By | 22 September 2020

patron.idSerang, Pengurus Gedung Juang 45 Provinsi Banten merasa tidak terima bahkan diperlakukan tidak beradab oleh Pemerintah Kota Serang yang melakukan pengosongan Gedung Juang 45, di kawasan Alun-alun Kota Serang, Selasa (22/9/2020). Sebab, gedung tersebut merupakan salah satu gedung bersejarah sejak zaman perang melawan penjajahan Jepang.

Ketua Umum Dewan Harian Daerah Juang 45 Provinsi Banten Mas Muis Muslich menilai Pemkot Serang bertindak sepihak dalam melakukan pengosongan gedung tersebut.

“Kami justru tidak terima dengan cara-cara tidak beradab. Kami dididik oleh orang tua kami yang menekankan khususnya negara kita negara pancasila,” kata Mas Muis Muslich, kepada patron.id, Selasa (22/9/2020).

Menurutnya, alasan menolak dilakukan pengosongan gedung Juang 45 lantaran Pemkot Serang bertindak sepihak dan diperlakukan tidak beradab terhadap para pejuang kemerdekaan Republik Indonesia.

“Tindakan sepihak ini yang kami tidak terima dan kami akan melakukan gugatan dan ini adalah penghinaan kepada para pejuang,” ucap dia.

Atas tindakan tersebut, pengurus DHD Juang 45 Provinsi Banten akan melaporkan peristiwa ini ke ranah hukum hingga ke meja pengadilan.

“Ya dalam minggu-minggu ini. Bisa ke pengadilan, kita juga akan laporkan ke penegak hukum,” tegasnya.

Dikatakan Muis, gedung sisa masa penjajahan Belanda ini bukan aset milik Pemerintah Kota Serang atau Pemerintah Daerah. Sebab, selama ini ia tidak merasa Pemkot Serang atau Pemda membangun atau memberi gedung Juang 45.

Baca Juga:  Yosep Adi Prasetyo Harapkan Masyarakat Tangkal Radikalisme

“Kita sudah dari zaman perang dengan Jepang sampai sekarang. Bekas perang gedung ini. Kalau ditanya ini aset Pemkot, Pemda, kapan membangunnya? Pernah ganti rugi ga? Pernah memberi ga kalau ini aset daerah? Kan ada undang-undangnya,” ujar dia.

Ia juga mengakui adanya surat dari Pemkot perihal revitalisasi gedung Juang 45 ini. Namun pihaknya menolak surat tersebut lantaran Pemkot Serang tidak memberikan alasan revitalisasi gedung tersebut.

“Tiga kali surat juga kita tolak karena alasannya apa. Harusnya ada suatu kesepakatan. Diatur secara beradab dan bermartabat. Kita ini kayak krimininal akhirnya. Harusnya sebelumnya ada komunikasi. Bagaimana pun jangankan ke lembaga ke perseorangan pun ga boleh dilakukan,” paparnya.

Pengurus Gedung Juang 45 bersikeukeuh dan menyayangkan sikap arogan Pemkot Serang. Meski ke depan gedung Juang 45 ini akan direvitalisasi seperti taman baca dan fasilitas pendukung lainnya.

“Ya kalau memang ada kesepakatan. Kita juga pernah mendukung revitalisasi, tujuan revitalisasi itu untuk menghidupkan menguatkan yang ada di sini bukan mematikan,” tutupnya. [Red/Roy]

Bagikan: