By | 22 Agustus 2020

patron.id – Serang, Pimpinan pengajian, Lukman Nulhakim (63), akhirnya meminta maaf kepada warga Desa Domas Kecamatan Pontang Kabupaten Serang atas kegiatan pengajian yang diduga mengajarkan ajaran menyimpang sehingga meresahkan warga tersebut. Pada Sabtu (22/8/2020).

Berdasarkan kartu tanda penduduk (KTP), pria paruh baya ini lahir di Garut, Jawa Barat. Berdomisili di Lingkungan Terminal Pakupatan, Kelurahan Panancangan Kecamatan Cipocok Jaya Kota Serang.

Berikut ini pernyataan maaf dari pimpinan pengajian Lukman Nulhakim atau Abah Luki, yang disampaikan secara lisan maupun tulisan serta disaksian oleh sejumlah warga dan petugas keamanan dari kepolisian dan TNI.

“Apa yang saya sampaikan dan apa yang saya ajarkan kepada orang-orang di sekitar yaitu mohon maaf yang sebesar-besarnya kalau memang ada kekeliruan dari saya sendiri, bukan kesalahan Al-quran. Saya selaku pribadi, minta maaf yang sebesar-besar kepada warga Domas yang ada di sini. Kami sudah mengganggu stabilitas warga antar ketentraman warga yang ada di Domas. Mungkin itu yang saya sampaikan dan Insya Allah tidak akan mengulangi lagi,” kata Abah Luki, di depan warga, kantor Desa Domas, pada Sabtu (22/8/2020).

Sebelumnya, ia sempat mengelak dan menyatakan tidak bersalah atas kegiatan pengajian yang ia adakan terhadap warga Desa Domas terutama warga Kp. Domas RT/RW 09/03.

“Alhamdulillah dengan adanya ini untuk mengklarifikasi, tabayun, tapi tabayunnya terlalu gede ini. Harusnya saya datangi karena merasa saya tidak ada masalah. Ketika saya menyampaikan Al-quran, ini ijmahnya. Saya tidak merasa salah. Apa yang salah dengan saya,” ujarnya.

Bahkan pria yang mengaku berprofesi sebagai tukang tambal ban ini tidak terima disebut sebagai salah satu kelompok radikal, sesat dan teroris melalui ajaran-ajaran yang dianggap menyimpang oleh warga Desa Domas.

Baca Juga:  Bupati Serang Ajak Petani Menanam Jagung

“Cuma kemampuan saya dalam rangka menyampaikan kebenaran mungkin itu tata cara saya. Adapun orang di luar sana mengartikan itu sesat itu radikal dan segala macam teroris, ya silahkan. Mau dilihat dari segi apanya saya radikal. Dari segi apa saya sesat. Kalau sesat silahkan luruskan, orang Al-qur’annya masih ada,” ucap dia.

Sementara salah satu warga Desa Domas, WF (18) mengatakan, dirinya sudah hampir sebulan mengikuti pengajian pimpinan Abah Luki bersama teman-teman sebayanya.

“Kurang lebih ada sebulan, bareng temen-temen yang ada di sini, sekitar 6-7 orang. Pengajiannya seminggu sekali, kadang tidak tentu, kalau mau ngaji ya ngaji,” kata dia.

Selama mengikuti pengajian pimpinan Abah Luki, dirinya mengakui pernah dibaiat dengan mengucap kalimat syahadat sebagai salah satu syarat masuk di pengajian tersebut. Selain itu, ia juga pernah mempertanyakan perihal hukum Maulid Nabi Muhammad kepada guru ngajinya.

“Iya bener dibaiat. Maksudnya syahadat itu dibaiat. Saya juga pernah nanya soal hukum muludan, beliau menjawab bahwa maulid itu tidak ada di Al-qur’an, tidak ada suruhan tapi tidak ada larangan pula kalau ada uang untuk mengadakan ya silahkan,” tuturnya.

Ia merasa mendapat pencerahan usai mengikuti diskusi publik bertajuk “Pencegahan Paham Radikalisme, Ekstrimisme, dan Terorisme”, terutama mendengar paparan dari Ketua FKPT Banten Amas Tadjudin.

“Alhamdulillah ada pencerahan, setelah ada narasumber yang bisa menjelaskan tentang ini sudah ada kunci jawabannya. Pada waktu itu cuma fokus pada satu titik, ketika saya sudah mendengar narasumber (KH Amas) ngomong, alhamdulillah sudah ada kunci jawabannya,” akunya. [Red/Roy]

Bagikan: