By | 15 Juli 2020

patron.id – Serang, Dinas Pertanian (Distan) Kota Serang melarang bagi pemilik lapak hewan kurban memesan ternak dari zona warning atau daerah yang terdapat penyakit antraks, seperti Boyolali, Gunung Kidul dan Bogor. Hal itu untuk memastikan peredaran hewan kurban aman sebelum Idul Adha 1441 berlangsung.

Hal itu disampaikan Kepala Bidang Peternakan Dinas Pertanian Kota Serang Siswati, saat melakukan cek kesehatan dan pendataan di salah satu lapak hewan kurban, Rabu (15/7/2020), di Jl. Bhayangkara Kelurahan Cipocok Jaya, Kecamatan Cipocok Jaya, Kota Serang.

Siswati menjelaskan bahwa penyakit antraks ini berbahaya dan bisa menular bagi hewan ternak lainnya. Bahkan penyakit hewan ini juga bisa menular pada manusia saat mengkonsumsi daging hewan yang terinfeksi antraks.

“Kita mewaspadai banget sama penyakit ini. Pedagang juga pada tahu engga bakal pesan dari sana, sampe sekarang masih belum boleh,” kata Siswati, saat ditemui patron.id di lapak Dogar Asrem.

Informasi yang kami himpun bahwa antraks disebabkan oleh bakteri yang membentuk spora, terutama mempengaruhi hewan. Manusia dapat terinfeksi melalui kontak dengan hewan yang terinfeksi atau dengan menghirup spora. Wabah ini terkahir terjadi pada Februari 2020 di Kabupaten Boyolali dan Kabupaten Gunung Kidul.

Dikatakan Siswati, ciri-ciri hewan ternak yang terinfeksi antraks ditandai adanya benjolan kecil di tubuh hewan dan mengeluarkan darah. Ia juga menyebutkan bahwa Kota Serang masih tergolong aman dari penyebaran penyakit tersebut, terlebih di situasi pandemi Covid-19 belum ada informasi yang menyebutkan adanya hewan ternak terinfeksi virus corona.

“Kita tidak bisa memastikan ya. Sejauh ini belum ada informasi, baik data maupun berita, yang menyebutkan bahwa hewan ternak terinfeksi Covid-19. Insya allah aman dari korona,” ungkapnya.

Hasil pemeriksaan tes kesehatan hewan kurban yang dilakukan Dinas Pertanian Kota Serang di lapak tersebut menyebutkam adanya penyakit ringan atau penyakit umum yang biasa dialami ternak tiap tahunnya. Seperti sakit mata dan korep (butik di sekitar mulut).

“Terutama domba, ada 5 ekor yang sakit mata, dan 11 ekor sakit korep. Penyakit ringan bisa diobati, masih bisa dijual. Ini penyakit umum, udah biasa terjadi, setiap tahun pasti ditemukan penyakit-penyakit seperti itu,” tuturnya.

Baca Juga:  'JAPRI' Himbau Generasi Muda Tingkatkan Budaya Literasi Lawan Hoax

Siswati menambahkan bahwa penyakit ringan tersebut diakibatkan perjalanan ternak dari luar daerah. Oleh karena itu, untuk sementara waktu, pihaknya menyarankan kepada pemilik lapak untuk memisahkan hewan yang sehat dengan hewan yang sakit.

“Kalau sakit mata biasanya efek perjalanan ternaknya dari luar kota. Biasanya ga bakal sakit kalau cukup waktu istirahatnya. Kita menyarankan untuk dipisahkan dulu, diobati, kalau udah sembuh boleh dijual,” katanya.

Sementara itu, salah satu pemilik lapak hewan kurban, Rahman Taufik, mengatakan persediaan hewan kurban yang ia jual dianggap aman dari penyakit. Sebab, ternaknya telah dilakukan tes kesehatan oleh dinas terkait.

“Stok barang yang ada di saya itu semuanya sudah diperiksa dinas kesehatan, dinas peternakan setempat,” kata Rahman, pemilik lapak kurban Dogar Asrem, saat ditemui patron.id.

Rahman menjelaskan bahwa penyakit yang diderita ternaknya merupakan gejala biasa dialami tiap tahun dan masih bisa diobati dalam waktu cepat.

“Kalau ada yang sakit jelas ga akan dijual, disisihkan atau dipotong. Kayak kemaren ada kerbau patah kakinya, ga mungkin kan saya jual untuk kurban, tapi dijual ke jagal. Bukan ga bisa diobati, tapi lama, menyita waktu buat saya, lebih baik dijual ke jagal,” terangnya.

Terkait zona warning atau daerah asal hewan ternak, Rahman mengungkapkan dirinya tidak memesan ternak dari daerah warning tersebit. Sebab masih banyak pasar-pasar yang jual ternak yang aman dari penyakit. Seperti domba dari garut, kerbau dan sapi dari Jawa Tengah.

“Kita ga beli dari sana, kita nyari ke tempat lain, dari tempat yang aman seperti Gerabag, Muntilan, Bumiayu, Banyumas, banyak sekali di sana itu pasar-pasar ternak di sana. Kita juga ga mau beresiko, alhamdulillah belum pernah mengalami dan mudah-mudahan jangan sampe mengalami,” ungkapnya. [Red/Roy]

Bagikan: