By | 1 Mei 2020

Oleh Diki Fiska Priadi

Kerabat patron.id yang budiman kali ini penulis akan berupaya untuk mengurai puasa dari berbagai perspektif Agama berdasrakn pada khazanah pengetahuan penulis, Puasa berasal dari bahasa Sansakerta yaitu “Upawasa” yang berarti cara atau metode untuk mendekatkan diri pada Tuhan.

Menurut kamus besar bahasa Indonesia, puasa artinya “menahan diri”. Puasa telah dipraktikkan sejak lama, ini merupakan kebudayaan kuno, bukan hanya dimiliki oleh satu Agama, akan tetapi setiap agama memiliki cara mendekatkan diri kepada Tuhannya dengan cara berpuasa.

Dalam sejarah peradaban manusia, puasa ini dilakukan oleh hampir seluruh Bangsa atau umat dunia, Bangsa Mesir kuno, Tionghoa, Tibet, Yunani, Arab, maupun Yahudi, sejak dahulu kala sudah mengenal puasa.

Puasa juga dilakukan oleh hampir seluruh penganut agama, baik Islam, Katolik, Yahudi, Hindu, Budha. Setiap agama melakukan puasa dengan motivasi, bentuk, macam, dan cara yang tentunya berbeda-beda.

Puasa yang dilaksanakan dengan sungguh-sungguh dipersepsikan akan menuju Positif Coping style (bentuk penanggulangan yang positif), sehingga menimbulkan ketenangan. Ketenangan jiwa ini diperoleh dari usaha untuk menahan amarah. Umat Islam senantiasa mengingat nasehat Nabi Muhammad s.a.w, yang mengatakan,

“Jika seseorang menghujatmu atau menyulut emosimu, katakanlah bahwa saya sedang berpuasa.” Ketenangan ini yang dapat memperbaiki imunitas yaitu bentuk pertahanan tubuh terhadap penyakit infeksi.

Jika kita coba urai pastinya cara menjalankan puasa akan mempunyai persamaan dan perbedaannya masing-masing, sebutlah misalnya dalam perspektif agama islam puasa Ramadhan disyariatkan  pada 28 Sya’ban tahun ke-2 H, 13 hari paska perubahan kiblat. Perintah untuk berpuasa pada bulan Ramadan dan sejumlah hukum-hukum yang terkait dimuat dalam surat Al-Baqarah ayat 183-185 dan ayat 187.

Umat muslim diwajibkan untuk melakukan puasa di bulan Ramadhan bagi yang memenuhi syarat melaksanakan puasa, karena dalam agama Islam puasa termasuk ke dalam salah satu rukun Islam yang merupakan tiang agama. terlebih jika dilihat dari beberapa aspek. puasa merupakan tempat menyetarakan antara orang miskin dan kaya, Diamana puasa membuat kita sadar pentingnya memberi orang lain, juga sebagai bentuk jihad terhadap diri sendiri, sangat baik untuk kesehatan, membebaskan kita dari kehausan hari kiamat, dan juga kebahagiaan yang lainnya.

Namun meskipun demikian ada juga kelompok atau orang yang tidak dianjurkan untuk berpuasa dalam agama Islam, yaitu”orang-orang tua dan atau orang yang memiliki penyakit yang parah sehingga mempunyai harapan kecil untuk sembuh, boleh untuk tidak berpuasa tanpa harus membayar qadha puasa yang ditinggalkan,Perempuan yang sedang dalam keadaan haid dan nifas, Perempuan yang sedang hamil atau menyusui, kemudian ia takut jika melaksanakan puasa ia akan mengganggu keadaan janinnya, bayi atau dirinya, diperkenankan tidak melaksanakan puasa dengan melakukan qadha atas puasa yang ditinggalkan.

Ada beberapahal yang dilarang atau membatalkan puasa, seperti makan dan minum pada keadaan siang hari, atau sudah masuk waktu pagi dan belum sampai waktu Maghrib, Berhubungan badan, berdusta atas nama Allah SWT. Rasulullah Saw, dan Imam as. Mengeluarkan air mani disengaja, muntah dengan disengaja, dan lain sebagainya yang dapat membatalkan puasa.

Agama Islam sangat detail mengajarkan puasa kepada umatnya, baik dalam Al-Qur’an, hadist, izma, dan qias. Mulai dari pandangan fikih, tata cara berpuasa, mulai dari niat. Syarat puasa, orang yang diwajibkan berpuasa, dan diperbolehkan tidak berpuasa, yang dapat membatalkan puasa, dan yang detail sebagainya, agar umat yang beragama Islam dimudahkan dalam berurusan beribadah kepada Allah SWT.

Sementara itu dalam pandangan Agama Katolik Puasa diartikan pantang makan daging atau makanan lain menurut ketentuan konferensi para Uskup “hendaknya dilakukan setiap hari Jum’at sepanjang tahun, kecuali hari Jum’at itu kebetulan jatuh pada salah satu hari yang terhitung haru Raya.”

Sedangkan pantang dan puasa hendaknya dilakukan pada hari Rabu Abu dan pada hari Jum’at Agung, memperingati Sengsara dan Wafat Tuhan Yesus Kristus.

Peraturan pantang mengikat mereka yang berumur genap empat belas tahun (14 tahun), sedangkan peraturan puasa mengikat mereka yang berumur semua yang berusia Dewasa sampai awal tahun ke enam puluh (60tahun).

Dalam agama Katolik Puasa sendiri merupakan tindakan sukarela tidak makan atau minum seluruhnya, yang berarti tidak makan dan minum sebagainya, yang berarti mengurangi makan atau minum, Puasa berarti; Makan kenyang hanya satu kali dalam sehari, untuk yang biasa makan tiga kali sehari, dapat memilih ; Kenyang, tidak kenyang, tidak kenyang, atau tidak kenyang, kenyang, tidak kenyang. dan tidak kenyang, tidak kenyang, kenyang.

Tidak diperkenankan berpuasa pada hari Rabu Abu dan Setiap hari Jum’at sampai Jum’at Suci. Jadi hanya 7 hari selama masa praPaskah. Hal ini berlaku bagi semua orang Katolik yang berusia empat belas (14) tahun ke atas.

Pantang berarti;  Pantang daging, dan atau pantang rokok, dan atau pantang garam, dan atau pantang gula dan semua manisan, pantang hiburan, seperti radio, telepon, bioskop, dan lain-lain.
Secara kejiwaan, berpuasa memurnikan hatu orang dan mempermudah pemusatan perhatian waktu bersemadi dan berdo’a.

Puasa juga dapat merupakan korban atau persembahan. Itulah sebabnya, puasa Katolik selalu terlaksana bersamaan dengan do’a dan derma, yang terwujud dalam Aksi Puasa Pembangunan.

Semangat yang sama juga berlaku untuk pantang, yang bukan semangat puasa dan pantang Yahudi, sebutlah bila kita mengutip catatan Rabbi Arnold Beinstock, puasa dalam agama Yahudi memiliki peran signifikan dalam tradisinya, sebagaimana puasa pada umumnya. Secara harfiah didefinisikan sebagai upaya menahan lapar baik maka dan minum.

Hanya saja, dalam agama Yahudi ada pembagian puasa, yaitu puasa hari kecil; yang dimulai dari subuh hingga petang. Serta puasa hari besar; yang dimulai dari petang hingga hari berikutnya, Adapun dari puasa hari besar yaitu puasa di hari Yom Kippur dan TishaB’Av dan puasa di hari kecil yaitu puasa Esther dan puasa Gedhalia, sudah pastinya terdapat perbedaan diantara keduanya.

Puasa Besar, puasa yang dilaksanakan di hari Yom Kippur dan hari Tisha B’Av. Puasa Yom Kippur dilaksanakan mulai pada tanggal 10 bulan Tishri sebagai hari pertaubatan tahunan umat Yahudi, Sementara puasa Tisha B’Av dilakukan pada hari ke sembilan (9) bulan Av. Tisha B’Av adalah hari peratapan akan kehancuran rumah suci Yahudi.

Puasa di hari besar ini,  bukan saja melarang makan dan minum. Akan tetapi, melarang umat Yahudi untuk Mandi, mencuci, berhubungan suami istri, dan memakai sutra sesuai dengan durasinya, dari mulai petang (sore) hingga petang berikutnya sementara itu Puasa kecil, memiliki aturan yang lebih luwes daripada puasa besar.

Baca Juga:  Dampak Wabah Covid-19

Dalam puasa kecil ini, bukan hanya durasi puasa yang lebih pendek, namun umat Yahudi juga diperbolehkan untuk Mandi dan Mencuci, serta mengenakan sutra.

Ada tiga hari dalam puasa kecil yang terkait dengan hari peringatan kehancuran tembok Jerusalem Oleh Nebukadnezar II. Pertama, puasa hari ke 10 bulan Tevet, yang menunjukkan hari awal pengepungan. Kedua, pada tanggal 17 pada bulan yang sama (Tevet), menunjukkan hari dimana dinding Jerusalem dihancurkan.

Ketiga, puasa yang dilakukan pada hari ketiga (3) dibulan Tishri, sebagai peringatan kematian Gedaliah, Puasa kecil selanjutnya adalah puasa Esther, yang dilaksanakan pada tanggal 13, bulan Adar. Puasa ini dilakukan untuk mengenang Esther, Figur ratu Yahudi dari Raja Persia Ahasuerus (Xerxes I) yang memegang tahta dari 486-465 BCE.

Umat Yahudi juga melakukan puasa Esther sebagai pembukaan Hari Raya Purim, dan puasa terakhir yang dilakukan pada tanggal 14 dari Nissan tepat sebelum Passover. Dalam puasa yang juga bisa dikenal dengan Ta’anit  Bechorim ini, anak lelaki pertama dalam keluarga diwajibkan untuk berpuasa sebagai peringatan atas selamatnya Bangsa Israel dari kutukan ke-10 yang diberikan Tuhan atas Mesir.

Adapun anak sulung dari umat Yahudi diselamatkan oleh Tuhan. Anak-anak lelaki sulung yang melaksanakan Ta’aanit Beshirim berbuka bersama setelah didahului dengan berdoa dan belajar Titah bersama, sebelumnya.

Sementara itu Agama Hindu Sendiri Puasa disebut dengan “Upawasa”, yang diambil dari bahasa Sansakerta terdiri dari Upa artinya dekat atau mendekat, dan Wasa artinya Tuhan atau yang Maha kuasa, bagi pemeluk agama hindu puasa tidak sekedar menahan lapar dan haus, tidak untuk merasakan bagaimana menjadi orang miskin dan serba kekurangan, dan juga tidak menghapus dosa dengan janji Surga.

Mengendalikan Nafsu Indria, mengendalikan keinginan. Indria haruslah berada dibawah kesempurnaan pikiran, dan pikiran berada dibawa kesadaran Budhi. Jika Indria kita terkendali, maka kita dekat dengan kesucian, dekat dengan Tuhan itulah definisi puasa bagi pemeluk agama hindu.

Puasa ada yang diwajibkan dan ada juga yang tidak diwajibkan, Puasa yang diwajibkan antara lain; Puasa siwaratri, Nyepi, Purnama dan tilem, Veda Smrti untuk kaliyuga. Sementara, puasa yang tidak wajib adalah puasa yang dilaksanakan diluar ketentuan di atas (puasa wajib). Misalnya, puasa pada hari-hari suci; Odalan, anggara kasih, Buda Kliwon.

Ada juga puasa yang berkaitan dengan Upacara tertentu. Seperti, Mawinten dan Meriksa. dan puasa yang berkaitan dengan hal-hal tertentu.

Baiklah kerabat patron yang budiman kita beranjak membahas dalam perspektif Buddha, Dalam agama Buddha, puasa disebut sebagai Uposatha. Pada umumnya, umat Buddha melatih diri berpuasa dengan melakukannya saat hari Uposatha.

Dalam penanggalan Buddhis, setiap bulannya terdapat empat hari uposatha, yaitu tanggal 1,8,15, dan 22. Pada hari uposatha ini, umat Buddha tidak hanya melatih diri dengan berpuasa makan setelah tengah hari, akan tetapi. Ada VII (tujuh) peraturan lainnya yang disebut “Atthasila” (delapan aturan moralitas), diantaranya;

(1).Tidak membunuh makhluk hidup, (2). Tidak mencuri, (3). Tidak melakukan hubungan seksual, (4). Tidak bohong, (5). Tidak minum-minuman keras maupun ibat-6yang dapat melemahkan kesadaran, (6). Tidak makan setelah lewat lima hari, (7). Tidak menikmati hiburan (tarian,musik, pertunjukan,dan lain sejenisnya), dan memakai wewangian maupun kosmetik untuk mempercantik diri, (8). Menghindari penggunaan tempat duduk dan tempat tidur yang mewah.

Untuk melaksanakan delapan aturan selama melakukan Uposatha itu disebut dengan Uposatha-sila.  Jika dijumlahkan, dalam satu tahun terdapat 48 (empat delapan) hari Uposatha. Namun sebenarnya tidak ada batasan waktu untuk umat Buddha untuk melatih puasa ini.

Dalam spiritual agama Buddha, Umat Buddha akan memiliki kualitas batin yang baik seperti kebebasan dari penyesalan dan mendukung mendapatkan kebahagiaan dan melepaskan kebahagiaan. Selain itu, di kehidupan selanjutnya juga akan terlahir di alam bahagian.

Adapun Agama Konghucu mengenal puasa dengan istilah (Chai), sebagainya tertulis pada kita Kesusilaan (Li-Ji) XXII yang berbunyi, “Ketika tiba waktu menaikkan sembahyang, seorang Susilawan akan bersuci diri dengan berpuasa lahir dan batin.”

Ibadah puasa juga terdapat pada beberapa ayat dalam Kitab Sushu yang menyarankan untuk berpuasa yang bertujuan untuk membersihkan hati, di dalam agama Konghucu. Biasa disebut Jin Shi/Ciak cay, yang artinya, berpuasa pantang kita berpantang makan kesukaan yang tiap hari dimakan.

Makna puasa puasa dalam agama Konghucu ada dua yaitu; (1). Sebagai sarana mensucikan diri dalam persiapan melaksanakan sembahyang besar kepada Tuhan YME, (2). Sebagai pelatihan pengendalian diri agar selalu dapat menjaga perilaku, tutur kata, dan perbuatan yang tidak melanggar kesusilaan, sehingga jiwa kita sepenuhnya dapat kembali kepada Cinta kasih.

Puasa juga ada dua jenis dalam agama Konghucu, yaitu puasa secara Rohani dan Jasmani. Puasa secara rohani itu wajib dilakukan secara terus-menerus setiap saat oleh umat, wujudnya adalah; memegang teguh pada sikap yang membatasi diri terhadap empat pantangan, yaitu; “Tidak melihat yang tidak susila”, tidak mendengar apa yang tidak susila”, tidak membicarakan yang tidak susila,” dan tidak melakukan yang tidak susila”.

Sementara puasa secara Jasmani, ada beberapa bentuk, secara garis besarnya adalah berpantangan makan daging, secara berkala pada tiap hari sembahyang tertentu, berpantangan makan daging permanen. Puasa penuh, tidak makan dan menim dari pagi hingga sore pada hari Sebelum melakukan sembahyang Besar.

Dengan hal tersebut pula, pada saat melaksanakan puasa secara Jasmaniah, tidak boleh meninggalkan puasa Rohaniyah. Dalam agama Konghucu tata cara puasa diantaranya;

“Mandi bersih, keramas, seluruh badan bebas dari kotoran”, mengenakan pakaian lengkap dan rapi”, Bersembahyang menghadap altar Tian dan mengucapkan janji untuk melakukan puasa dalam waktu yang ditentukan, tidak melakukan yang tidak susila, menjauhi foya-foya, tidak mengutamakan harta dan memuliakan kebajikan, mendekati apa yang disukai dan menjauhi apa yang dibenci manusia”.

Bagaimana kerabat patron.id yang budaiman, sudahkan anda menjalankan puasanya dengan baik seperti dalam tuntunan ajaran agamanya masing-masing?

Penulis adalah pemilik nama lengkap Diki Fiska Priadi Mahasiswa STKIP Setia Budhi Rangkasbitung, Kabupaten Lebak, Program studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Semester IV (empat), fakultas Keguruan dan ilmu pendidikan. Aktif di Organisasi Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Lebak.

Bagikan: