By | 24 November 2018

patron.id – Serang, Dosen dan mahasiswa jurusan Perbankan Syariah Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam Universitas Islam Negeri Sultan Maulana Hasanuddin (UIN SMH) Banten mendatangi warga kampung Kamasan Desa Margasana Kecamatan Kramatwatu, Kabupaten Serang, Sabtu siang (24/11).

Kedatangan dosen serta 5 mahasiswa dari UIN SMH Banten itu dalam rangka melakukan pendampingan kepada 20 warga Kampung Kamasan yang menerima pinjaman modal dari bank syariah sebagai tujuan meningkatkan produktivitas usahanya.

Dedi Sunardi, koordinator Pendampingan UIN SMH Banten menjelaskan alasan pihaknya melakukan pendampingan kepada warga penerima modal dari bank syariah yaitu agar warga tersebut bisa mengelolah keuangan hasil pinjamannya secara optimal, “Hasil analisis, sebenarnya ibu-ibu itu tidak terlalu produktif karena rutinitas keuangannya Rp 3 juta, berarti kan usahanya gitu-gitu aja, yang kita inginkan adalah usaha mereka lebih meningkat jadi pinjaman dari bank itu tidak stagnan di Rp 3 juta, tetapi bertahap,” ujar Dosen Ekonomi dan Bisnis Islam.

Lanjut Dedi, para penerima pinjaman modal dari bank syariah harus bisa berjualan dengan menerapkan nilai-nilai syariat islam, “Tidak hanya bisnis oriented, tetapi berjualan dengan cara syar’i, sesuai dengan syariat. Dalam artinya bahwa pinjamannya jelas dari bank syariah, tetapi cara berjualannya juga harus menerapkan nilai-nilai islam,” terangnya.

Baca Juga:  BPK Tetapkan 20 Bakal Calon Ketua Umum PB PMII dan PB Kopri Masa Khidmat 2020-2022

Oleh karena itu, Ia berharap warga Kampung Kamasan yang penerima pinjaman modal dari bank syariah bisa meningkatkan usahanya, jumlah pinjaman yang diajukan ke bank syariah juga meningkat. Hal itu dikatakan Dedi agar terciptanya hubungan partnership antara pemberi dan penerima pinjaman modal. Bank sebagai mitra usaha juga memberikan kontribusi melalui pembinaan.

Meski demikian, Ia mengakui saat ini pihaknya belum bisa menghadirkan bank syariah untuk terlibat dalam melakukan pendampingan, “Jadi mereka (pemberi modal pinjaman) itu tidak hanya mencari keuntungan saja, tetapi mereka juga seharusnya melakukan pembinaan dari segi usaha sehingga kemudian mereka (si penerima modal pinjaman) itu bisa bangkit secara partnership.” katanya. [red/Imam]

Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *