By | 2 April 2019

patron.id – Memilih musang sebagai hewan peliharaan memang agaknya terdengar aneh. Namun jangan salah, belakangan mulai banyak ditemui sekumpulan orang yang sedang asik bermain-main pada hewan ‘pengganggu’ tersebut.

Di Serang tepatnya di Alun-Alun Timur Kota Serang, ada sebuah komunitas musang yang dikenal dengan nama komunitas Jamulba a.k.a Jawara Musang Lovers Banten. Komunitas Jamulba ini adalah orang-orang yang mempunyai satu kesamaan hobby atau passion dalam hal memelihara, mencintai serta menjaga kelestarian musang dari ambang kepunahan serta perburuan liar.

Menurut anggota dari komunitas Jamulba tersebut masih banyak pandangan dari masyarakat luas bahwa musang merupakan hewan liar yang suka mengganggu kawasan penduduk setempat mulai dari mencuri hewan ternakan seperti misal ayam, burung dan lain-lain, juga seringkali memakan tanaman buah-buahan milik warga. Padahal lebih dari itu sebenarnya musang adalah hewan yang sangat lucu dan asyik untuk dipelihara serta bisa dijadikan teman bermain seperti kucing, kelinci, anjing, dan hewan peliharaan menggemaskan lainnya.

Komunitas Jamulba terbentuk sejak 7 tahun lalu itu, tepatnya pada 16 Desember 2012 yang saat ini diketuai oleh Arya Maulana. Kegiatan yang dilakukan oleh komunitas ini seperti, berkumpul bersama dan berbagi informasi atau sharing tentang musang, serta membahas kendala-kendala apa saja yang sering terjadi oleh para pemelihara musang. Selain itu juga, tujuan dari komunitas Jamulba ingin mengenalkan lebih dekat kepada masyarakat luas tentang hal-hal yang selama ini dianggap tabu oleh masyarakat, seperti musang adalah hama dan hewan penggangu. Oleh karenanya, peran setiap anggota dari Jamulba-lah untuk bisa merubah pola pikir atau mindset yang selama ini ada pada masyarakat.

Baca Juga:  Kagok Hanyier, Pelopor Eksistensi Layangan Di Kota Serang

Komunitas Jamulba kerap mensosialisasikan musang-musangnya kepada masyarakat dengan menggunakan Musang pandan atau paradoxurus hermaproditus. Baunya yang menyengat mirip bau pandan merupakan ciri khas yang menjadikan nya sesuai nama aslinya yaitu “Muspan” atau Musang Pandan. Kini menurut Arya, hewan endemic itupun banyak diminati oleh masyarakat, sehingga banyak tersedia musang pandan yang diperjual belikan dipasar hewan dengan harga beragam, mulai dari 350 ribu sampai dengan 450 ribu rupiah.

Meski kini masih banyak Pro dan Kontra dalam pandangan masyarakat terhadap hewan musang tersebut, tetapi Arya dan para anggota Jamulba lainnya tidak patah semangat, berusaha melakukan yang terbaik untuk tetap mencintai dan melestarikan alam, salah satunya yaitu dengan melestarikan musang-musang tersebut sebagai bentuk kecintaannya juga pada Indonesia.

Dengan penuh harap, Arya mengatakan, adanya komunitas Jamulba, masyarakat memiliki kesadaran bahwa musang tidaklah selalu harus dicari dan dimusnahkan maupun dikonsumsi untuk sebagian orang, “Semoga dengan adanya JAMULBA kita memberikan yang terbaik untuk hewan yang kita cintai,” tutur Arya mengakhiri percakapan.[Red/Setiaadi]

Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *