By | 2 Agustus 2018

patron.id – Serang, Penangkapan 8 orang yang diduga teroris pada akhir Juli lalu membuat wilayah Provinsi Banten belum termasuk aman. Bahkan, berdasarkan hasil riset menyatakan bahwa Provinsi Banten berada di zona merah terkait keberadaan terorisme. Hal itu disampaikan Ketua Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Provinsi Banten Brigjen Pol (Purn) Rumiah Kartoredjo kepada seluruh elemen masyarakat yang hadir dalam acara penguatan kapasitas penyuluh agama dalam menghadapi radikalisme dengan bertema “Ayat-ayat Damai”, Kamis (2/8), di Hotel Horison, Cilegon.

“Minggu (27 Juli) lalu kita dikagetkan dengan adanya penangkapan delapan orang yang diduga terlibat dalam kegiatan radikalisme atau terorisme yang notabenya ditangkap di beberapa daerah Provinsi Banten,” kata Rumiah dalam sambutannya.

Rumiah mengungkapkan melalui FKPT, pemerintah Provinsi Banten memiliki kemauan keras untuk merubah hal itu karena pihaknya tidak ingin wilayahnya semakin hari semakin tipis dengan adanya isu-isu serta berdasarkan hasil riset menyatakan bahwa Banten masih berada di zona merah terkait terorisme.

“Masyarakat tidak ada yang ingin zona merah, justru kita kepengen zona hijau, artinya bebas dari terorisme. Jangan ada lagi ditemukan terorisme di Banten, ini PR (pekerjaan rumah) kita bersama. Mari kita bersatu bersama-sama untuk menolak dan stop adanya kegiatan-kegiatan radikalisme dan terorisme di wilayah Provinsi Banten,” tuturnya.

FKPT yang merupakan kepanjangan tangan dari Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Republik Indonesia, lanjut Rumiah, mengakui pihaknya masih belum maksimal meski upaya pencegahan terorisme secara terus menerus dilakukan “Ternyata tidak semudah itu, tidak semudah yang kita bayangkan, bahwa hal itu akan cepat tuntas. Untuk itu kita (FKPT Banten) tidak mau berhenti sampai di situ saja, justru kita tetap berusaha bersama-sama menjaga Banten agar lebih aman dan damai lagi,” terangnya.

Baca Juga:  Koreda dan Pertuni Minta KPU Perhatikan Aksesibilitas Penyandang Disabilitas

Oleh karenanya melalui moment tersebut Rumiah berharap para penyuluh agama yang senantiasa selalu berdekatan dengan murid, santri dan masyarakat karena pihak-pihak tersebut dinilai selalu bertatap muka di setiap saat. “Nanti peran-peran bapak ibu sekalian dalam melaksanakan penyuluhan supaya anak-anak kita berikutnya tidak lagi mendapatkan ayat-ayat palsu seperti yang disampaikan ketua panitia,” ujarnya.

Sementara itu perwakilan dari BNPT yang turut hadir pada kesempatan tersebut mengungkapkan kegiatan penguatan kapasitas penyuluh agama dalam menghadapi tindakan radikalisme harus dilakukan karena salah satu bentuk cara menanggulangi terorisme. “Dibutuhkan sinergitas yang kuat antara pemerintah dengan elemen masyarakat, termasuk di dalamnya adalah penyuluh agama, agar turut mengatasi hingga ke akar-akarnya,” ungkap Kasubdit Pemulihan Korban BNPT Roedy Widodo saat sambutan.

Selain itu, Roedy menuturkan kegiatan tersebut merupakan salah satu dari tiga tugas BNPT yakni kontra radikalisasi, deradikalisasi, kesiapsiagaan nasional. “Terkait acara ini adalah bagian dari kontra radikalisasi, dan menyiapkan civitas atau aparatur pemerintah untuk bersama-sama melakukan kesiapsiagaan nasional. Karena terorisme masih manjadi ancaman nyata bagi kedamaian di Indonesia, khususnya di Provinsi Banten,” terangnya.

Melalui moment tersebut, Roedy mengajak semua kalangan, baik dari penyuluh agama, tokoh adat budaya, tokoh masyarakat sebagai garda terdepan untuk senantiasa meningkatkan ketahanan diri dari paham radikal dan terorisme. “Seraya membangun deteksi dini dan pencegahan dirinya melalui kepedulian di lingkungan sekitar. Karena terorisme bisa terjadi kapan dan dimana pun secara tidak terduga. Selain itu para pelaku merupakan bagian dari masyarakat yang setiap saat ada dan bisa mendiami lingkungan di sekitar kita,” pungkasnya.

Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *