By | 28 Juli 2020

patron.id – Jakarta, Musim kemarau yang sudah berlangsung di Pulau Sumatera dan Kalimantan berbarengan dengan kondisi pandemi Covid-19.

Ini menjadi perhatian Badan Restorasi Gambut (BRG) dalam melaksanakan kerja-kerja pemulihan ekosistem gambut. Upaya itu sebagai langkah antisipsi terjadinya kebakaran hutan dan lahan (Kahutla).

Mengantisipasi kemarau, BRG terus mengingatkan masyarakat terkait dampak buruk yang akan diterima oleh warga di perdesaan gambut jika kebakaran terjadi sementara pandemi Covid-19 juga belum selesai.

Deputi Bidang Edukasi Sosialisasi Partisipasi dan Kemitraan BRG, Myrna A Safiti mengatakan, berdasarkan riset yang dilakukan Harvard University dan Columbia University salah satu bahaya Karhutla adalah terjangkitnya Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) kepada masyarakat sekitar.

Jika tidak segera ditangani ISPA yang menyerang masyarakat selama bertahun-tahun tersebut akan menyebabkan kematian dini.

“Ini bukan efek sesaat, mereka terpapar selama tahunan asap Karhutla. Kata penelitian Harvard dan Colombia, kalau tidak ada upaya serius yang dilakukan semua pihak maka diperkirakan 91 ribu kasus kematian dini di Indonesia akan terjadi. Penelitian ini mengambil data tahun 2015,” ucapnya pada Diskusi Virtual yang digelar 164 Channel LTN PBNU, pada Selasa (29/7/2020).

Doktor Ilmu Hukum Universitas Leiden Belanda ini menambahkan, dalam situasi yang serba mendesak ini, pihaknya mewanti-wanti agar tidak terjadi dobel bencana (Karhutla dan Pandemi Covid-19) yang akan merugikan banyak sektor. Diantaranya sektor kesehatan, ekonomi dan lingkungan hidup.

Baca Juga:  Gerakan Tagar SEMA PTKIN Nasional Menuntut Pengurangan UKT Semester Ganjil

Karena itu, penting sekali diketahui khalayak luas bahwa restorasi gambut bukan sebatas kegiatan fisik pemulihan 2,6 juta hektar ekosistem gambut tetapi memberikan pemahaman kepada masyarakat dan koorporasi agar bersama-sama mencegah kerusakan gambut.

Selain itu, program restorasi gambut ibarat menyembuhkan orang sakit agar kembali sembuh. Masalahnya 2,6 juta hektar gambut yang menjadi target restorasi BRG adalah lahan gambut yang rusak sehingga perlu penanganan yang benar-benar matang agar upaya mengembalikan fungsi hidrologis berjalan dengan baik.

“Di lahan gambut ada kegiatan ekonomi masyarakat, macam-macam. Di desa gambut juga ada pertanian sawah, perkebunan ada juga nelayan tambak dan lain-lain,” ucap Deputi III BRG yang juga Dosen di Universitas Pancasila ini.

Meski begitu dia bersyukur, banyak desa yang menjadi binaan BRG beberapa diantaranya telah berubah statusnya dari yang awalnya desa sangat tertinggal dan tertinggal menjadi desa berkembang dan maju. Bahkan beberapa desa telah berstatus desa mandiri.[Red/Mulhat]

Bagikan: