By | 19 April 2020

Oleh: Sri Fachmi Haqiqi

“Jangan pergi”, katamu kala itu.
“Iya”, jawabku malu-malu.
.
Tik tik.
Satu, dua hari berlalu.
Tak ada notifikasi darimu.
Tak ada getar-getar itu.
.
Ingin ku marah.
Ingin ku pergi saja.
Ingin ku lupakan dirimu selamanya.
Yang terkadang selalu membuatku gelisah, tak tentu arah.
.
Kemudian,
“Aku tak pantas untukmu”, ucapmu tanpa permisi.
Ah kau ini.
Mengapa menilaiku terlalu tinggi?
Aku hanya insan, bukan pohon kecapi.
.
Tidakkah kau pedulikan rasaku ini?
Rasa yang tumbuh terlalu dini.
Tidakkah kau rasakan sakit ini?
Sakit yang kurasakan sendiri.

Baca Juga:  Inikah Kematian ?

Hei, Bung.
Hei, Sayang.
Hei, hei.
Hei, cobalah perhatikan!
.
Rasaku sudah kau buat melambung,
Kemudian kini kau buat berkabung.
Ah, caramu sungguh memuakkan, Bung.
..


{Deru deras air, 15.}

Bagikan: