By | 18 April 2020

Oleh: Sri Fachmi Haqiqi
Jerit padi memekakkan telinga.
Asa sudah tak ada lagi di sana.
Pecah tangis melimpah ruah,
Berharap langit lebih bermurah.

Bum..
Beton ditanam, padi dipanen.
Crat..
Saluran irigasi berganti aliran semen.
Kuatkan akar beton, matikan akar padi tanpa ampun.

Kulihat bapak di ujung ladang.
Di gubuk reot yang cocok menjadi kandang.
Bapak terdiam membisu, nampak jelas tulang kering si Bungsu.
Ibu menangis tersedu, si Sulung, siap dimakamkan sore itu.

Baca Juga:  Jendela Pesantren

Tak ada lagi arak-arakan pesta panen.
Yang ada hanya tumpukan bantal-bantal semen.
Tak ada lagi suguhan Dewi Padi.
Yang ada hanya rencana pengurukan ladang esok pagi.

Peluh bapak mengucur tak permisi,
Akankah esok masih ada nasi?

{Jerit tertahan, 2019}

Bagikan: