By | 25 Januari 2019

patron.id – Serang, Pengurus GP Ansor Kabupaten Serang menggelar Konferensi Cabang VI bertajuk “Merawat Tradisi, Menegakan Komitmen Keorganisasian dan Kebangsaan, dari Ansor untuk Kabupaten Serang”, Jum’at (25/1/2019), di aula Pondok Pesantren Nur El-Falah Yayasan KH Abdul Khabier, Kp. Kubang, Kecamatan Petir, Kabupaten Serang.

Acara tersebut dihadiri Sekertaris Daerah (Sekda) Kabulaten Serang Ajat Sudrajat, PP GP Ansor Saeful Basuki, Ketua PW GP Ansor Provinsi Banten Ahmad Nuri, Wakil Ketua PW GP Ansor Tb Adam Ma’rifat, serta sejumlah pengurus GP Ansor Kabupaten Serang.

Dalam sambutannya, Sekda Kabupaten Serang Ajat Sudrajat menyampaikan pemahaman terkait penafsiran gerakan organisasi masyarakat di berbagai era yakni zaman penjajahan, zaman kemerdekaan dan zaman reformasi sekarang ini.

“Kalau bicara gerakan, dalam berbagai era bisa ditafsirkan berbeda. Misalnya zaman kemerdekaan, pergerakan adalah perlawanan terhadap penjajah dan lainnya. Semantara era kemerdekaan, pergerakan tetap ada, tapi saat itu bukan perlawanan walaupun ada dari pemerintah menerjemahkan seperti itu (perlawanan), tapi sebetulnya mengkritisi. Sekarang, pergerakan ke arah mana? Salah satunya adalah melawan paham intoleransi yang mengarah pada perpecahan NKRI.” ujarnya.

Ia juga mengungkapkan bahwa pemerintah kabupaten lebih memahami pergerakan sekarang adalah sebagai kolaborasi, tentunya dengan kesepahaman memerangi musuh kita seperti kemiskinan, pengangguran, pendidikan dan kesehatan.

“Untuk itu kita punya musuh yg cukup nyata. Kami terus berupaya memerangi itu semua.” ungkapnya.

Terkait paham intoleran, PP GP Ansor Saeful Basuki, dalam sambutannya, menyatakan sepakat untuk memerangi oknum lembaga atau perorangan yang anti toleransi terhadap keberagaman masyarakat di Indonesia. Oleh karena itu, pihakya menyerukan kepada para kader GP Ansor agar tidak hanya memerangi paham intoleran di dunia nyata, tetapi di dunia maya, karena hal itu bagian dari tantangan bersama.

“Tantangan ke depan adalah kelompok intoleran sudah berani muncul, berupaya mengambil politik di kita. Bahkan 2019 ini mereka sudah terang-terangan memunculkan diri. Kewajiban kita, kader Ansor, harus mampu memahami dunia maya, kader Ansor harus paham kemajuan teknologi. Karena peperangan tidak hanya di darat, tapi juga di udara. Tidak menutup kemungkinan masjid-masjid dan pesantren kita diambil mereka untuk menyebarkan faham-faham antitoleran. GP Ansor sebagai Banom NU, tidak ada kata lain harus muncul melawan itu semua.” paparnya.

Baca Juga:  Jaringan Rakyat untuk Demokrasi dan Pemilu Menolak Gerakan People Power

Oleh karena itu, pihaknya menegaskan bahwa para kader GP Ansor Kabupaten Serang harus memahami secara utuh terhadap organisasi ini serta giat dalam melakukan kaderisasi. Hal itu dikatakan Saeful lantaran kaderisasi merupakan kunci utama bagi GP Ansor dalam mempertahankan kepengurusan organisasi.

“Untuk regenerasi kepengurusan, saya ucapan terima kasih selama melaksanakan kepimpinannya. Ini adalah kegiatan wajib bagi Ansor dan harus difahami dan dimengerti bahwa kaderisasi kunci utama Ansor, maka selesai di sini pengurus tidak boleh jadi urusan, harus bisa memahami DPRT.” tegasnya, di hadapan kader GP Ansor Kabupaten Serang.

Di tempat yang sama, Ahmad Nuri mengatakan konfercab ini merupakan proses repruduksi. Di Ansor ini kita tabarukan sombonglah kalo kita berkhidmat, mudah-mudahan kita mendapatkan barokah dari para pendiri dan mendapat karomah dari muasis dan pendiri.

“Kita telah memiliki orang banyak, tentunya kita harus siap memilih pemimpin dengan cara musyawarah. Saya meyakini itu.” katanya.

Menurut Nuri, di tengah pertarungan eksternal bahwa kita memiliki manhaj ahlusunah wal jamaah (cara berfikir kita/metodelogi kita) kita harus dekontruksi ulang agar kita tidak kalah, kita harus gali kembali. Jangan tinggalkan bahwa kita memiliki harokah (gerakan), karena kita harus memfraksiskan dalam hidup.

Ia berharap semoga para pengurus serta kader GP Ansor Kabupaten Serang mendapatkan manfaat dari semua ini. Selain itu, ia juga berharap agar forum tidak lagi ribut dalam perdebatan, karena ia lebih suka dilakukan dengan musyawarah. Jangan mencederai perdebatan kita satu komando, tradisi kita tidak mau berakhir dengan konflik agar kita bisa melakukan kerja organisasi dan Ansor bisa bermanfaat bagi orang lain. [Red/Imam]

Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *