By | 31 Maret 2020


Oleh : Thoriq Hardiansyah

Dunia saat ini dihebohkan dengan adanya salah satu permasalahan dikalangan masyarakat dunia. Permasalahan yang dihadapi oleh masyarakat global adalah virus Covid-19. Apa virus tersebut? Mengutip AFP, Covid-19 merupakan singkatan dari ‘co’ yang merujuk pada virus corona, ‘vi’ yang merupakan sebutan untuk virus, dan ‘d’ yang berarti penyakit (disease) Atau lebih singkat disebut Corona Virus Disease.
WHO Sebelumnya memberi nama sementara virus tersebut dengan nama 2019-nCOV. Ini menjadi momok menakutkan bagi masyarakat global dimana tidak, WHO telah menetapkan virus ini sebagai virus pandemi. Hampir seluruh negara didunia bahkan separuh negara didunia terinfeksi virus tersebut. Seluruh pemerintah di negara yang terjangkit virus tersebut membuat regulasi yang bermacam-macam dari negara china yang memberikan regulasi untuk mengarantinakan diri dirumah (lockdown) kepada masyarakatnya dan disusul oleh negara lain seperti Malaysia, filipina,italia,china,Denmark dan masih banyak yang lainnya.
Per tanggal 11 Maret 2020 Covid-19 atau disebut virus corona telah meluas ke 113 negara, Negara, 118.596 Sembuh, 4.262 Meninggal. Diindonesia sendiri ada 686 orang positif virus corona di 24 Provinsi, 55 meninggal dunia, hal ini diumumkan oleh Kementrian Kesehatan Indonesia, Melansir dari akun resmi Instagram Kementian Kesehatan, selasa Jam 12.00 WIB (24/3/2020).

Permasalahan Yang dihadapi oleh negara-negara dibelahan dunia tidak hanya mengancam kesehatan global, tetapi mengancam beberapa sektor lainnya. Sektor Yang pertama ialah Perekonomian dunia terganggu khususnya Indonesia dimana tidak, Setelah pemerintah Indonesia mengumumkan Kasus positif Covid-19 Atau disebut virus Corona Petama pada hari senin (2/3/2020) yang lalu pada keterangan pers di istana oleh Bapak Presiden Jokowi didampingi oleh Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto, Menteri Sekertaris Negara Pratikno dan Seketaris Kabinet Pramono Anung. Indonesia sangat mengalamai Fluktuasi ekonomi besar dari Bursa efek down, cashflow macet, Rupiah yang makin Melemah dan Sektor Komoditi ekspor yang sangat mengganggu roda perekonomian Indonesia.

Menurut Muhamad Chatib Basri Pengajar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia Dilansir dari Harian Kompas 28 februari 2020 Menyatakan bahwa Sekitar 29 persen barang yang diekspor China, bahan mentah dan penolongnya berasal dari Indonesia terutama (Terutama Batu Bara dan Kelapa sawit). Implikasi dari problematika ini ialah penurunan permintaan pada produk-produk tersebut, sehingga harga barang komoditas cenderung turun dan Barang tambang beresiko menurun.

Penutupan perdagangan selasa (24/3/2020), Indeks Harga saham Gabungan ( IHSG) Melemah. Pasar Modal Indonesia Turun 51,89 Poin atau 1,3% Ke 3.937,63.Di pasar obligasi, pemodal asing berskala besar beramai-ramai menjual surat berharga (sell off bonds). Sejak akhir tahun lalu, penjualan obligasi oleh investor asing menc uinapai Rp 78,76 triliun. Hasil penjualan pemodal asing atas saham dan obligasi kemudian dikonversi ke dalam dolar Amerika Serikat sehingga menekan rupiah.
Sehingga Masuk Minggu Keempat Maret 2020, Nilai Tukar Rupiah anjlok dan ditutup pada tingkat 16.110 Per dollar Amerika Serikat. Sementara itu rekor pelemahan rupiah pada krisis moneter terjadi pada 18 juni 1998 Yang mencapai 16.200 per dollar Amerika Serikat.

Dampak tersebut benar sangat dirasakan juga oleh para pelaku ekonomi mikro dan para pelaku usaha lainnya. Seperti Sepinya Pengunjung yang Ingin berbelanja dipasar mengakibatkan Toko-Toko di Beberapa Pasar yang membuat berkurangnya omzet, Ojek online yang sepi akan costumer dan masih banyak yang lainnya

Sektor Pariwisata Juga sangat terpukul akibat Merebahnya Covid-19 ini Banyak Tempat wisata dan destinasi lokal maupun Internasional ditutup Sehingga itu berdampak terhadap devisa negara. Ditutupnya destinasi dan tempat wisata tersebut yang membuat beberapa pihak merugi seperti Perhotelan, Restoran dan Jasa Travel. Bahkan Pada 12 Maret 2020 silam Pemerintahan Arab Saudi dibawah otoritas Kementrian Haji dan Umroh telah menutup akses Umroh untuk beberapa negara termasuk Indonesia untuk mencegah merebahnya Virus covid-19 Atau Virus Corona.

Baca Juga:  UMKM Bisa Jadi Solusi Kemerosotan Ekonomi di Banten Akibat Corona

Sektor Pendidikan terkena nya dampak dari Covid-19 atau Virus Corona. Semua Pembelajaran Tatap Muka dikelas Diubah Menjadi Via virtual atau disebut Daring,Kelas online dan sebagainya. Regulasi Yang baru dicanangkan pemerintah adalah Pelaksanaan UN 2020 Di semua tingkat Pendidikan Sepeti SD/MI, SMP/MTS dan SMA/MA/SMK Dihapus. Kata juru bicara Presiden Jokowi Fadjroel Rachman dalam Keterangan tertulis Mengatakan Bahwa Meniadakan UN 2020 adalah langkah untuk Mengutamakan keselamatan kesehatan rakyat. Keputusan Jokowi ini sejalan dengan apa yang telah diputuskan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (KEMENDIKBUD) Nadiem Makarim dan Komisi X DPR RI Bahwa pelaksanaan UN 2020 dihapus atau ditiadakan.

Sektor Politik mempengaruhi Instabilitas, apa mungkin? Menurut Chris Miller dalam COVID-19 Crisis: Political and Economic Aftershocks (2020), menambahkan bahwa sejak wabah Covid-19 merebak telah terjadi krisis kepercayaan (Problem of Trust) warga negara terhadap kekuasaan.Lebih lanjut, ia mencontohkan sejumlah kepala negara seperti Moon Jae In (Korea Selatan), Shinzo Abe (Jepang), dan Donald Trump (AS) memperoleh banjir kritik atas ketidakmampuan mereka menangani virus dan membiarkan korban terjangkit terus bertambah. Apakah di Indonesia sama? Iya, dan apakah Contohnya? Berita Hoax yang beredar mengenai Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto Mundur dari jabatannya dan diklarifikasikan yang dilansir oleh KoranSeruya Dengan menampikan isu tersebut dan dinyatakan Hoax. Efektivitas pemerintah dalam merespon ancaman pandemi ini akan menunjukan sejauh mana simpati publik pada kekuasaan terus terpelihara. Hal tersebut bisa dilakukan dengan meningkatkan kinerja pemerintah, pusat maupun daerah, dalam penanganan dan pencegahan penularan penyakit agar tidak meluas, dalam konteks geografis maupun dampak multidimensi (ekonomi, politik, sosial).

Sektor Sosial Juga cenderung menyedihkan. Indonesia Sebagai negara yang loyal akan social dan beragam macam agama disatukan menjadi sirna, Semua oramg yang tadinya bertegur sapa dan bercanda gurau menjadi berdiam diri takut akan hal yang tak pasti, Virus bisa menjangkit kapan saja dan dimana saja. Masyarakat saat ini harus Mengikuti aturan pemerintah mengenai Pencegahan dan penyebaran Virus ini. Social Distancing Misalnya, Menurut Katie Preace dari John Hopkins University menyatakan Social Distancing Sebagai Praktik kesehatan Masyarakat guna mencega penularan Penyakit. Himbauan Presiden Untuk Mengisolasikan diri dirumah Masing-masing (Lockdown) dan jangan membuat kerumunan masa. Dan Fatwa yang dikeluarkan oleh MUI Nomor 14 Tahun 2020 Tentang Penyelenggaraan Ibadah dalam situasi terjadinya Pandemi Covid-19.

Ini menjadi point Sosial yang sangat miris dimana Masyarakat Indonesia yang Solider kini di reduksi menjadi totaliter demi kemaslahatan Bersama. Totaliter lah Kini dijunjung untuk Menghadapi wabah tersebut.
Maka dengan ini kita sebagai masyarakat Harus mendukung penuh regulasi pemerintah dan Tenaga medis sebagai garda terdepan terkait pencegahan Covid-19 atau Virus Corona Untuk Memberhentikan laju penyebaran Virus Agar Roda pemerintahan dan aktifitas masyarakat bisa Pulih seperti sedia kala.

Bagaimana tanggapan anda kerabat patron yang budiman?

Thoriq Hardiansyah, lahir di Jakarta 11 juli 2000. Hobby Bermain alat music dan menulis. Cita-cita Ingin menjadi Praktisi dan Advokat. Berkuliah di UIN sultan maulana Hasanudin Banten dengan prodi Hukum Tata Negara (HTN). Riwayat Organisasi ialah Sebagai Anggota Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) rayon Syariah Komisariat UIN SMH Banten, Sebagai Kepala Bidang Penyuluhan, penelitian dan Pendidikan (P3H) Permahi Komisariat UIN SMH Banten, Sebagai Anggota Pengurus DEMA F Syariah Bidang PAD divisi Politik dan Hukum dan Terakhir yaitu sebagai Salah satu pendiri The Legal Education Indonesia dengan Bidang departemen Internal dan kajian.

Bagikan: