By | 8 Juni 2020

patron.id- Serang, Selama tujuh bulan terakhir, awal kemunculan wabah pada pertengahan Desember 2019, Pandemi Corona Virus Diseas (Covid-19) telah merebak ke pelbagai belahan penjuru dunia, tak terkecuali tanah pertiwi Indonesia, telah membuat mata pencaharian dan ekonomi masyarakat terpuruk.

Demi menangani hal tersebut, pemerintah melalui program Bantuan Langsung Tunai Dana Desa (BLT DD) yang diberikan kepada masyarakat guna penanganan pandemi Covid-19 senilai Rp. 600.000 per KK diduga dipotong oleh pemerintah desa.

Dalam pelaksanaannya, kebijakan yang dikeluarkan Kementerian Desa PDTT RI dengan menerbitkan Permendes 06 Tahun 2020 tersebut, BLT DD yang diterima oleh masyarakat diduga terdapat pungutan liar (pungli) oleh pemerintah desa. Salah satunya seperti masyarakat yang mendapatkan bantuan di Kecamatan Baros, Kabupaten Serang, Banten.

Masyarakat penerima BLT DD senilai Rp. 600.000 dilakukan penyunatan yang bervariatif, mulai Rp. 50.000 hingga Rp. 200.000 setiap penerimanya.

Tak hanya pemotongan yang beragam disertai permintaan tanda tangan warga, bantuan langsung tunai tersebut juga diduga tak tepat sasaran. Masyarakat yang belum berkeluarga pun terdata mendapat bantuan tersebut, sedangkan bagi warga yang tidak mampu, sebagian tidak terdata penerima BLT DD.

Adapun alasan pemotongan yang dilakukan oleh pemerintah desa tersebut belum diketahui secara pasti. Menurut pengakuan masyarakat penerima bantuan. Mereka didatangi oleh oknum pihak desa yang meminta pemotongan atas bantuan langsung tunai.

Baca Juga:  Jembatan Penghubung Amblas, Warga Cimarga Keluhkan Hal Tersebut

“Setelah cair BLT, dipintain duit (uang-red), ada yang lima puluh ribu, seratus, sampe dua ratus,” menurut pengakuan salah satu warga kepada Patron.id terkait pungli BLT DD.

Beredarnya desas-desus dugaan sunat dana BLT Dana desa, tak dipungkiri meliputi Bantuan Sosial Tunai (BST) yang di transfer langsung ke rekening masing-masing penerima atau melalui PT Pos Indonesia jika tidak memiliki rekening bank juga turut dipangkas oleh sebagian oknum pemerintah desa dengan dalih yang tidak jelas.

Menanggapi hal tersebut, Mahasiswa yang tergabung dalam Ikatan Mahasiswa Baros (Ikamaba) turut menyikapi dugaan pemangkasan dana bantuan tunai tersebut.

Abdurohman Wahid, Ketua Ikamaba mengatakan, hampir seluruh desa di Kecamatan Baros dikenai pemotongan yang belum diketahui alasan penyunatan dana bantuan.

“Isu terkait pemotong BLT DD atu BST memang hampir semua desa di Kecamatan Baros ada pemotongan. Entah itu yang motongnya  dari pihak  desa maupun dari pihak RT nya, dan pemotonganya juga bermacam-macam, ada yang 50 rb ada juga yang 100.000. Tapi kebanyakan itu ramai pemotongan yang di atur oleh pihak desa maupun RT,” pungkasnya.[Red/Setiadi]

Bagikan: