By | 14 Agustus 2020

patron.id – Serang, Pelaksanaan rapid tes bagi guru SD dan SMP yang diintrusikan oleh Dinas Pendidikan Kebudayaan Kota Serang hanya diikuti sebanyak 94 orang guru SD maupun SMP, dari target 200 orang per hari ini, di kantor Satuan Pendidikan Non Formal Sanggar Kegiatan Belajar (SPNF-SKB), Jl. Raya Petir Km 04 Kelurahan Cipocok Jaya Kecamatan Cipocok Jaya, pada Jum’at (14/8/2020).

saat kegiatan berlangsung

Kepala Bidang Pencegahan Penanggulangan Penyakit Dinas Kesehatan Kota Serang Ratu Ani Nuraeni mengatakan, berdasarkan data kehadiran pihaknya telah mencatat sebanyak 94 orang baik kepala sekolah dan guru SD maupun SMP ikut rapid tes dan hasilnya non reaktif.

“Kami sudah merapid tes sebanyak 94 orang, baik kepala sekolah dan guru dari SD maupun SMP. Intruksi Dindik sebanyak 200 orang untuk hari ini. Tetapi ternyata setelah jam 11.30 WIB hanya 94 orang yang datang dan hasilnya non reaktif semua,” kata Ratu Ani Nuraeni, kepada patron.id di lokasi rapid tes, Jum’at (14/8/2020).

Ia menjelaskan, informasi yang didapat terkait alasan ketidakhadiran sebagian kepala sekolah dan guru SD maupun SMP lantaran takut rapid tes. Hingga pukul 11.30 WIB pihaknya hanya merapid tes sebanyak 94 orang, baik kepala sekolah dan guru SD maupun SMP.

Baca Juga:  Sulfitri Lestari terpilih pada Konfercab ke VI IPPNU Cabang Kota Serang

“Tadi saya mendengar dari rekan-rekan yang datang mengatakan takut untuk dirapid. Bingung juga kita kalau gurunya takut (dirapid tes) gimana muridnya,” terang dia.

Rapid tes ini dilakukan dalam rangka mematuhi protokol kesehatan pencegahan penyebaran Covid-19 jelang persiapan menjalani proses belajar mengajar tatap muka di sekolah yang akan dibuka pada 18 Agustus mendatang.

“Jadi kami menghimbau kepada guru yang akan melakukan KBM, mohon agar dapat menjamin kesehatan dirinya juga,” harapnya.

Sementara salah satu guru sekolah dasar negeri Kota Serang yang enggan disebutkan namanya saat ditemui usai melakukan rapid tes menanggapi perihal sebagian guru tidak datang saat rapid tes.

“Iya sih bener. Selain itu, khawatir tertular dari petugas medis, kan ga ganti sarung tangan,” katanya.

Bahkan ia mendukung rapid tes bagi guru ini untuk dilakukan dengan alasan demi keamanan kesehatan bersama, terutama pihak guru.

“Sebenarnya ini bagus, kan buat keamanan bersama. Daripada nanti pas ngajar tertular gimana kan,” ungkapnya. [Red/Roy]

Bagikan: