By | 21 April 2020

Oleh : Faiz Naufal Alfarisi

Kuliah online atau daring saat ini adalah suatu sistem pembelajaran yang ditetapkan pemerintah guna memutus mata rantai penyebaran Corona Virus (SARS-CoV-2) atau yang sering disebut Covid-19, Penerapan Kuliah online atau daring secara masif ini sudah terhitung sebulan lebih sejak pertama diumumkannya kebijakan ini guna memutus mata rantai penyebaran Covid-19 tersebut.

Sebenarnya, kuliah daring ini bukanlah hal baru di kalangan mahasiswa, karena pada tahun-tahun sebelumnya sebenarnya sudah digaungkan yang namanya kuliah daring, guna mendorong perkembangan pendidikan di era revolusi Industri 4.0 saat ini.

Namun bukan hal itu yang ingin penuis bahas, akan tetapi ada pembahasan penting yang menjadi polemik kuliah daring saat pandemi saat ini. Pertama, ialah prihal Fasilitas; ketika pemerintah mengeluarkan kebijakan untuk melaksanakan kuliah daring melalui keputusan Rektor, seharusnya pemerintah pun sudah harus mempunyai rancangan langkah ke depan untuk menunjang sistem perkuliahan ini.

Meskipun Pandemi ini termasuk bencana non alam yang memang sulit untuk ditangani (terlebih belum ditemukannya Vaksin), tidak seperti bencana musiman atau pun bencana alam (Natural Disaster) regional yang sudah diketahui jelas dampaknya dan dapat ditangani dengan cepat.

Namun bukan berarti Pemerintah justru gegabah dalam mengambil keputusan tanpa adanya tindak lanjut untuk menunjang permasalahan ke depan.
Pemerintah sudah mengetahui bahwa Pandemi ini adalah masalah yang serius dan merusak segala lini sektor, termasuk pemerosotan ekonomi, namun jelas terasa bahwa kebijakannya begitu nyaring tapi tindakannya sangat garing.

Hal ini dilihat dari lambatnya kebijakan, yang mana terhitung masuk 2 minggu sistem Daring berjalan, pemerintah baru menggelar rapat membahas masalah penunjang daring ini, sebut saja dalam basis Perguruan Tinggi Keagamaan Islam melalui surat edaran notulensi Hasil rapat yang mana per tanggal 3 April kemarin baru memutuskan pemberian Kompensasi Kuota dan pemotongan UKT min 10%.
Dan sekarang setelah 1 Bulan berjalan atau 2 minggu setelah surat itu keluar, masih belum ditemukan titik terang Nafas segar untuk mahasiswa meskipun sedikit (Not Action,Talk Only). ini merupakan catatan merah untuk pemerintah, pasalnya hingga sampai hari ini mahasiswa melalui orang tua/walinya dipaksa menanggung beban lebih dengan memaksakan pembelian kuota internet di tengah lumpuhnya ekonomi karena pandemi.

Padahal sebelumnya sudah membayar lunas SPP/UKT untuk semester genap ini demi melanjutkan dan memenuhi fasilitasnya di kampus, begitu juga dengan tenaga pendidik/dosen yang bernasib sama hingga hari ini.

Baca Juga:  Pemanfaatan Media Pembelajaran Semi Modern Dengan Permainan Tradisional Berbasis Audio-Visual Dalam Pendidikan Sosiologi

Seharusnya pemerintah yang bersangkutan (pendidikan) dalam hal ini sudah mengeluarkan Permendikbud sebagai payung hukum agar masalah ini segera dituntaskan. Kedua, ialah prihal Tenaga Pendidik/Dosen Mahasiswa cap kali gagal paham dengan sistem Kuliah daring yang dilakukan oleh dosen, yang mana seharusnya menjadi pembeda anatara kuliah offline dengan kuliah online/daring ini hanyalah caranya saja, akan tetapi justru salah diartikan mulai dari manajemen waktu yang asal dan juga pemberian materi yang malah dialihkan menjadi pemberian tugas yang banyak dan berskala besar.

Ini merupakan kesalahan yang menurut Penulis fatal, dimana waktu kelas online yang sering kali di luar jam kuliah saat offline dan jangka waktu yang terbilang cukup lama bagi Mahasiswa untuk terus stay pada layar HandPhone ataupun laptopnya, meskipun saat pandemi berlangsung dan Mahasiswa diharuskan untuk tetap di rumah bukan berarti mahasiswa harus terus-menerus stay on monitor, sebab hal itu justru dapat menimbulkan kerusakan pada saraf mata.
Ditambah lagi pengalihan materi yang dialihkan dengan pemberian tugas berlebih, yang mana seharusnya mahasiswa mendapatkan ilmu atas penyampaian materi justru dibebankan dengan tugas yang menumpuk, padahal sudah jelas situasi pandemi saat ini tidak memungkinkan bagi mahasiswa dapat memahami tanpa dibarengi dengan arahan terlebih dahulu oleh dosen, dan lagi keadaan yang tidak memungkinkan untuk keluar mencari referensi dalam menyelesaikan tugas kecuali memanfaatkan jaringan internet yang ada. Lagi-lagi mahasiswa dipaksa stay on monitor setiap saat.

Bukan bermaksud untuk mengeluh dengan banyaknya tugas yang diberikan oleh dosen, sebab kuliah offline maupun online pun mahasiswa sudah terbiasa dan juga memang sudah kewajiban yang harus diterima oleh setiap mahasiswa. Namun jika setiap harinya mahasiswa harus mengirimkan tugas dengan mata kuliah yang berbeda, tanpa ada aktifitas lain di rumah, maka justru ini akan membuat mereka stres, sehingga dapat mengakibatkan imun tubuh menurun dan yang terjadi justru jatuh sakit.

Oleh karenanya, kami berharap di tengah KLB (Kejadian Luar Biasa) merebaknya Pandemi ini, tenaga pendidik bisa profesional dan proporsional dalam menjalankan kewajibannya,Sebab kami pun sebagai Mahasiswa ingin menjadi pandai dengan cara yang elegant bukan justru yang mematikan (menyakitkan) dengan perlahan.
Tulisan ini dibuat sebagaimana keadaan dan pengamatan yang terjadi di Kampus Tercinta, UIN SMH Banten.

Bagaimana tanggapan Anda kerabat patron yang budiman??

Bagikan: