikecamatan kopo.

Baca Juga:  BUM Des Ujung Tombak Development

“Apakah masyarakat kopo secara SDM sudah siap untuk menghadapi segala dampak buruk dari arus pembangunan tersebut?”

“Lantas bagaimana nasib warga lokal kecamatan Kopo yang tidak siap untuk menghadapi segala macam tantangan dan permasalahan yang akan datang?

Semua sudah kita rasakan, kemudian diprediksikan ke depan, jika pembangunan terus dilaksanakan tanpa ada pengembangan SDM dari warga lokal maka akan terjadi pertarungan sosial, kemudian warga lokal kopo akan dihinakan, kalah, tersingkirkan dan diasingkan di tanah kelahirannya sendiri.

Dari penjelasan diatas penulis menaruh harapan besar pada para pemangku kebijakan di Kecamatan Kopo tentang menyiapkan SDM Masyarakat Kopo untuk menjawab segala tantangan di masa depan agar pembangunan di kecamatan kopo tidak hanya berbasis fisik tapi juga membangun manusia yang memiliki kompetensi tinggi di berbagai bidang.

Jangan sampai pembangunan ini tidak menghapuskan angka pengangguran dan angka kemiskinan di kecamatan kopo, sehingga pembangunan ini seolah-olah membunuh warga lokal kopo secara perlahan dan tidak langsung.

Maka penulis mengusulkan beberapa gagasan diantaranya : Pemerintah harus hadir dan turun langsung dalam pengembangan SDM masyarakat kopo, terutama penyediaan akses pendidikan secara maksimal. Pembangunan harus berorientasi pada ekonomi kerakyatan sehingga mampu meningkatkan kesejahteraan. Pembangunan harus ramah lingkungan jangan sampai pembangunan yang dilaksanakan menimbulkan kerusakan alam yang dapat merugikan masyarakat luas.

Sekian tulisan yang berasal dari keresahan akan tanah kelahiran ini dibuat, semoga dapat membangkitkan kesadaran tentang menjaga tanah kelahiran agar tetap menjadi tempat yang nyaman dan damai, tetap menjadi ruang hidup yang dapat dinikmati oleh generasi penerus masyarakat kopo tanpa harus takut tersingkirkan dan menjadi babu di rumah sendiri.

Bagaimana Tanggapan Anda kerabat patron yang budiman?

Bagikan: