By | 21 Februari 2020

patron.id – Serang, Gerakan radikalisme di Indonesia semakin hari semakin mengkhawatirkan, hal ini tentunya dapat mengganggu keutuhan bangsa dan Negara. Hadirnya teknologi yang semakin canggih di era digital seperti sekarang ini, memberikan dampak yang signifikan pada penyeberan paham radikalisme. Target yang menjadi sasaran penyebaran paham radikalisme di era seperti ini, tentunya kalangan pemuda yang familiar dengan penggunaan teknologi informasi yang biasa disebut dengan milenial.

Dewan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Dakwah (DEMA FADA), Universitas Islam Negeri (UIN) Sultan Maulana Hasanuddin (SMH) Banten, memberikan perhatian lebih terhadap isu radikalisme.

Melalui Diskusi Publik yang bertajuk, Peran Mahasiswa Menyikapi Radikalisme di Kalangan Milenial Melalui Media Sosial, bertempat  di aula rektorat lantai 3, Pada Jumat (21/02/2020) siang.

Kegiatan tersebut bertujuan untuk mengajak para mahasiswa mewaspadai penyebaran paham radikalisme di media sosial.

Hari Pamungkas, Kepala Diskominfo Kota Serang yang merupakan salah satu narasumber dalam Diskusi Publik ini mengungkapkan bahwa masyarakat sudah menjadi produk media sosial

“Saat ini masyarakat bukan hanya konsumen tetapi sudah menjadi produk dari media sosial. Perlunya awareness (red:Kesadaran) didalam diri mahasiswa dalam menangkal paham radikalisme serta tetap berpegang teguh pada empat pilar kebangsaan yaitu Pancasila, UUD 1945, Bhinneka Tunggal Ika, dan NKRI.” Ungkapnya

Ketua LP2M (Lembaga Penelitian dan Pengembangan Masyarakat) UIN SMH Banten, Dr. Masykur Wahid, M. Hum, selaku narasumber juga dalam Diskusi Publik tersebut, memberikan penjelasan mengenai makna dari radikalisme melalui pendekataan keagamaan, Juga menurutnya perlu ada pemahaman bagi para pemuda Indonesia tentang radikalisme itu sendiri, agar dapat mengantisipasi ancaman pengaruh radikalisme.

Baca Juga:  Kolaborasi Kukerta UIN Banten Bersama IRPA Sambut HUT RI Ke-74

“Dalam konteks moderasi beragama, radikalisme itu suatu ideologi, ide, gagasan, atau paham yang ingin melakukan perubahan sistem sosial dan politik dengan cara-cara kekerasan yang berbentuk verbal, fisik, dan pikiran”, kata Dr. Masykur.

Ia juga memaparkan cara untuk mengantisipasi radikalisme dengan menguatkan literasi yang berkaitan dengan paham keagamaan.

“Perlu kita lakukan religius literasi, ini menjadi tugas akademisi tentu mahasiswa dan juga dosen, yaitu bagaimana menjelaskan kembali agama sebagai panduan spiritual dan moral.” Paparnya

Hal senada juga diutarakan oleh Sabroni, Ketua Pimpinan Cabang (PC) Gerakan Pemuda (GP) Ansor Kota Serang, bahwa Radikalisme tidak cukup untuk disikapi saja  namun harus diminimalisir juga.

“Bahwa Sekarang jamannya tak hanya menyikapi, tapi meminimalisir gerakan paham radikal yang dapat memecah belah bangsa, berharap mahasiswa berperan aktif dalam merajut persatuan dan kesatuan.” Pungkasnya

Masih di tempat yang sama Ketua DEMA FADA, UIN SMH Banten , Sigit Budiono berharap selepas terselenggaranya kegiatan tersebut mahasiswa dapat berperan untuk mencegah dan menanggulangi faham radikalisme.

“Terselenggaranya kegiatan Diskusi Publik ini, diharapkan mampu memberikan pandangan kepada para peserta khususnya mahasiswa yang hadir untuk mampu berperan dalam mencegah dan menanggulangi paham radikalisme yang ada di tengah-tengah masyarakat.” Tutupnya. [Red/Aldi]

Bagikan: