By | 21 Juni 2019

Oleh : Fahmi Ubaidi

patron.idTiga belas tahun berlalu, sebuah tragedi lumpur lapindo di Sidoarjo yang menyisakan duka dan kerugian besar bagi 22 juta jiwa dari 10 desa dilahan seluas 640 hektar, ini salah satu bukti dari sekian banyak kelalaian serta kegagalan pemerintah dan pihak terkait dalam ranah pertambangan di Indonesia.

Ibu pertiwi tak lagi seasri dulu, saat dimana para leluhur begitu mengsakralkan, merawat dan menjaga alam, kini hanya tinggal sebuah cerita.

Kita sadari bersama bahwa rumah, kendaraan, fasilitas pemerintah dan seluruh kebutuhan hidup, semuanya menggunakan energi fosil (batu bara, minyak dan gas bumi).

Akibatnya, Kalimantan, Sulawesi, Sumatera, Jawa, Papua dan hampir seluruh kepulauan Indonesia menjadi ladang pertambangan energi fosil. Kurang lebih 34 jiwa korba meninggal dibekas pertambangan yang dibiarkan menganga seperti danau.

Maka dalam hal ini, penulis ingin menyampaikan modernisasi dapat mempercepat kehancuran bumi, seperti pada teori ekonomi yang mengatakan, “Ketika kebutuhan konsumen tidak berbanding lurus dengan tingkat produksi, semakin besar permintaan maka semakin untung dan kebutuhan tidak akan ada habisnya.”

Indonesia sebagai negara khatulistiwa memiliki dua potensi besar dalam memanfaatkan energi. Pertama energi fosil (Batu Bara, Minyak & Gas Bumi), penggunaan ini berdampak pada kerusakan ekologis.

Emisi yang dikeluarkan sekitar 275 – 1633 gram CO2e/kWH dan kerugian besar pada pradaban manusia dalam berbagai bidang. Kedua, energi terbarukan (Surya, Air, Angin, Biomassa, Sampah) dalam penggunaan energi ini diperkirakan emisi yang dikeluarkan antara 10 – 300 gram CO2e/kWH. Dampak lainnya penggunaan lahan, penggunaan air, dampak pada makhluk hidup, kesehatan masyarakat.

Namun pada kenyataannya, dampak dari energi terbarukan tidak sebanding dengan dampak yang dihasilkan dari energi fosil. Emisi yang dikeluarkan dari energi fosil erat kaitannya dengan masalah pernafasan, kerusakan neurologis, serangan jantung dan kanker hingga menyebabkan kematian.

Baca Juga:  Covid-19 Dalam Pikiran Masyarakat Kelas Bawah

Beberapa waktu lalu, penulis mengikuti kegiatan Talkshow yang diselenggarakan oleh Coaction Indonesia di Metro Coffe Bar ETC, Jakarta Pusat, dengan tema “Inisiatif Islam dalam Mendukung Energi Terbarukan”. Menyimpulkan dari pada talkshow tersebut bahwa, Indonesia memiliki potensi besar dalam memanfaatkan energi terbarukan.

Islam dalam hal ini sangat mendukung energi terbarukan terbukti dengan adanya program Majelis Ulama Indonesia(MUI) bernama “Ecomasjid”, Nahdlatul’ulama dengan “Fiqh Energi Terbarukan”, Muhamadiyah (Aisiyyah) dengan “Gerakan Perempuan Energi Terbarukan”, bahkan Baznas dan Lazisnu mulai memberikan perhatiannya kepada sumber daya alam.

Faktor penghambat penggunaan energi terbarukan antara lain masalah alokasi dana dan Tenaga ahli, dan kurangnya kesadaran pemerintah dan masyarakat sehingga memperlambat penggunaan energi terbarukan.

Dari banyaknya kasus-kasus yang merusak keasrian alam Indonesia, tidak sedikit masyarakat yang geram melihat keadaan tersebut. Sudah banyak aktivis lingkungan yang mengecam pemerintah, dalam hal ini masyarakat meminta kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) untuk di bekukan, karena mereka yang memberikan izin pertambangan.

Bahkan beberapa waktu lalu dikabarkan memberikan izin kembali kepada PT. Lapindo Brantas untuk membuka pertambangan baru.

Perubahan iklim yang terjadi di Indonesia bukanlah hanya sebuah takdir belaka (bencana itu bukan takdir, kiamat bukan kehendak tuhan), melainkan dari manusia itu sendiri.

Ketentuan ini sudah digariskan dalam firman allah, “Bahwa manusia sebagai khalifah dimuka bumi.” (QS. Al-Baqarah/2 : 30, & QS. Shad/38 : 26), dan dalam surat lain yang mengatakan, “Dan jangan kamu membuat kerusakan dimuka bumi, sesudah Allah memperbaikinya.” (QS. Al- A’raf : 56).

Mengakhiri tulisan ini, penulis mengajak pembaca untuk sadar dan menghemat penggunaan energi apapun bentuknya, lalu mari kita mulai menggunakan energi terbarukan.

Penulis Fahmi Ubaidi, Mahasiswa STISNU Nusantara Tangerang Program Studi Hukum Keluarga Islam semester VI

Editor : Aldimadagi

Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *