By | 11 Mei 2020

patron.id – Pandeglang, Situasi pandemi Covid-19 yang dirasakan Negara Indonesia memberikan dampak yang besar kepada warganya.

Dampak tersebut terasa oleh mahasiswa Universitas Matlaul Anwar (UNMA) Banten, mereka merasa terbebani oleh sistem pendidikan ditengah situasi pandemi Covid-19.

Tidak tanggung  sejumlah mahasiswa melaksanakan aksi unjuk rasa di depan gedung Rektorat UNMA Banten lantaran menurut mereka kebijakan kampus tidak berpihak kepada mahasiswanya.

Bentuk protes tersebut dijelaskan oleh Sugiono dalah satu mahasiswa Fakultas Hukum Syariah (FHS) bahwa kampus tidak memperdulikan nasib mahasiswanya ditengah situasi pandemi Covid-19.

“Kebijakan pemerintah menerapkan social distancing, PSBB, bahkan lockdown tentunya berdampak pada situasi ekonomi dan semua kebijakan yang di terapkan secara langsung di rasakan oleh khalayak ramai. Di satu sisi Negara gagap menangani pandemi ini dengan realitanya, banyak masyarakat yang mati-matian mencari sesuap nasi untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, semua sumber ekonomi menurun karena aktivitas ekonomi sangat terganggu ditambah lagi kebijakan kampus yang sama sekali tidak memikirkan kondisi mahasiswa dan keluarganya.” Ungkapnya Pada, Senin (11/05/2020).

Ia juga menambahkan bahwa pihak kampus tidak pernah mengajak mahasiswa dalam mengambil setiap keputusan kebijakan yang diberlakukan

“Mereka hanya bisa menerbitkan kebijakan, sama sekali tidak pernah mengajak mahasiswa untuk membuat kebijakan bersama untuk menjawab persoalan keluhan mahasiswa tentang biaya perkuliahan, hal ini menjadi krusial mesti di sikapi oleh jajaran rektorat kampus unma banten semua lini kehidupan berdampak, termasuk kehidupan kampus.” Tambahnya

Baca Juga:  Kades Keluhkan Perangai Kontraktor dan Konsultan Pembanguan Irigasi Ciujung

Aksi unjuk rasa tersebut berlangsung kurang lebih selama dua jam dengan membawa poster tulisan tuntutan disertai pembakaran ban di depan gedung Rektorat.

Pada saat yang bersamaan Maulana Yusuf Amrullah kerab disebut Yusuf salah satu mahasiswa Fakultas Ekonomi Bisnis (FEB) yang terlibat dalam unjuk rasa tesebut mengaskan kepada pihak kampus agar lebih mengerti terkait situasi yang terjadi.

“Seharusnya kampus memahami keadaan perekonomian mahasiswa dan orangtuanya. kuliah online atau daring yang membebankan karena mau tidak mau mahasiswa di tuntut harus merogoh kantong untuk membeli quota internet walaupun pada kenyataannya tidak efektif karena ketidak mampuan kampus dalam menyediakan kepastian akademik. Komersialisasi pendidikan masih tumbuh subur di kampus, hal itu sangat bertentangan dengan UUD 1945 karena orientasi pendidikan yang tertuang dalam konstitusi itu adalah mencerminkan kehidupan bangsa.” Pungkasnya

Dengan menamai diri sebagai Gerakan Mahasiswa Menggugat (GERAMM) sejumlah mahasiswa tersebut memberikan beberapa poin tuntutan kepada pihak Rektorat yaitu.

1.Perbaikan Sistem KOMA yang dinilai tidak efektif.
2.Tidak ada pembatasan minimal pembayaran pada semester genap atau semester berjalan.
3.Digratiskannya pembayaran untuk semester ganjil. [Red/Baihaqi]

Bagikan: