By | 1 September 2018

patron.id – Serang, Palang Merah Indonesia (PMI) Kecamatan Taktakan menggelar pelatihan siaga bencana berbasis masyarakat atau disebut Sibat, yang diikuti sekitar 30 peserta terdiri dari 13 kelurahan yang ada di Kecamatan Taktakan, Sabtu (1/9), di Aula Kantor Kecamatan Taktakan.

Perwakilan PMI Kota Serang, Abdul Hamid menjelaskan pelatihan siaga bencana berbasis masyarakat ini dilakukan atas dasar keperhatinan lembaga PMI Pusat terhadap masyarakat yang belakangan ini kurang peduli terhadap bencana. Maksud dari berbasis masyarakat, kata Hamid, adalah melibatkan masyarakat setempat yang dianggap rawan bencana.

“Sibat ini bisa memberikan warning atau peringatan, memberikan pemahaman terkait bencana kepada warga setempat. Minimal persiapan masyarakat itu ada untuk menangani jika bencana itu datang,” ujar Kepala Markas PMI Kota Serang, saat di temui di lokasi pelatihan.

Ia mengungkapkan hasil mapping mitigasi PMI Kota Serang menyebutkan bahwa wilayah Kota Serang cenderung mengalami bencana alam seperti longsor, puting beliung, kebakaran, banjir, kekeringan. “Ini hasil mapping yang kita pelajari. Kebanjiran dan kekeringan cenderung dialami Kecamatan Kasemen. Sementara Kecamatan Taktakan lebih cenderung longsor karena daerah ini terdaparlt perbukitan, seperti di TPA Cilowong. Tapi kita tidak mengharapkan bencana itu terjadi, tidak,” ungkapnya.

Sebelumnya pihaknya sudah lebih dulu melakukan pelatihan sibat di Kecamatan Cipocok Jaya, dan Minggu besok (2/9), pihaknya akan kembali menggelar pelatihan sibat di Kecamatan Curug serta disusul Kecamatan Walantaka, Kecamatan Serang dan Kecamatan Kasemen. “Empat kecamatan itu yang belum dan bulan ini semua harus sudah dilakukan pelatihan supaya lebih mudah memobilisasi (koordinasi) di tiap kecamatan soal sibat ini,” ujarnya.

Baca Juga:  Petani: Berita Tentang Penutupan Saluran Air Itu Bohong

Melalui pelatihan ini, ia berharap masyarakat Taktakan bisa memahami terkait bencana, baik faktor alam dan non alam maupun faktor manusia, serta cara penanganannya. “Mereka diarahkan tentang jenis-jenis bencana, pertolongan pertama (P3K), bantuan hidup dasar (bantuan pernapasan) dan simulasi/ praktek penanganan bencana,” katanya.

Sementara itu Kepala Kecamatan Taktakan Umrohmat Hidayat mengatakan pihaknya sangat mendukung dan mengapresiasi atas diselenggarakannya pelatihan sibat tersebut. Hal itu diakui Umrohmat lantaran memang wilayah Taktakan cukup rawan terhadap bencana alam, terutama bencana longsor.

“Tekstur wilayah Taktakan memang perbukitan. Ini sangat rawan sekali bencana longsor dan erosi. Dari erosi ini bisa mengakibatkan banjir. Oleh karena itu saya (pemerintah kecamatan) menghimbau agar masyarakat untuk menjaga kelestarian alam. Apabila tumbuhan itu ditembang satu per satu maka lima batang harus ditanam kembali,” ujarnya

Ia juga berharap para peserta pelatihan mampu memahami materi yang disampaikan oleh narasumber agar bisa diterapkan di lapangan jika suatu saat terjadi bencana. “Semoga para narasumber mampu memberikan arahannya dengan semaksimal mungkin sehingga bisa diterapkan oleh para peserta pelatihan sibat ini,” katanya.

Salah satu peserta pelatihan sibat, Ahmad Basaroh asal Kelurahan Panggung Jati, mengungkapkan dirinya siap terjun ke masyarakat terkait penanganan korban bencana jika suatu saat ada intruksi dari PMI Kecamatan Taktakan. “Sekarang saya lebih paham apa aja jenis-jenis bencana itu, dan bagaimana cara menangani korban bencana alam,” ujarnya.

Hadir pula Ketua PMI Kecamatan Taktakan Holid, Kepala Puskesmas Kecamatan Taktakan Titi Suhayati, serta jajaran pengurus PMI Kecamatan Taktakan.

Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *