By | 24 Desember 2019

Oleh : Imron Wasi

Sastrawan terkemuka yang namanya telah sohor di mana-mana, baik lokal, regional, nasional, maupun internasional. Pramoedya Ananta Toer, Yup! Nama yang tak asing lagi di telinga banyak orang, juga yang sering disebut-sebut di pelbagai kesempatan. Termasuk saya, yang sering mengutip ungkapannya dalam forum-forum diskusi.

Ada sebuah ungkapan dari beliau yang pernah ditulis pada salah satu karyanya, Ia berkata, “Semua manusia bersaudara satu sama lain. Karena itu tiap orang yang membutuhkan pertolongan harus memperoleh pertolongan. Tiap orang keluar dari satu turunan, karena itu sama lain adalah saudara.” Dari kutipan tersebut lah muncul kerisauan dalam diri saya akhir-akhir ini, pada saat melihat banyaknya berita menjelang perayaan hari Natal dan pergantian tahun.

Ketika membaca informasi-informasi yang ditampilkan oleh media mainstream seputar Natal dan tahun baru, saya memperoleh sesuatu yang tampak kerap menjadi problematika dalam kehidupan kita bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Misalnya, sejumlah umat Katolik di Dharmasraya, Sumatera Barat, yang tidak dapat merayakan Natal secara bersama-sama karena sebuah aturan, juga informasi-informasi lainnya yang menyoal toleransi umat dalam beragama.

Saya agak terkejut sembari menggelengkan kepala melihat berita tersebut. Persoalannya, umat Kristiani yang hendak melaksanakan ibadah di wilayah Dharmasraya tidak diperbolehkan mengikuti ibadah bersama oleh pemerintah setempat, dengan dalih karena sudah adanya konsensus yang telah dibangun oleh beberapa pihak. Akan tetapi, di sisi yang lain umat Kristiani memang diperbolehkan, namun sifatnya terbatas. Hanya diperbolehkan beribadah di rumah masing-masing tanpa melibatkan atau mengundang orang lain.

Belum lagi perdebatan-perdebatan lainnya yang mengemuka ke permukaan. Misalnya, kontroversi ucapan selamat Natal oleh umat Islam. Bahkan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Timur menghimbau atau melarang umat Muslim untuk tidak mengucapkan hari Natal, kecuali bagi Wakil Presiden, K.H Ma’ruf Amin, dan mungkin ini hanya sekelumit titik persoalan yang mengemuka di kanal-kanal publik.

Hal ini mengingatkan saya pada salah satu Pastor Manuel Musallam dari Gereja Latin Palestina yang mengatakan bahwa, “Bila Israel membom masjid kalian, azanlah dari gereja kami,” tuturnya demikian. Hal tersebut diungkapkannya sehari setelah bom itu menghantam wilayah Palestina yang mengakibatkan berjatuhan korban, baik dari kalangan Muslim maupun Kristen yang tidak bersalah sama sekali.

Betul memang membaca persoalan yang terjadi di Palestina tak semudah mengembalikan telapak tangan. Di sana, tak hanya ada umat Muslim yang berdiam diri di rumah singgahnya, juga ada umat lainnya seperti Kristen pun tinggal di wilayah tersebut. Sehingga, bom yang menghujam ke wilayah Palestina tidak membedakan satu sama lainnya. Semua menjadi korban keganasan bom yang meluncur bak secepat kilat tersebut.

Semestinya, kita belajar merefleksikan kembali pada kisah awal-awal ke nabian Rasullah. Pada saat itu, saat perang berkecamuk, secara bersamaan mengalami juga ketidakberdayaan menghadapi kelompok Pagan (musyrik) Mekkah. Lalu, Nabi Muhammad Saw memerintahkan kepada sebagian pengikutnya untuk meminta perlindungan ke Gereja Ethiopia, di sana para pengikut itu dilindungi.

Selain itu, persoalan umat Kristiani di wilayah Dharmasraya, Sumatera Barat yang hanya diperbolehkan beribadah di rumah masing-masing tanpa mengundang siapa pun, tentu ada pelbagai persoalan yang melatar belakanginya. Dalam hal ini, saya tidak akan berasumsi lebih jauh. Namun, ada beberapa hal yang tampaknya perlu menjadi sorotan, terutama ihwal perizinan untuk beribadah atau mendirikan tempat peribadahan.

Dalam sebuah kota yang bernama Creteil, Prancis, ada seorang pemimpin kota (Wali Kota) yang pernah berkata, “Jika Anda belajar tentang keadilan, Anda tidak bisa hanya mengakui sebagian penduduk dan tidak mengakui sebagian penduduk yang lain, apalagi dalam soal agama dan keyakinan mereka,” kata Cathala, saat menjawab protes-protes terhadap pembangunan masjid di kota Creteil. Cathala, menerobos arus utama dengan memberikan izin pembangunan masjid di wilayah Creteil. Ia memandang bahwa dengan adanya masjid akan menghadirkan evolusi demografi. Selain itu, upaya-upaya lainnya untuk mensukseskan pembangunan masjid, yakni dengan mendukung melalui anggaran, dengan kata lain mengongkosi pembangunan masjid tersebut. Meskipun DPRD Creteil gencar melakukan serangkaian protes terhadap penggunaan dana-dana untuk pembangunan pusat kebudayaan, termasuk masjid. Pada dasarnya, sebagai insan yang memegang teguh nilai-nilai diversity, plurality, dan difference, yang telah termaktub dalam falsafah bangsa, perlu mengindahkan peristiwa itu agar kemudian dapat direfleksikan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Baca Juga:  Study From Home Bagi Pelajar 3t

Di Indonesia, nilai-nilai serupa nampak juga dipraktikkan dengan saling membantu satu sama lain. Disaat umat Islam merayakan hari besar atau kegiatan-kegiatan lainnya yang turut dihadiri oleh para jema’ah hingga lahan parkir tidak mencukupi juga hal lainnya, dibantu oleh umat dari agama lain. Maka sebaliknya, apabila umat Kristen menggelar acara hari besar, misalnya, Natal, umat Muslim pun turut membantu kegiatan tersebut. Kemudian, saat ada pembangunan masjid atau mengecor lantai masjid di wilayah Tual, Maluku Tenggara, umat Muslim dan umat Kristen bersama-sama saling gotong-royong.

Di tengah-tengah tindak kekerasan dan intoleransi memuncak, semestinya kita perlu menjaga relasi antar umat beragama dengan baik, dengan saling menjaga ukhuwah wathaniyah, ukhuwah basyariyah, dan ukhuwah insaniyah. Karena, kita semua adalah saudara, seperti yang telah diutarakan dalam kalimat pembuka yang dikatakan oleh Pramoedya Ananta Toer. Terlepas dari soal perizinan, semestinya pemerintah perlu memberikan kenyamanan kepada seluruh umat beragama dalam menjalankan segala aktivitas peribadahannya sebagai warga negara Indonesia. Soalnya, ini sesuatu yang telah diatur oleh regulasi.

Disalah satu kisah, konon ada satu orang yang dianggap sedikit sinting oleh masyarakat. Hal itu tampak pada perilaku orang tersebut. Tapi Ia memiliki kepandaian yang tidak dimiliki oleh sebagian masyarakat lainnya. Seolah Ia menjelma menjadi seorang Kyai yang pandai mengkhotbahi masyarakat berdasarkan kondisi yang sudah dilihatnya. Singkat cerita, Ia pernah mempersoalkan tentang perbuatan baik yang dilakukan manusia yang akan bermuara dengan mendapatkan pahala atau masuk surga Sang Pencipta.

Alhasil, dalam perdebatan itu Ia berkata, “Bahkan saya tidak berani mengatakan diri saya Muslim. Apalagi mengklaim bahwa saya akan dapat masuk surga. Sebab, yang berhak menentukan saya Muslim atau bukan adalah Sang Pencipta saya.” Katanya.

Terakhir, di Era Disrupsi dan peradaban kontemporer semestinya kita tidak mendengar kembali persoalan kebebasan beribadah yang direnggut oleh pihak-pihak tertentu. Kemudian pemberangusan gereja atau masjid, pelarangan mendirikan tempat ibadah, dan (atau) merobohkan serta membakar bangunan yang sudah berdiri kokoh.

Terimakasih hari-hari besar. Akhirnya kami bisa menikmati liburan bersama sanak keluarga. Wallahu A’lam.

Tentang Penulis

Imron Wasi adalah seorang pria kelahiran 13 April 1996 di Lebak, Banten. Ia menyelesaikan studi Strata 1 (S1) di perguruan tinggi STISIP Setia Budhi yang juga terletak di wilayah Kabupaten Lebak – Banten, dengan gelar S.Sos nya. Ia juga pernah menjabat sebagai Wakil Presiden Mahasiswa dan Presiden Mahasiswa STISIP Setia Budhi. Sekarang Ia terlibat aktif di Banten Institute for Governance Studies (BIGS), organisasi kepemudaan dan kemahasiswaan. Selain itu, penulis juga meminati kajian seputar politik, pemerintahan, gender, dan kebijakan publik, juga menulis sejumlah artikel di berbagai media. Di antaranya yakni pernah dimuat di majalah, media cetak dan media online. Penulis dapat dihubungi melalui: [email protected]

Bagikan: