By | 26 Juli 2019

Oleh : Abdul Jabar

patron.id Sejarah Indonesia tidak bisa dilepaskan dari peran dan pejuangan Santri dan Ulama. Sejak masa awal kedatangan Islam, terutama pada masa Walisongo hingga masa penjajahan Belanda, masa kemerdekan hingga kini, Pondok Pesantren telah menyumbang sejuta jasa yang tak ternilai harganya bagi Indonesia terutama kepada pengembangan agama Islam.

Tidak bisa diingkari fakta sejarah menunjukkan bagaimana pesantren dengan para santrinya menjadi avant garde dalam perjuangan merebut kemerdekaan dan juga membentengi nation state  dari ideologi-ideologi yang berusaha mengusiknya.

Kalangan Pesantren, dengan cara dan juga riyadhahnya tersendiri terbukti ikut mewarnai tegak berdirinya republik ini. Bahkan, jauh sebelum republik ini berdiri, pesantren sudah menanamkan nilai-nilai semangat rasa cinta terhadap Ibu Pertiwi. Hal ini sangat urgen untuk dikemukakan guna memberi konteks bahwa kalangan pesantren memiliki saham yang sangat besar dalam perjuangan mendirikan republik ini. Dengan tegas harus dinyatakan bahwa salah satu unsur yang membidani lahirnya Republik Indonesia adalah Pesantren.

Ulama dinisbatkan kepada seseorang yang ‘alim, mempunyai ilmu agama yang mumpuni, menebar maslahat untuk masyarakat, perangai  yang ramah tetapi tegas terhadap setiap kemunkaran, dan akhlak yang baik. Ulama yang produktif dalam beberapa gerakan dan karya selalu menjadikan Masyarakat mempunyai daya. Dalam sejarah emas peradaban Islam, terbukti banyak Ulama yang mampu mempelopori berbagai temuan ilmiah di bidang ilmu pengetahuan selain jago berijtihad dalam membaca nash. Hal ini membuktikan bahwa kebangkitan ulama telah berjalan sejak ratusan abad lalu sehingga saat ini manusia (tak terkecuali Bangsa Barat) bisa mengembangkan ilmu pengetahuan yang banyak diinisiasi oleh para ulama tersebut.

Resolusi Jihad pada 22 Oktober 1945 adalah puncak dari nasionalisme para ulama dan santri yang berjihad meneguhkan kemerdekaan bangsa. Semangat menjaga tanah air dari para ulama inilah yang menjadi ‘virus’ positif dalam melakukan langkah awal perlawanan terhadap penjajah yang tidak berperikemanusiaan di tanah air bangsa Indonesia. Pesantren menjadi titik kumpul dimulainya perjuangan membebaskan diri dari kungkungan penjajah. Pemikiran dan sikap kritis tetapi terbuka (inklusif) yang ditanamkan para ulama kepada para santri menjadi motor pergerakan nasional melawan penjajah dalam semangat cinta tanah air (Hubbul Wathon). Gelora cinta tanah air ini tidak hanya membakar semangat perjuangan para santri dan umat Islam, tetapi juga para tokoh pergerakan nasional lintas etnis dan agama untuk bersama-sama berjuang mengusir penjajah agar meraih kemerdekaan lahir dan batin. Maka, cinta tanah air menjadi kunci perjuangan seluruh bangsa Indonesia yang saat ini disatukan dengan prinsip agung Bhinneka Tunggal Ika dan Pancasila.

Lebih dari itu, pesantren sebagai basis ulama telah berkontribusi besar dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Kebangkitan ulama menjadi alarm kebangkitan suatu bangsa. Selain memiliki peran keagamaan, ulama memiliki peran kebangsaan dalam menanamkan nasionalisme kepada masyarakat Indonesia. Ulama adalah tiang penyangga pembangunan karakter bangsa. Dalam pandangan ulama, nasionalisme tidaklah bertentangan dengan ajaran Islam. Membela dan memajukan bangsa menjadi tugas utama umat muslim Indonesia. Spirit nasionalisme dan nilai-nilai Pancasila selaras dengan nilai-nilai universal Islam. Mengingkari NKRI dan Pancasila merupakan bentuk pengkhianatan perjuangan ulama.

Muktamar NU ke-27 tahun 1984, ulama NU meneguhkan Pancasila sebagai falsafah hidup berbangsa dan bernegara. Mereka juga berkomitmen menjaga pluralitas bangsa.Sikap NU ini tercermin dalam praktik keberislamannya yang menekankan pada ajaran Aswaja dan prinsip Islam rahmat yang moderat.

Akan tetapi dalam satu dekade terakhir, ulama menghadapi dua tantangan besar yaitu penetrasi ideologi Islam transnasional dan godaan politik praktis. Kini ormas-ormas radikal mencoba menggoncang eksistensi Pancasila sebagai ideologi Negara. Terlebih mereka cenderung memaksakan formalisme ajaran Islam ke dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Baca Juga:  Surat Cinta Dari Aku Teruntuk Stigma Melawan Si Covid-19

Tantangan yang lebih serius lagi yang dihadapi ulama sendiri adalah melemahnya ulama dalam menjaga gawang moderasi Islam. Radikalisme agama mencoba masuk ke dalam pesantren. Banyaknya teroris dan gerakan radikal membuktikkan lemahnya ulama hari ini dalam menjaga gawang moderasi. Pesantren sebagai kekuatan idiologi kebangsaan harus dapat membentengi bangsa ini dari penetrasi ideologi asing.

Strategi untuk menguatkan kembali prinsip moderasi, Pertama, ulama ulama harus melakukan deradikalisasi Agama. Kedua, Ulama memerlukan institusionalisasi moderasi Islam di seluruh ormas Islam. Ketiga, ulama membutuhkan kaderisasi keulamaan yang menekankan kecendikiaan dan kezuhudan.

Ketiga strategi tersebut efektif untuk menguatkan kembali moderasi ulama. Di sisi lain, ketiga cara di atas merupakan upaya ulama untuk mereposisi komitmen kebangsaannya di tengah post-truth ini. Betapa banyaknya keterlibatan ulama dalam politik praktis, sehingga cendrung membuat mereka lupa akan tanggung jawabnya sebagai pelayan Umat dan Bangsa.

Dari sini kita perlu merefleksikan kembali para pejuang ulama seperti KH Hasyim Asy’ari, KH Wahab Hasbullah, KH Wahid Hasyim dan lain-lain. Mereka adalah pengabdi umat dan bangsa tetapi bukan pelayan nafsu kekuasaan. Sekalipun demikian, umara dan ulama harus bersinergi dalam membangun bangsa ke arah kemajuan dan kesejahteraan.

Kebangkitan Ulama Banten

Sebagaimana kita tahu bahwa pondok pesantren dan lembaga pendidikan Islam di Banten jauh berdiri sebelum Indonesia Merdeka seperti Matlaun Anwar (Menes), Al-Khairiyah dan Al Jaharotunnaqiyah (Cilegon), Nurul Falah (Petir), Wasilatul Falah (Rangkasbitung) dan lain sebagainya. Fakta kuat ini memang harus kembali diungkap ke publik. Hal ini semata agar kita memiliki kesadaran sejarah bahwa pesantren dan santri turut serta mendirikan republik ini. Tentu, ungkapan di atas tidak berlebihan dan bukan bermaksud hiperbolis peran dan kontribusi kaum pesantren. Ke semua perjuangan ulama tersebut tidak berangkat dari kemapanan tatanan sosial, tetapi justru sebaliknya, dalam kondisi masyarakat dengan perilaku negatif hampir setiap hari. Hal ini membuktikan bahwa keberadaan ulama mampu membangkitkan masyarakat menjadi lebih baik dan berdaya. Selain itu, pijakan kehidupan masyarakat yang bernama tanah air menjadi kewajiban para ulama untuk menjaga dan merawatnya agar lebih baik.

Sebagaimana Banten menyimpan cerita  indah seperti halnya daerah lain di Indonesia, sejak lama masyarakat Banten dikenal memiliki tradisi dan semangat keilmuan yang cukup tinggi. Hal itu terlihat bahwa kaum ulama selalu menduduki posisi yang sentral dalam sejarah Banten. Sejak zaman Maulana Hasanuddin, Syekh Nawawi al-Jawi al-Bantani, KH Asnawi (Caringin) KH Wasid (Cilegon), dan lain sebagainya. Disisi lain juga jiwa untuk membela tanah air tidak terbantahkan, hal itu terlihat dari pergulatan santri Banten dalam perang merebut kemerdekaan, tentu bisa dilihat dalam lembaran demi lembaran sejarah bangsa misalnya, adalah keterlibatan nyata kaum santri dalam melepaskan bangsa Indonesia dari kungkungan kolonialisme. Kaum santri bersama-sama merapatkan barisan menghadang penjajah, seperti pada Perang Cilegon, Banten 1888 hingga Sjafrudin Prawiranegara di era  pemerintahan Presiden Soekarno, dirinya pernah diangkat menjadi Wakil  Perdana Menteri, Menteri Keuangan hingga keterlibatnnya dalam gerakan  PRRI/Permesta. Dan saat hasil  pemilu tahun 2019 telah terpilih KH. Maruf Amin menjadi Wakil Presiden Republiik Indonesia. Hal ini membuktikan bahwa ulama banten merupakan bagian terpenting dari pergulatan politik nasional.

Penulis adalah aktifis Ketua Majlis Alumni IPNU Banten.

[Editor : Baehaki]

Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *