By | 24 April 2020

Oleh Mohamad Zidni Assalam

Pertama sebelum penulis berangkat mengungkapkan perbagai hal penulis turut berduka dengan keadaan Ibu pertiwi saat ini, dimana terhitung sejak (10/4/2020) Provinsi Gorontalo yang merupakan provinsi ke-34 atau terakhir yang terdampak Coronavirus Diseases atau covid-19.

Betapa mirisnya penulis karena saat ini seluruh Provinsi di Indonesia telah dilanda pandemik Covid-19,  dan entah sampai kapan pandemik ini benar-benar lenyap dari bumi pertiwi.

Pasca adanya himbauan dari pemerintah untuk melalukan Physical Distancing (jaga jarak fisik), guna memutus mata rantai penyebaran covid-19, semua aktivitas masyarakat menjadi terganggu, dan berdampak kelesuan di sektor ekonomi, pendidikan, sosial, dan budaya secara Nasional.

Pemerintah mengeluarkan regulasi melalui surat edaran Kementerian Kesehatan dan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan tentang Pencegahan covid-19 yang menghasilkan regulasi perkuliahan secara daring di seluruh Perguruan Tinggi.

Mahasiswa di Rumahkan dan melanjutkan kegiatan belajar secara daring, meskipun banyak kekurangan, cara ini dinilai paling efektif diterapkan pada situasi seperti ini, Pun demikian dengan mahasiswa yang bergelut dalam dunia organisasi mahasiswa (Ormawa) tentu selain perkuliahaan, aktivitas ormawa ikut merasakan dampaknya, dimana banyak plan yang terorganizing harus meleset jauh dari ekspektasi karena situasi pandemik ini.

Namun, bukan aktivis mahasiswa namanya jika pesimis atau menyerah pada situasi dan kondisi. Dimulai dengan hal kecil, untuk tidak mengecilkan makna pergerakan, Memang betul medan tempur mahasiswa adalah kampus, tapi pertempuran tetaplah pertempuran, dimanapun medannya kemenangan tetap harus diraih. Artinya sekecil apapun ruang, kita masih dapat dan harus selalu bergerak.

Lahirnya problematika yang kompleks di lingkungan mahasiswa, yang diakibatkan kondisi pandemik saat ini membuat ruang-ruang aktivitas menjadi sangat terbatas dan sulit, Namun di balik ruang-ruang terbatas itu, tetap tidak boleh ada yang namanya kemunduran, karena hemat penulis Peradaban mahasiswa harus tetap melaju.

Bila penulis boleh berpendapat penulis melihat saat ini merupakan momentum Era Evaluasi, fase dimana membangun kembali formulasi karena pola-pola yang gagal di hari kemarin.

di era evaluasi ini, Ormawa baik ekstra maupun intra kampus, harus mampu membuktikan perannya dengan menata kembali kekuatan sosial yang berbasis kebudayaan yang sudah keropos, Dimana lingkungan kampus yang selalu dibenturkan dengan problematika klasik, Tentu tugas ini selaras dengan titel agent of social control.

Arus globalisasi yang berjalan ugal-ugalan, telah mewarnai perkembangan budaya dan nilai-nilai yang ada secara cepat, tentu akan berdampak pula kepada perubahan etos kerja Ormawa, Hal ini mungkin belum banyak terfikir kan karena kemarin adalah hari-hari yang sibuk.

Baca Juga:  Peringati Harlah Ke-60 PKC Sumsel dan PC PMII Palembang Bagikan 1000 Sembako

Keleluasaan waktu saat ini harus jadi ruang bagi aktivis mahasiswa untuk melihat dengan kacamata produktif, dimana dengan dirumahkannya mahasiswa diaruskan mampu memanfaatkan situasi ini sebagai era evaluasi, agar menjadikan gerakan mahasiswa tetap progresif.

Seyogyanya saat ini mungkin mahasiswa tidak lagi harus memaksakan apa yang seniornya lakukan di masa lalu, bukan berarti yang dilakukan di masa lalu itu sebuah kesalahan, namun sudah tidak relevan dengan situasi dan kondisi saat ini, Sehingga cara-cara lama harus dikonversi dan diperbaharui sesuai dengan perkembangan zaman.

Hal ini penulis kira perlu menjadi perhatian yang serius meskipun tidaklah mudah karena diperlukan keinginan, konsistensi, serta komitmen yang kuat, disamping menjaga nilai-nilai luhur agar tidak luntur, aktivis mahasiswa diwajibkan memberikan pembaharuan ke arah yang lebih baik.

Era evaluasi ini menjadi momentum berbenah dan merekonstruksi kembali kerangka berfikir dan kerangka bergerak yang sudah keropos, Tidak lagi hanya sebatas kerangka, era ini harus mendobrak lebih dalam sampai kepada sistem yang mengatur juklak dan juknis, Sehingga era yang baru tidak lagi bias.

Kenapa harus menata kembali kekuatan sosial berbasis kebudayaan? Melihat egosentris dan problematika internal ormawa yang kerap sekali merugikan kepentingan orang banyak, ini menjadi keresahan yang harus segera diakhir, dan yang pasti jawaban dari permasalahan ini adalah menata kembali kekuatan sosial mahasiswa, melaui budaya sebagai benteng identitas dan citra bagi mahasiswa.

Era evaluasi ini harus dijadikan sebagai fase pendewasaan untuk memulai era baru yang lebih baik, sembari bersama-sama melawan pandemik yang belum kita ketahui kapan berakhirnya.

Pasca pandemik ini haruslah kita pikiran bersama-sama membangun semangat kolektifitas kebersamaan agar mendapatkan gagasan besar untuk masa yang baru dengan bangunan sistem yang tangguh, dengan harapan dan semangat yang baru tentunya.

Terakhir dari saya, semoga Kawan-kawan aktivis yang di rumahkan tetap konsisten mengawal peradaban dengan menjadi kaum rebahan progresif atau lain sebagainya. Bagaimana tanggapan anda kerabat patron yang budiman??

Penulis Adalah Mahasiswa Aktif UIN SMHB

Bagikan: